Penulis: Chusnatul Jannah
Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Kisah ini tentang dua bersaudara yang mengabdikan hidup mereka hanya untuk Allah dan Rasul-Nya. Orang pertama menjadi pelayan setia Rasulullah ﷺ, yakni Anas bin Malik. Orang kedua menjadi ujung tombak pasukan dengan keberaniannya yang sekokoh karang. Namanya adalah Bara’ bin Malik.
Bara’ memiliki catatan kehidupan yang luar biasa. Ia adalah sang pemberani. Motto hidupnya, “Allah dan Surga”. Siapa saja yang melihatnya bertempur di medan peperangan, sungguh akan mendapati sosoknya mencintai kematian dalam membela agama Allah Taala. Cita-cita Bara’ hanya satu, yaitu mati syahid di medan perang membela Islam yang benar. Oleh karena itu, ia tidak pernah melewatkan satu perang pun.
Bara’ bin Malik merupakan salah satu sahabat Nabi ﷺ yang juga pahlawan perang. Meski bertubuh kurus dan berkulit legam, tetapi ia mampu menewaskan ratusan orang musyrik dalam perang tanding satu lawan satu.
Terlibat dalam Perang Yamamah
Sepeninggal Rasulullah ﷺ dan dimulainya kepemimpinan Abu Bakar ash-Shiddiq, banyak di antara kaum muslim mulai meninggalkan Islam dan sebagian dari mereka memilih murtad. Pada masa kepemimpinan Khalifah Abu Bakar, beliau gencar memberantas nabi-nabi palsu, salah satunya ialah Musailamah al-Kadzdzab.
Kepahlawanan Bara’ dalam Perang Yamamah adalah bagian dari karakternya. Bara’ bergabung dalam Perang Yamamah, yakni perang melawan nabi palsu bernama Musailamah al-Kadzdzab. Saat itu, komandan pasukan dipimpin oleh Khalid bin Walid. Ketika panglima perang Khalid bin Walid melihat pertempuran kian berkobar, ia berpaling kepada Bara’ seraya berseru, “Wahai Bara’, kerahkan kaum Anshar!”
Saat itu juga Bara’ berteriak memanggil kaumnya. “Wahai kaum Anshar, sekarang tidak ada lagi Madinah bagi kalian. Ingatlah Allah, ingatlah surga!” Setelah berkata demikian, ia maju melesak ke arah kaum musyrik, diikuti prajurit Anshar. Pedangnya berkelebat, menebas musuh-musuh Allah yang datang mendekat.
Tidak lama berselang, pasukan Islam terus merangsek maju menyongsong kemenangan. Di pihak lain, pasukan musuh berjatuhan, lari tunggang-langgang, dan merasakan kekalahan. Mereka berlarian mundur dan berlindung di sebuah benteng berdinding tebal yang dikenal dalam sejarah dengan nama Kebun Maut. Di sinilah Musailamah dan pasukannya mengunci gerbang benteng rapat-rapat dari dalam.
Pertempuran mulai berhenti. Semangat pasukan Islam mulai menurun dan menampakkan kelengahannya karena merasa sudah menang. Sementara, Musailamah dan pasukannya masih bersembunyi di balik benteng. Menyadari hal itu, Bara’ berteriak lantang, “Wahai saudara-saudaraku, angkat dan lemparkan aku ke dalam benteng.” Setelah itu, Bara’ memanjat dinding dan melompat ke dalam benteng. Kemudian ia membuka gerbang benteng sehingga pasukan muslim berhamburan masuk. Lebih dari 20.000 orang murtad tewas, termasuk pimpinan mereka, yakni Musailamah Al-Kadzdzab. Selama mengikuti perang Yamamah, Bara’ mendapatkan lebih dari 80 luka pedang dan dirawat selama 30 hari. Khalid bin Walid sendiri yang merawatnya.
Syahid dalam Perang Tustar
Bara’ bin Malik sebenarnya sangat merindukan mati syahid. Namun, hal itu tidak ia dapatkan saat perang Yamamah. Demi meraih cita-cita tertingginya, ia selalu menceburkan diri ke medan peperangan. Ia sangat rindu berjumpa Rasulullah ﷺ.
Ketika Perang Tustar melawan Persia berlangsung, Bara’ bin Malik turut serta dalam peperangan tersebut. Kala itu, pasukan musuh terdesak dan berlindung di sebuah benteng kokoh dan kuat. Temboknya tinggi besar. Pasukan muslim mengepung benteng tersebut dengan ketat.
Dalam kondisi ini, pasukan Persia menggunakan berbagai cara keji untuk menaklukkan pasukan muslim. Mereka menggunakan pengait-pengait yang diikat dengan rantai panas. Pengait-pengait itu dilemparkan dari dalam benteng dan mengenai sebagian pasukan muslim.
Banyak pasukan Islam yang tersengat pengait panas tersebut. Di antara mereka adalah Anas bin Malik, saudara Bara’ bin Malik. Melihat hal itu, Bara’ segera menghampiri saudaranya yang mulai terseret ke arah dinding benteng. Bara’ memegang rantai panas dan sekuat tenaga menebasnya dengan pedang, hingga akhirnya rantai itu putus. Anas pun bisa diselamatkan. Namun, telapak tangan Bara’ mengelupas akibat daging dalam tangannya hangus terbakar, yang tersisa hanyalah kerangkanya saja. Sungguh suatu pengorbanan yang luar biasa.
Dalam Perang Tustar inilah Bara’ menjemput kematiannya dengan indah, yaitu gugur sebagai syuhada. Doa dan cita-citanya terkabul. Di antara deretan para syuhada perang, wajah Bara’ tersenyum merekah bak sinar pagi mentari yang cerah. Ia bersama syuhada lainnya telah menyelesaikan perjalanan panjang hidup mereka dengan indah dan luar biasa. Hidup mulia dan mati syahid.
Sungguh, siapa pun yang meneguhkan diri dalam medan perjuangan dakwah pasti menginginkan apa yang menjadi cita-cita tertinggi Bara’. Pasti mereka ingin hidup dalam kemuliaan Islam atau mati di jalan Allah dengan penuh kebanggaan dalam memperjuangkan tegaknya kehidupan Islam. [MNews/YG]
*Disarikan dari berbagai sumber
