Muslimah News, NAFSIYAH — Kita selalu dibenturkan dengan berbagai istilah yang kerap membingungkan. Istilah moderat dan radikal begitu familier kita dengar, sementara kita dijauhkan dengan kata takwa lewat berbagai kebijakan hukum positif negara yang bertentangan dengan aturan-Nya.
Padahal, Allah Swt. memerintahkan kita untuk menjadi hamba-Nya yang bertakwa. “Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya dan jangan kalian mati kecuali dalam keadaan Islam.” (QS Ali Imran: 102)
Menyedihkan, jika seorang muslim begitu akrab dengan ajaran Barat, sementara ia tinggalkan ajaran Islam. Ia mendukung penuh demokrasi, hingga rela mati karenanya, tetapi menjauhi syariat-Nya.
Padahal, Allah menjanjikan kemenangan bagi mereka yang taat pada-Nya, “Barang siapa yang menaati Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka itulah orang-orang yang menang.” (QS An-Nur: 52)
Allah pula yang selalu menjadi penolong bagi mereka yang bertakwa, “Dan Allah adalah wali orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-Jatsiyah: 19)
Begitu gamblang dan terang penjelasan Allah dalam berbagai firman-Nya bahwa kaum muslim hanya diperintahkan untuk bertakwa, bukan menjadi moderat ataupun radikal. Penyematan istilah moderat dan radikal oleh Barat beserta “anak buahnya” kepada kaum muslim merupakan pertanda upaya mereka untuk merusak persatuan umat Islam.
Lalu, apa definisi takwa? Takwa adalah melaksanakan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya. Perkara yang mengantarkan kepada ketakwaan adalah berpegang teguh pada petunjuk Rasulullah saw. dan mengamalkan aktivitas Rasul, yakni berdakwah menyeru pada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran.
Firman Allah Swt., “Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-An’am: 153)
Dengan demikian, semestinya tidak mudah bagi kita untuk “termakan” dengan istilah-istilah yang datangnya bukan dari Islam. Apalagi berbagai istilah yang dilekatkan pada kaum muslim untuk merusak Islam serta umat-Nya.
Banyak sekali busur panah yang dilemparkan ke tengah umat untuk menghalangi kebangkitan Islam. Oleh karena itu, hendaknya manusia yang berakal senantiasa memikirkan serta memperhatikan peringatan dan seruan Allah dan Rasul-Nya.
Rasul bersabda, “Manusia akan ditanya tentang umurnya dihabiskan untuk apa, dan dari masa mudanya dihabiskan untuk apa?” (HR Tirmidzi)
Apakah usia dan masa mudanya dihabiskan untuk menjadi penolong Islam atau malah penghalang kebangkitan Islam? Dihabiskan untuk membela musuh-musuh Islam atau menjadi pejuang Islam? Dihabiskan untuk menghalangi dakwah atau melindungi dakwah?
Manusia yang berakal akan memahami bahwa dirinya tengah berjalan untuk menyongsong perkara besar, yakni kehidupan akhirat yang harus dipersiapkan sebaik mungkin. Menjadi muslim bertakwa adalah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Tanpa ketakwaan, kita tidak akan ditolong Allah Swt. dan neraka akan menjadi tempat kembali.
Wajib bagi setiap muslim untuk taat kepada Allah karena saat ia berpeluh dalam ketaatan ia akan mendapatkan kenyamanan jiwa di akhirat. Pelajari dan pahami ajaran Islam dengan cara mengkajinya, bukan malah fobia dan menaruh kecurigaan pada ajaran Islam meski ia seorang muslim. Wallahualam. [MNews/Rndy]

