[Kabar] Pengamat: CPEC Tidak Menguntungkan Pakistan

[Kabar] Pengamat: CPEC Tidak Menguntungkan Pakistan

Muslimah News, INTERNASIONAL — New Gwadar International Airport merupakan bagian dari proyek China-Pakistan Economic Corridor (CPEC), kumpulan proyek infrastruktur dan jalur dagang milik Cina yang dikenal sebagai Jalur Sutra atau One Belt One Road (OBOR), salah satu aspek dari Belt and Road Initiative (BRI) yang diluncurkan pada 2013 oleh Presiden Xi Jinping.

Meski diyakini akan meningkatkan konektivitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi, banyak penduduk di Gwadar, Pakistan, menentang pembangunan bandara baru. Suku mayoritas Baloch menggalang protes besar-besaran terhadap apa yang mereka anggap sebagai eksploitasi sumber daya alam yang tidak adil.

Mengkritisi perihal itu, pengamat politik internasional Hasbi Aswar, Ph.D. mengatakan, proyek CPEC menyebabkan kericuhan di Gwadar, juga tidak menguntungkan Pakistan.

“Masyarakat Balochistan merasa tidak mendapatkan “kue” (baca: keuntungan) dari investasi Cina ke Pakistan melalui proyek CPEC,” tuturnya dalam diskusi “Cina atau Negara Lain yang Berinvestasi Terlibat Genosida Etnis Baloch”, Sabtu (31-8-2024) di YouTube Khilafah News.

Hasbi menjelaskan, aksi demonstrasi maupun aksi militer Suku Baloch dilakukan karena tidak mendapatkan keuntungan dari investasi proyek CPEC yang jumlahnya lebih dari 50 miliar dolar.

“Sampai sekarang mereka menjadi masyarakat miskin di Pakistan di Provinsi Balochistan. Di sana adalah wilayah yang memiliki kandungan mineral yang sangat kaya, ada emas, perak, tembaga, minyak bumi, dan gas alam. Namun, itu tidak berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat Balochistan,” jelasnya.

Masyarakat Balochistan, katanya, menganggap wilayah mereka hanya dijadikan objek eksploitasi Cina, dari situ muncul kelompok separatis dan kelompok ini berjuang secara militer. “Yang sebelumnya berjuang dengan demontrasi atau nonmiliter sekarang dengan militer karena ingin memberikan tekanan-tekanan kepada pemerintah,” ujarnya.

Pada saat yang sama, ungkapnya, Cina justru membantu Pakistan untuk menangkap kelompok separatis tersebut. “Mereka melakukan demonstrasi lagi agar warga yang ditangkap, dibebaskan. [Namun], justru mereka malah ditangkap juga. Mereka menganggap pemerintah telah melanggar hak-hak demonstran. Cina pasti terlibat karena Cina punya investasi besar di sana,” urainya.

Tujuan CPEC

Tujuan hakiki proyek CPEC yang dilakukan Cina di Pakistan, menurut Hasbi adalah menggantikan peran Laut Cina Selatan (LCS) sebagai jalur perdagangan.

“Saya kira gampang dipahami, kita tahu Laut Cina Selatan sampai sekarang masih memanas. Padahal di sana jalur utama ekspor impor selama ini. Kapal-kapal minyak berlayar menuju Cina. Kita tahu Laut Cina Selatan kan selalu diganggu Amerika Serikat atau negara-negara yang berbatasan dengan LCS yang tidak setuju dengan sikap agresif Cina di kawasan itu,” bebernya.

Ia menuturkan, Cina mengeklaim LCS adalah wilayahnya, tetapi itu tumpang tindih dengan negara-negara di Asia Tenggara, seperti Filipina, Vietnam, atau Indonesia. “Itu menjadi jalan Amerika Serikat untuk memberikan tekanan kepada Cina. Akhirnya, Cina menganggap LCS tidak aman dan butuh membangun jalur perdagangan di kawasan lain. Dari situ Cina memiliki alternatif Jalur Sutra, salah satunya di Pakistan yang sekarang sedang bergejolak,” ulasnya.

Ketika Cina berhasil membangun jalur transportasi minyak dan barang dari Xinjiang ke Pakistan melalui CPEC, jelasnya, lalu disalurkan ke negara-negara Timur Tengah, termasuk Eropa, itu akan sangat menguntungkan Cina.

“Cina tidak perlu bergantung lagi dengan LCS. Dari situ Cina begitu bergantung dengan Pakistan lewat darat, lebih murah, dekat, dan aman. Selama Pakistan secara politik dekat dan tunduk pada Cina, maka kepentingan Cina juga aman,” paparnya.

Tantangannya, kata Hasbi adalah menghadapi warga Balochistan yang mulai sadar akan tipu daya Cina di sana sehingga mereka bergejolak. “Saya kira substansi utama atau misi utama Cina dengan proyek CPEC adalah untuk mencari jalur alternatif selain Laut Cina Selatan,” ucapnya.

Semua negara-negara yang diincar investasi Cina, ujar Hasbi, prinsipnya sama dengan negara-negara Barat melakukan investasi di negara-negara tersebut, yakni penjajahan. “Jadi, kerangka ideologisnya sama, yakni kerangka kapitalisme yang selalu mementingkan kepentingan diri sendiri. Tanpa peduli dengan nasib negara-negara lain,” tegasnya.

Menurutnya, Pakistan itu juga sama dengan negara-negara yang menjadi incaran Cina memuluskan proyek OBOR Cina. “Cina melakukan investasi memberikan utang kepada Pakistan tetapi itu tidak menguntungkan Pakistan secara signifikan karena korupsi, atau kemiskinan itu tetap terjadi,” jelasnya.

Terkait masalah di Pakistan, solusi yang disampaikan Hasbi adalah Pakistan bisa membangun perekonomiannya secara mandiri tanpa bergantung pada negara-negara lain, apalagi menjadi objek kepentingan politik negara lain.

“Nah, inilah saya kira penyakit dari negeri-negeri muslim atau negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, tidak punya kemandirian berpikir sehingga akhirnya bergantung kepada negara-negara yang lain dalam banyak hal, khususnya dalam bidang ekonomi yang membuat pada akhirnya juga tergantung secara politik,” tandasnya. [MNews/IK]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *