Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.
Muslimah News, TAPAK TILAS — Isuramukyou, demikianlah bangsa Jepang menyebut ajaran Islam. Agama ini termasuk terlambat masuk ke wilayah Jepang karena saat di bawah Keshogunan Tokugawa, pemerintah Jepang sempat menerapkan kebijakan isolasi demi mencegah misi Kristenisasi yang sedang dijalankan bangsa Eropa menyertai agenda penjajahan mereka di Asia.
Kebijakan isolasi ini berjalan selama kurang lebih 250 tahun, mulai pertengahan abad ke-17 hingga awal abad ke-19. Saat itu kontak dengan Islam terjadi secara sembunyi-sembunyi atau individual hingga keshogunan ini digantikan oleh Kekaisaran Meiji (1868—1912).
Persentuhan dengan Islam
Saat Jepang mengalami perubahan politik (dikenal sebagai Restorasi Meiji), tepatnya sekira 1875, terjadilah penerjemahan literatur-literatur mengenai Islam yang berasal dari Eropa atau Cina. Perkenalan dengan Islam ini makin kuat pada 1887 ketika Kaisar Jepang saat itu, Mutsuhito, mulai melakukan kontak diplomatik dengan Khilafah Utsmani dikarenakan alasan politik menghadapi tekanan Barat.
Saat itu ia mengutus Pangeran Komatsu untuk mengunjungi Khalifah Sultan Abdul Hamid II di Konstantinopel. Kunjungan ini kemudian disusul dengan korespondensi Mutsuhito kepada Sultan Abdul Hamid II yang berisi harapan dan tujuannya menjalin hubungan dengan Kekhalifahan Islam.
Dalam suratnya ia menulis, “Anda dan saya sama-sama berada di bawah tekanan negara-negara kuat. Oleh karena itu, kita harus mendorong bangsa kita untuk belajar satu sama lain. Oleh karena itu, kami ingin Anda mengirimkan beberapa duta besar untuk menjelaskan kepada orang-orang kami siapa Anda dan apa agama Anda.”
Surat ini kemudian dijawab oleh sang Khalifah dengan mengirimkan sebuah kapal Turki bernama Ertoghrul pada 1890. Kapal ini berisi lebih dari 500 orang prajurit dan lulusan akademi laut yang dipimpin oleh Laksamana Osman Pasha. Kapal ini berangkat dari Istanbul melalui Terusan Suez, Jeddah, Aden, Bombay, Kolombo, Singapura, dan Hongkong hingga sampai di Jepang.
Namun, ketika tiga bulan kemudian kapal ini hendak kembali, kapal ini kemudian karam di perairan Jepang, tepatnya di perairan Prefektur Wakayama pada 16 September 1890. Dikabarkan lebih dari 500 penumpangnya tewas dan hanya 60 orang yang dinyatakan selamat dan sempat mendapat pertolongan dari orang-orang Jepang yang tinggal di daerah sana.
Peristiwa ini menjadi salah satu jalan pembuka para penduduk Jepang untuk mengenal Islam secara langsung. Hanya saja, tidak serta merta ajaran Islam berkembang dengan pesat. Hal ini dikarenakan bangsa Jepang sejak lama dikenal kurang peduli dengan agama, meski secara tradisional mereka menganut ajaran Shinto yang bercampur dengan ajaran Buddha, bahkan menjadikannya sebagai agama negara.
Mualaf Pertama
Adalah Shotaro Noda, seorang jurnalis Jiji Shinpô, salah satu surat kabar bergengsi di Jepang yang disebut-sebut menjadi mualaf pertama. Diceritakan, saat terjadi peristiwa tragis tersebut, ia intens meliput berita dan menggalang donasi untuk menolong keluarga korban atas nama media tempatnya bekerja.
Aktivitasnya inilah yang membuat kaisar menunjuknya menjadi jurnalis resmi kenegaraan yang diikutsertakan dalam rombongan dua kapal perang Jepang berisi bantuan negara yang dikirim ke Istanbul tanggal 6 Oktober 1890. Peran dan sepak terjangnya yang cukup sentral dalam aksi kemanusiaan ini menarik perhatian Khalifah Abdul Hamid II. Bahkan beliau memintanya secara khusus untuk tinggal di Istanbul dan mengajarkan bahasa Jepang kepada para pejabatnya.
Noda pun menerima tawaran itu. Ia tinggal di Jepang selama dua tahun dan berinteraksi secara intens dengan orang-orang Islam. Ia tertarik masuk Islam hingga menjadi mualaf pertama melalui perkenalannya dengan Abdullah Guillaume. Setelah masuk Islam, ia pun berganti nama menjadi Abdul Haleem Noda dan tidak lama kemudian ia kembali ke Jepang.
Keislaman Noda kemudian disusul oleh Torajiro Yamada, seorang pebisnis sekaligus diplomat Jepang yang juga datang ke Istanbul untuk menyampaikan donasi pada 1893. Ia pun sempat tinggal lama di sana dan berinteraksi dengan orang-orang Islam. Setelah mualaf, ia pun berganti nama menjadi Abdil Khaleel Yamada.
Namun demikian, ada pula catatan yang menyebut bahwa mualaf pertama adalah Bumpachiro Ariga dan Mitsutaro Yamaoka. Namun, dari catatan yang tertulis di japanesestation[dot]com, keduanya masuk Islam masing-masing pada 1900. Keislaman Bumpachiro terjadi saat ia pergi berbisnis ke Bombay dan tertarik dengan kegiatan keislaman di Masjid Bombay yang megah. Sementara itu, Mitsutaro masuk Islam setelah berkenalan dengan ulama Rusia bernama Abdul Rashid Ibrahim di India.
Adapun komunitas muslim pertama di Jepang mulai terbentuk ketika terjadi Peristiwa Revolusi Bolsevik pada 1917 di Rusia. Peristiwa ini menyebabkan ratusan bangsa muslim orang Turki, Uzbek, Tadzik, Kirghiz, Kazak, dan pengungsi muslim Tatar dari Asia Tengah dan Rusia sendiri eksodus, termasuk ke wilayah Jepang. Para pengungsi ini mendapat perlindungan dari penguasa Jepang dan diperbolehkan tinggal di berbagai kota seperti Tokyo, Kobe, Nagoya, dan sebagainya.
Secara alamiah terjadilah interaksi antara komunitas muslim ini dengan bangsa Jepang hingga menarik beberapa orang Jepang untuk masuk ke dalam agama Islam. Terkait komunitas ini, pemerintah Turki pun pernah berencana membangun masjid di sana, tetapi entah kenapa rencana itu batal. Baru pada 1905 berdiri musala yang diperuntukkan bagi para tahanan muslim yang tertawan pada perang Rusia-Jepang.
Masa Depan Islam
Pada era setelahnya, perkembangan Islam berjalan tetap lamban. Namun, era 1980-an disebut-sebut sebagai masa keemasan perkembangan Islam. Hal ini terkait migrasi yang intens terjadi. Banyak warga muslim dari berbagai negeri datang ke Jepang untuk bekerja dan belajar. Mereka membentuk komunitas, pusat-pusat kegiatan, termasuk masjid, dan berasimilasi dengan penduduk asli.
Dari sinilah terjadi perkawinan, dakwah, dan pembelajaran yang menjadi jalan hidayah. Makin banyak bangsa Jepang yang masuk ke dalam agama Islam. Beberapa di antara mereka secara serius mempelajari Islam, memperdalam bahasa Arab dan Al-Qur’an hingga menjadi tokoh-tokoh agama yang berperan dalam mengenalkan ajaran Islam lebih dalam. Di antaranya adalah Khawla Nakata Kaori, yang lahir pada 26 Januari 1961 di Shizuoka, Jepang dan masuk Islam pada Januari 1991 di Prancis.
Ia adalah murid dari ulama-ulama terkemuka di Mesir seperti Syekh Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi, Syekh Muhammad Said Ramadan al-Buthi, Syekh Yusuf al-Qaradhawi, dan Syekh Ali Jum’ah. Salah satu karyanya adalah menerjemahkan Tafsir al-Jalalain ke dalam bahasa Jepang.
Saat ini, Jepang disebut-sebut sebagai rumah bagi lebih dari 200.000 muslim. Masih terbilang kecil memang. Namun, tren perkembangan jumlah muslim di Jepang menunjukkan peningkatan signifikan dari tahun ke tahun. Hal ini terkonfirmasi salah satunya oleh studi yang dilakukan Tanada dan rekan. Studi ini menunjukkan pada Maret 2021 sudah ada 113 masjid di seluruh Jepang, padahal pada 1999, jumlahnya masih 15 buah.
Banyak yang percaya, Islam akan jadi pilihan bangsa Jepang pada masa depan sekiranya mereka mau menggunakan akal. Hal ini niscaya jika melihat begitu marak berbagai problem sosial yang melanda masyarakat Jepang.
Tidak dimungkiri, di tengah kecanggihan teknologi dan budaya disiplin tinggi, ternyata bangsa ini dihadapkan pada problem kekosongan spiritualitas yang demikian parah. Kehidupan yang kering akibat menguatnya individualisme dan hedonisme, maraknya keputusasaan ditandai maraknya fenomena bunuh diri, munculnya fenomena piramida terbalik yang mengancam punahnya bangsa, dan lain-lain menjadi potret buram wajah bangsa jepang saat ini.
Terbukti, agama tradisional yang mereka anut, jelas-jelas tidak bisa memenuhi semua kekosongan tersebut. Bahkan tidak bisa menjawab persoalan kehidupan yang nyatanya bukan melulu soal disiplin, kerapian, dan kejujuran. Betapa banyak fitrah kemanusiaan yang tidak terjamah hingga hidup mereka kian tidak jelas arah.
Mereka benar-benar butuh Islam sebagai tuntunan kehidupan dan tugas kita adalah mendakwahkannya kepada mereka dengan dakwah yang mencerdaskan. Namun, dakwah yang paling efektif adalah dakwah yang diemban oleh negara Khilafah. Negara inilah yang kelak akan memastikan bangsa Jepang khususnya, dan negeri-negeri kufur lainnya menerima seruan Islam hingga kelak Islam benar-benar mewujud sebagai rahmat bagi seluruh alam. [MNews/Rgl]
*) Diolah ulang dari berbagai sumber tulisan.
