[Sur’atul Badihah] Fakta Riil Terkait Sur’atul Badihah

[Sur’atul Badihah] Fakta Riil Terkait Sur’atul Badihah

Penulis: Syekh Taqiyuddin an-Nabhani

Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Yang ada secara riil pada manusia, baik pada individu-individu, kelompok-kelompok, maupun masyarakat-masyarakat adalah berpikir tentang segala sesuatu dan berpikir lambat dalam segala sesuatu dan setiap hal yang ada pada manusia memerlukan pendalaman dan pemikiran, juga memerlukan pembahasan dan pengujian. Inilah yang ada secara riil dan hal ini bertentangan dengan lahan untuk mengadakan sur’atul badihah karena hal itu menjadikan manusia menjauh sedikit demi sedikit dari berpikir cepat sehingga menjadi wajib baginya untuk berpikir lambat dengan mendalami dan menguji. Oleh karena itu, kita harus keluar dari realitas ini menuju berpikir cepat sampai akhirnya terwujud sur’atul badihah.

Selama belum keluar dari berpikir lambat, tidak mungkin keluar untuk mewujudkan sur’atul badihah dan untuk menciptakan lahan sur’atul badihah. Pengobatan harus ditujukan pada sur’atul badihah, bukan kepada zatnya atau kepada usaha untuk mewujudkannya, tetapi kepada lahan yang akan menumbuhkannya dan mengadakan ide tentangnya atau mempersiapkannya.

Ada perbedaan antara sur’atul badihah dengan sumber sur’atul badihah, maka suatu masa atau jemaah atau masyarakat seperti masa Umar bin Khaththab, jemaahnya yang hidup bersamanya, atau masyarakat yang berjalan sesuai dengan Islam, ketika itu sur’atul badihah ada dengan kuat pada individu-individu, kelompok-kelompok, dan pada masyarakat, tetapi lahir dari Umar bin Khaththab atau lahir dari salah seorang dari kelompoknya bukan sesuatu yang penting. Yang penting adalah bahwa sur’atul badihah itu ada dan kita menginginkannya ada pada masa sekarang, pada jamaatulmuslimin, atau pada masyarakat yang berjalan sesuai dengan Islam.

Adapun terwujudnya sur’atul badihah di kalangan pemimpin atau pada masyarakat umum, ini merupakan sesuatu yang lain, tetapi sur’atul badihah juga akan dihasilkan oleh orang-orang yang cerdas dan sedikit sekali dihasilkan oleh orang-orang yang bodoh.

Topik pembahasan ini seluruhnya merupakan ungkapan tentang solusi atas fakta, bukan mengadakan sesuatu dari tiada. Fakta riil yang ada adalah bahwa lahan untuk sur’atul badihah tidak ada sehingga harus diciptakan,  atau menciptakan lahan ini dahulu sebelum mengadakan yang lainnya.

Oleh karena itu kita harus memahami fakta dan memahami apa yang harus dilakukan oleh manusia, kemudian setelah itu pengobatan terhadap fakta. Sedangkan fakta yang ada adalah bahwa adanya berpikir lambat dan adanya ide penanaman dan pengujian cukup untuk mematikan ide sur’atul badihah. Oleh karenanya, kita harus mematikan ide pendalaman dan pengujian secara umum sampai terwujud ide sur’atul badihah lahan dan punah. Turabah (lahan) dan munakh (iklim) adalah yang dimaksud pertama kali sebelum yang lainnya. Kemudian setelah itu mengadakan sur’atul badihah .

Adapun apa yang telah kami jelaskan sepenuhnya tentang pengadaan sur’atul badihah, meskipun berupa pemikiran-pemikiran untuk mewujudkannya, tetapi bagaimanapun juga harus ada lahan untuk sur’atul badihah dan iklim untuknya. Hal ini berkaitan dengan iklim dan lahan, bagaimanapun macam pemikiran yang ada, tetapi iklim dan lahan merupakan asal. Iklim dan lahan berkaitan dengan jiwa dan pandangan terhadap sesuatu. Lahan adalah keadaan jiwa yang siap untuk diobati dan mengetahui bahaya penyakit. Sedangkan iklim adalah terwujudnya opini umum dalam masalah.

Topik pembicaraan yang asasnya adalah pandangan kepada segala sesuatu dalam kehidupan, jika pandangan ini adalah bahwa segala sesuatu membutuhkan penyelidikan, pendalaman, dan pengujian, sur’atul badihah yaitu kecepatan berpikir tidak mungkin akan terwujud dalam keadaan apa pun. [MNews/Rgl]

Sumber artikel: Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, Sur’atul Badihah (Berpikir Cepat dan Produktif)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *