Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Setelah merancang strategi dan menyiapkan pasukan darat dan laut maka Sultan Muhammad al-Fatih mulai mengerahkan pasukan Turki Utsmani untuk melakukan penyerangan dan pengepungan Kota Konstantinopel.
“Apabila bulan-bulan haram telah berlalu, bunuhlah (dalam peperangan) orang-orang musyrik di mana saja kamu temui! Tangkaplah dan kepunglah mereka serta awasilah di setiap tempat pengintaian! Jika mereka bertobat dan melaksanakan salat serta menunaikan zakat, berilah mereka kebebasan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS At-Taubah: 5).
Musuh Berusaha mempertahankan Kota
Pasukan Byzantium mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk mempertahankan Kota Konstantinopel. Mereka menyebarkan pasukannya di atas pagar-pagar benteng dan memperkokoh pertahanan dengan sangat ketat. Di sisi lain, pasukan Turki Utsmani memperkuat pengepungan terhadap kota. Sejak hari pertama pengepungan, pertempuran kecil selalu terjadi antara pasukan Turki Utsmani yang menyerang dan orang-orang Byzantium yang mempertahankan diri. Pintu-pintu syahid terbuka lebar dan banyak dari pasukan Utsmani yang memperoleh kemuliaan sebagai syahid. Khususnya orang-orang yang diberi tugas untuk mendekati pintu-pintu benteng.
Peluru-peluru meriam milik Turki Utsmani diluncurkan dari berbagai arah dengan sasaran tembok-tembok kota. Dentuman suara menggelegar dari peluru-peluru meriam itu menimbulkan rasa takut yang mencekam dalam dada orang-orang Byzantium. Meriam-meriam itu mampu menghancurkan beberapa tembok di sekitar kota, tetapi tentara Byzantium dapat membangunnya kembali dengan cepat dan memperbaharuinya.
Eropa Membantu Konstantinopel
Bala bantuan dari Eropa terus berdatangan, tidak bernah berhenti. Kerajaan Genoa mengirimkan bantuan ke Konstantinopel berupa empat kapal perang yang dipimpin oleh panglima berkebangsaan Genoa yang bernama Gustinian dan disertai tujuh ratus prajurit sukarela dari negar-negara Eropa. Kapal-kapal Genoa itu dapat sampai ke ibu kota Byzantium, Konstantinopel setelah melakaukan kontak senjata dengan armada laut Turki Utsmani yang mengepung kota. Tibanya kapal-kapal Genoa ini memberikan pengaruh yang kuat dalam mengangkat morel pasukan Byzantium. Panglimanya yang bernama Gustinian ditetapkan sebagai panglima seluruh pasukan yang mempertahankan kota.
Angkatan laut Turki utsmani beruasaha melewati rantai besar yang mengontrol pintu masuk Selat Tanduk emas dan berupaya agar kapal-kapal milik kaum muslim dapat memasukinya. Pasukan Islam menyerang kapal-kapal Eropa dan Byzantium dengan panah, tetapi upaya pertama pasukan Turki Utsmani ini menuai kegagalan. Kegagalan angkatan laut Islam ini menambah semangat juang pasukan musuh yang sedang mempertahankan kota.
Para pendeta dan pemuka agama Kristen tidak tinggal diam. Mereka berkeliling di jalanan-jalanan kota dan tempat-tempat pertahanan. Mereka memberikan motivasi kepada orang-orang Kristen agar tetap teguh dan bertahan. Mereka mendorong rakyat agar pergi ke geraja-gereja untuk berdoa. Kaisar Konstantin sendiri berulang-ulang pergi ke Gereja Aya Sophia untuk tujuan ini.
Gigih untuk Menaklukkan Kota Konstantinopel
Pasukan Turki Utsmani bertempur dengan semangat yang menggelora dan berperang mati-matian. Mereka dipimpin langsung oleh Sultan Muhammad al-Fatih. Pada saat yang sama, tentara Byzantium mempertahankan kotanya dengan gigih di bawah komando Kaisar Konstantin.
Kaisar Byzantium berusaha menyelamatkan kota dan rakyatnya dengan segenap upaya yang dapat ia lakukan. Kaisar mengajukan berbagai macam tawaran kepada Sultan Muhammad al-Fatih agar mau menarik pasukannya dan melepaskan pengepungan. Sebagai gantinya, Kaisar Konstantin akan menyetorkan sejumlah harta kepada sultan dan menyatakan loyalitas kepadanya dan tawaran-tawaran lainnya. Akan tetapi, Sultan Muhammad al-Fatih menolak semua tawaran itu dan ia meminta kepada kaisar agar menyerahkan kota Konstantinopel. Jika Kota Konstantinopel diserahkan, Sultan Muhammad al-Fatih berjanji tidak akan menyakiti satu orang penduduk pun dan tidak akan merusak satu gereja pun.
Isi surat yang dikirimkan oleh Sultan Muhammad al-Fatih kepada Kaisar Konstantin adalah sebagai berikut, “Hendaklah kaisar kalian menyerahkan Kota Konstantinopel kepadaku. Aku bersumpah bahwa pasukanku tidak akan menyakiti seorang penduduk pun, baik jiwa, harta maupun kehormatannya. Barang siapa ingin tetap tinggal di kota ini, maka hiduplah di dalamnya dengan aman dan damai. Dan barang siapa yang ingin pergi meninggalkan kota ini, maka pergilah ke mana pun yang ia kehendaki dengan aman dan damai pula.”
Pengepungan Konstantinopel masih menyisakan kekurangan karena Selat Tanduk Emas masih di tangan angkatan laut Byzantium. Meski demikian, serangan pasukan Turki Utsmani tetap berlangsung tanpa berkurang sedikit pun. Pasukan menunjukkan keberanian yang tinggi dan pengorbanan yang luar biasa. Mereka maju menerjang kematian tanpa rasa takut sedikit pun di tengah gempuran meriam. [MNews/Rgl]
Sumber: Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi, Sejarah Daulah Utsmaniyah, Faktor-Faktor Kebangkitan dan Sebab-Sebab Keruntuhannya, Ummul Qura

Alhamdulillah