[Nafsiyah] Musibah yang Layak Ditangisi

[Nafsiyah] Musibah yang Layak Ditangisi

Penulis: Ustaz Iwan Januar

Muslimah News, NAFSIYAH — Tidak ada satu orang pun di antara kita yang pernah berharap ditimpa musibah. Musibah itu kemalangan dan kemalangan itu menyakitkan. Perasaan dan pikiran terkuras saat musibah datang dalam kehidupan kita. Misalnya, musibah berupa kehilangan harta, baik harta yang hilang dicuri, apalagi jika dirampok. Aduh, rasanya dada ini kena tonjok sambil ingin bersenandung pilu, “Sakitnya tuh di sini. …”

Masih untung jika harta sekadar ludes. Bagaimana jika kemudian kita dikejar-kejar orang karena masih harus menanggung utang? Perasaan sedih itu bisa berubah menjadi ketegangan dan kengerian. Ada beberapa kawan saya yang mengalami drama kehidupan nan tragis seperti itu. Sudahlah uang mereka raib kena tipu investasi bodong, masih harus menanggung beban utang orang lain. Satu per satu barang yang ada di rumah habis disita orang. Bukan hanya itu, harga diri juga jatuh.

Oleh karenanya, andaikan bisa memilih, kita tidak pernah ingin menjadi orang yang ditimpa kemalangan. Akan tetapi, hidup memang seperti kata pepatah klasik, “Untung tidak dapat diraih, malang tidak dapat ditolak.” Bukan kita yang menentukan nasib ini akan malang atau beruntung esok hari. Allah al-Jabbar jualah yang menentukan semuanya.

Allah Swt. berfirman, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah: 155).

Dalam ayat selanjutnya, Allah Swt. memerintahkan setiap muslim untuk mengucapkan kalimat istirja, innalillahi wa inna ilaihi rajiun, manakala musibah datang. Sebuah pengakuan dan keridaan bahwa memang semua yang kita miliki adalah milik-Nya dan akan kembali kepada-Nya.

Namun, tanpa bermaksud menyelisihi ayat tersebut, sahabat Umar bin Khaththab ra. justru bertahmid setiap tertimpa musibah. Beliau punya pandangan lain tentang musibah. Umar bin Khaththab ra. justru memandang musibah sebagai “kenikmatan” yang Allah Swt. limpahkan kepadanya. Beliau berkata, ”Tidaklah musibah menimpaku melainkan aku melihatnya Allah telah memberikan kepadaku tiga kenikmatan. Pertama, bahwasanya musibah itu tidak menimpa agamaku. Kedua, musibah itu tidaklah lebih besar dari yang Allah bisa berikan darinya. Ketiga, tidaklah Allah Swt. menimpakan musibah, melainkan sebagai kafarat atas keburukan-keburukan amal kita.”

Masyaallah! Inilah kedalaman dan kejernihan pandangan seorang sahabat besar. Umar al-Faruq tetap selalu bersyukur kepada Allah Swt., sekalipun musibah menimpanya. Beliau tetap yakin bahwa di balik musibah selalu ada hikmah. Musibah yang datang tidaklah lebih besar dari apa yang Allah bisa timpakan kepada kita. Selain itu, musibah adalah cara Allah Swt. membersihkan setiap dosa-dosa yang kita kerjakan, andai kita bersabar menerimanya.

Pandangan Umar yang begitu penting bagi kita adalah “karena musibah itu tidak menimpa agamaku”. Lagi-lagi kita patut mengucapkan masyaallah atas kecemerlangan pandangan Umar. Beliau tidak tertipu dengan hilangnya kenikmatan dunia. Bagi beliau, rusaknya dan hilangnya kenikmatan dunia tidak seberapa dibandingkan jika keimanan dan ketaatan pada Allah yang rusak, apalagi hilang.

Kita sering mengeluh dan bersedih saat usaha kita mandek, apalagi kolaps. Kita sering mengurut dada manakala belum mencapai posisi “kebebasan finansial”. Kita juga sering masygul saat tidak mampu menyekolahkan anak di sekolah Islam unggulan. Kita menangisi dunia milik kita yang hilang, baik itu keluarga, aset, kekayaan, jabatan, popularitas, dsb.

Mengenaskan, masih banyak orang yang bisa tertawa saat meninggalkan kewajiban salat. Masih ada orang yang bisa tersenyum saat istri dan anak gadisnya tidak menutup aurat manakala keluar rumah. Orang masih bisa merasa bahagia, padahal ia memakan riba. Banyak orang pun masih bisa merasa senang ketika keluar dari jemaah dakwah, lalu tidak melakukan apa-apa untuk menegakkan risalah Rabb-nya.

Semestinya kita bersedih manakala kehilangan kesempatan salat berjemaah di masjid atau saat usia bertambah, tetapi tidak kunjung menguasai bahasa Arab atau membaca Al-Qur’an dengan benar. Kita juga seharusnya merana manakala keluarga kita, tetangga, dan lingkungan tidak kunjung hidup dalam naungan syariat Islam. Kita juga semestinya berduka saat negeri ini dipimpin oleh para pemimpin yang menyesatkan umat dari jalan Islam. Rasulullah saw. bersabda, “Yang aku paling takuti dari kalian adalah (berkuasanya) para pemimpin yang menyesatkan.” (HR Ahmad). Kita bersedih karena itu semua adalah musibah terbesar, musibah yang sebenarnya.

Musibah kehilangan harta dan jiwa datang dari Allah Swt. secara tiba-tiba. Siapa pun tidak akan sanggup menolaknya. Bersabar dalam kondisi itu mendatangkan pahala dan menghapuskan dosa. Akan tetapi, musibah yang menimpa agama datang dari kelalaian, nafsu tamak pada dunia, dan kejahilan kita. Semua adalah pilihan kita sendiri.

Sungguh, selama ini kita salah menempatkan makna musibah dalam kehidupan. Kerusakan agama dianggap biasa, tetapi kehilangan dunia ditangisi sejadi-jadinya. Astagfirullah! [MNews/YG]

Sumber: iwanjanuar[dot]com

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *