[Nafsiyah] Allah Menciptakan Kedudukan Manusia Bertingkat-tingkat

[Nafsiyah] Allah Menciptakan Kedudukan Manusia Bertingkat-tingkat

Muslimah News, NAFSIYAH — Sesungguhnya Allah Swt. menciptakan manusia dalam kedudukan yang bertingkat-tingkat dan berbeda-beda levelnya. Firman Allah Swt., “(Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (QS Ali Imran: 163).

Kemudian, Allah Swt. juga berfirman, “Dia melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan(nya). Sesungguhnya, Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS Asy-Syura: 12).

Ketika menciptakan manusia, Allah Swt. memberikan perbedaan kedudukan kepada hamba-hamba-Nya. Hal ini merupakan salah satu bentuk keadilan Allah Taala. Semua ketetapan Allah memiliki hikmah. Allah Swt. berfirman, “Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dialah Yang Maha Bijaksana, lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-An’am: 18).

Hikmah Bertingkat-tingkat Kedudukan Manusia

Pertama, agar manusia menyadari bahwa di akhirat mereka tidak sama tingkatannya. Firman Allah Swt., “Perhatikanlah bagaimana Kami melebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya.” (QS Al-Isra: 21).

Ketika dibangkitkan, manusia akan memiliki fisik yang berbeda. Bahkan, di surga dan neraka pun memiliki tingkatan-tingkatan. Firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka.” (QS An-Nisa: 145).

Sabda Nabi saw., “Surga itu ada 100 tingkatan yang dipersiapkan Allah untuk para mujahid di jalan Allah. Jarak antara dua surga yang berdekatan adalah sejauh jarak langit dan bumi. Jika kalian meminta kepada Allah, mintalah surga Firdaus. Surga ini yang paling tengah dan paling tinggi. Di atasnya terdapat ‘Arsy milik Ar-Rahman, darinya pula (Firdaus) bercabang-cabang sungai-sungai surga.” (HR Bukhari).

Kedua, melatih manusia bersyukur dan bersabar.

Sabda Nabi saw., “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati, kecuali pada seorang mukmin. Jika  mendapatkan nikmat (kesenangan), ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan musibah (kesusahan), ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR Muslim).

Allah membuat tingkatan pada manusia tidak sama agar mereka senantiasa bersabar dan bersyukur. Sabar atas segala kekurangan dan kesusahannya, serta bersyukur atas kelebihan dan kenikmatan yang ia dapatkan. Allah memberikan kesempitan pada seorang muslim, agar ia ingat dan kembali kepada-Nya. Kemudian, ia bermunajat, berdoa, dan bertawakal kepada Allah Taala.

Ketiga, saling melengkapi dan memberi manfaat.

Firman-Nya, “Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain.” (QS Az-Zukhruf: 32).

Allah menjadikan sebagian orang lebih kaya, lebih pintar, atau lebih kuat dari yang lain agar saling melengkapi dan memberi manfaat.

Keempat, sebagai bentuk keadilan Allah Swt. agar manusia menjadi baik dan benar.

Allah Taala berfirman, “Jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi. Akan tetapi, Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya, Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya, lagi Maha Melihat.” (QS Asy-Syura: 27).

Ada sebagian manusia yang menjadi tidak beriman dan lupa bersyukur ketika ia diberikan kekayaan, kesehatan, atau kelebihan lainnya. Ketika Allah menjadikannya kaya, ia lalai beribadah, jauh dari ketaatan, dan sibuk dengan urusan dunianya. Namun, ada juga sebagian orang yang kaya, makin taat pada-Nya dan suka bersedekah.

Sebagaimana sabda Nabi saw., “Sesungguhnya di antara hamba-Ku, keimanan barulah menjadi baik jika Allah memberikan kekayaan kepadanya. Seandainya Allah membuat ia miskin, tentu ia akan kufur. Di antara hamba-Ku, keimanan barulah baik jika Allah memberikan kemiskinan kepadanya. Seandainya Allah membuatnya kaya, tentu ia akan kufur.” (HR Abu Nu’aim).

Kelima, kaya dan miskin adalah ujian.

Firman-Nya, “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS Al-Anbiya: 35).

Kaya juga bisa menjadikan seseorang istidraj (jebakan nikmat yang disegerakan di dunia). Sabda Nabi saw., “Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal ia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj dari Allah.” (HR Ahmad).

Miskin bisa pula menjadi hukuman atas dosa yang diperbuat. Ini sebagaiaman firman Allah Taala, “Musibah apa saja yang menimpa kamu, itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS Asy-Syura: 30).

Ketika kita telah mengetahui hikmah dari bertingkat-tingkatnya kedudukan manusia, semoga kita sebagai hamba-Nya berada di tingkat terbaik. Kedudukan kita seharusnya bukan di bawah, melainkan di atas, dekat dengan para salaf saleh. Besar harapan kita untuk berada di antara orang-orang yang diridai dan dicintai-Nya, yakni bersama pada Nabi dan Rasul di surga Firdaus.

Tentu kita tidak akan melewatkan kesempatan emas ini, berada dalam bulan mulia yang membuka akses kepada siapa pun untuk masuk ke surga-Nya. Sesungguhnya, Allah membuka selebar-lebarnya pintu surga-Nya. Untuk menaikkan kedudukan di hadapan Allah Swt., harus dengan upaya dan pengorbanan. Beramal dengan sebaik-baik amal karena-Nya, menolong agama-Nya (dakwah), dan memenuhi segala ketaatan kepada-Nya.

Semua hal itu tidak bisa dilakukan dengan bermalas-malasan. Tidak pula diraih dengan diam tanpa banyak berbuat. Coba periksa  di mana kedudukanmu di hadapan-Nya? Apakah berada di tingkat bawah atau atas? Ingatlah, setiap kita memiliki kedudukan yang berbeda-beda. Wallahualam bissawab. [MNews/Rindy-YG]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *