Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Pada jam satu malam, hari Selasa tanggal 20 Jumadilawal 857 H—bertepatan dengan 29 Mei 1453 M—serangan besar-besaran mulai dilancarkan ke Kota Konstantinopel setelah dikeluarkan komando kepada semua mujahid yang mengumandangkan takbir. Mereka bersegera menuju ke arah tembok-tembok kota. Penduduk Konstantinopel dilanda ketakutan yang sangat. Mereka segera memukul lonceng-lonceng gereja dan banyak penganut Kristen yang berlindung ke dalam gereja.
Strategi Serangan Berlapis
Serangan itu terus dilancarkan dari arah darat dan laut dalam waktu yang bersamaan, sesuai dengan rencana detail yang telah dipersiapkan dengan matang. Para mujahid itu berkeinginan untuk mati syahid. Oleh karena itu, mereka bergerak maju dengan segala keberanian.
Serangan yang dilancarkan pasukan Turki Utsmani dibagi ke dalam beberapa titik yang berbeda-beda. Akan tetapi, serangan yang besar dipusatkan untuk menggempur wilayah Lembah Likus di bawah komando Sultan Muhammad al-Fatih. Gelombang pertama dari kubu Turki Utsmani menghujani tembok-tembok kota dengan tembakan meriam dan anak panah. Mereka berusaha melumpuhkan pergerakan pasukan Byzantium yang mempertahankan benteng. Dengan kenekatan pasukan Byzantium dan keberanian pasukan Turki Utsmani maka berjatuhanlah korban dari kedua belah pihak dalam jumlah yang besar.
Tatkala gelombang pasukan pertama mulai kepayahan melakukan serangan, Sultan Muhammad al-Fatih telah menyiapkan pasukan yang lain. Ia menarik pasukan pertama dan menurunkan pasukan kedua. Sementara itu, orang-orang Byzantium yang mempertahankan kota telah ditimpa kepayahan. Gelombang pasukan kedua berhasil sampai ke tembok-tembok kota. Mereka mendirikan ratusan tangga untuk bisa masuk ke kota. Pasukan Byzantium mengerahkan seluruh kemampuan yang tersisa untuk menahan usaha-usaha pemanjatan tembok itu.
Setelah berlalu dua jam melakukan usaha tersebut, Sultan Muhammad al-Fatih mengeluarkan komando kepada pasukan gelombang kedua untuk beristirahat sejenak, setelah mereka mampu membuat pihak musuh kelabakan di wilayah tersebut. Pada saat yang sama, Sultan mengeluarkan komando kepada pasukan ketiga untuk melakukan serangan ke tembok-tembok kota di wilayah yang sama. Gelombang serangan ketiga itu sangat mengejutkan orang-orang Byzantium yang mempertahankan diri. Mereka mengira bahwa serangan telah reda. Mereka benar-benar dilanda keletihan, pada saat para mujahid justru sangat bersemangat untuk mengambil bagian mereka dalam pertempuran.
Pertempuran Laut
Pertempuran yang hebat juga terjadi di wilayah lautan. Armada laut Turki Utsmani mampu memorak-porandakan kekuatan angkatan laut Byzantium yang mempertahankan diri dan menyibukkan mereka di berbagai medan pertempuran pada saat yang bersamaan. Seiring munculnya cahaya pagi, pasukan Turki Utsmani mampu menentukan tempat-tempat musuh secara lebih detail. Mereka bersegera melipatgandakan serangan ke pihak musuh. Kaum muslim sangat bersemangat dan berkeinginan untuk merampungkan serangan.
Walaupun demikian, Sultan Muhammad al-Fatih mengeluarkan komando kepada para tentara untuk mundur, guna mengistirahatkan meriam-meriam mereka agar bisa dioperasikan kembali. Meriam-meriam itu telah digunakan untuk menghujani benteng-benteng pertahanan musuh dengan peluru-peluru dan telah membuat musuh kelelahan setelah bertempur sepanjang malam.
Kemenangan Makin Dekat
Setelah meriam-meriam Turki Utsmani berhenti, datanglah pasukan Janissaries yang dipimpin langsung oleh Sultan Muhammad al-Fatih. Mereka menggempur pertahanan lawan dengan keberanian yang tinggi dan semangat berkorban yang tiada bandingannya. Tiga puluh di antara mereka mampu memanjat tembok-tembok kota hingga mengejutkan pihak musuh. Walaupun ada beberapa dari mereka yang mati syahid, termasuk komandan mereka, tetapi mereka berhasil membuka jalan untuk memasuki kota melalui gerbang Topkapi dan mampu menancapkan panji-panji Utsmani di atas tembok kota. Hal ini menambah semangat pasukan yang lain untuk memasuki kota dan melemahkan kekuatan musuh.
Pada saat yang sama, panglima perang pasukan Byzantiun yang bernama Giovanni Gustinian terluka parah sehingga memaksanya untuk mundur dan lari dari medan perang. Larinya Panglima Gustinian dari medan tempur sangat memengaruhi semangat juang pasukan Byzantium yang mempertahankan diri. Akhirnya, Kaisar Konstantin menggantikan posisi panglimanya dan mengerahkan segenap usaha untuk meneguhkan pasukannya yang mulai putus asa dalam melakukan perlawanan guna mempertahankan Kota Konstantinopel.
Pasukan Turki Utsmani terus melanjutkan serangan ke kota dari sisi yang lain hingga mereka mampu menerobos tembok kota, menguasai beberapa menara, dan menumpas pasukan penjaga. Akhirnya pasukan Turki Utsmani berhasil menembus Kota Konstantinopel melalui pintu gerbang Edirne dan mereka mengibarkan bendera Daulah Utsmaniyah di menara-menara benteng. Melihat hal itu, Kaisar Konstantin melepaskan pakaiannya sehingga tidak dikenali. Dia turun dari atas kudanya dan berperang hingga dia terbunuh di medan perang. [MNews/Rgl]
Sumber: Dr. Ali Muhammad ash-Shallabi, Sejarah Daulah Utsmaniyah, Faktor-Faktor Kebangkitan dan Sebab-Sebab Keruntuhannya, Ummul Qura

Alhamdulillah