Miss Universe Arab Saudi, Kendali Barat pada Dunia Islam?

Miss Universe Arab Saudi, Kendali Barat pada Dunia Islam?

Penulis: Kanti Rahmillah, M.Si.

Muslimah News, OPINI — “Kiamat sudah dekat,” begitulah respons warganet saat Rumy Alqahtani, seorang model dan influencer asal Arab Saudi, mengepos fotonya di medsos dengan berpakaian tanpa lengan dan memegang bendera negaranya yang bertuliskan kalimat tauhid. Tahun ini, pertama kalinya Arab Saudi mengikuti ajang Miss Universe 2024 di Meksiko. (Viva, 27-3-2024)

Rumy adalah potret wanita modern Arab Saudi. Sebelum ia didapuk menjadi wakil Arab Saudi untuk Miss Universe, ia telah mengikuti sejumlah kontes kecantikan di seluruh dunia. Seperti Miss Planet International di Kamboja, Miss Arab World di Mesir, Miss Arab Unity di Aljazair, Miss Timur Tengah dan Afrika Utara di Irak, hingga Miss Women International di Roma dan Miss Europe Continental di Naples.

Wanita kelahiran Riyadh berusia 27 tahun tersebut merasa bangga bisa menjadi duta budaya untuk Arab Saudi. Baginya, tujuan utama mengikuti kompetisi global adalah untuk meningkatkan kesadaran tentang budaya asli Arab Saudi dan warganya. Ia senang karena bisa belajar tentang banyak budaya di dunia, ia pun akan mentransfer budaya dan warisan asli Saudi kepada dunia, dengan menggunakan pakaian tradisional Najd.

Dalam wawancaranya dengan Arab News, tantangan terbesar Rumy adalah representasi pribadinya mengenai gambaran gadis Arab dan penampilannya. Diketahui, Arab merupakan negara representasi agama Islam yang mengatur para perempuannya untuk menutup auratnya, sedangkan Rumy kerap menggunakan pakaian terbuka pada setiap kontestasinya.

Apakah Rumy sedang ingin memperkenalkan budaya Arab jahiliah? Apa sebenarnya tujuan Arab Saudi mengikuti kontes Miss Universe? Mengapa Arab Saudi di bawah kepemimpinan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) kian moderat dan liberal? Bagaimana agar Arab Saudi kembali ke pangkuan Islam kafah?

Moderasi ala MBS

Di bawah kepemimpinan MBS, Arab Saudi makin memperlihatkan penyimpangannya terhadap ajaran Islam. Bagaimana tidak? Setelah MBS memegang kendali Arab Saudi secara de facto pada 2017 lalu, secara bertahap ia menerapkan aturan yang makin moderat dan liberal. Misalnya, membolehkan adanya bioskop-bioskop yang mempertontonkan adegan vulgar, hingga propaganda kebebasan.

Yang tidak kalah kontroversialnya, MBS juga menghadirkan pure beach, sebuah pantai terbuka yang membolehkan para perempuannya mengenakan bikini, bercampur baur, saling berpelukan antara laki-laki dan perempuan nonmahram, berpesta, berjoget, menikmati musik, dll. Terbaru, tahun ini MBS akan membuka toko minuman beralkohol di Riyadh.

Semua itu dilakukan oleh MBS sebagai upayanya dalam mewujudkan visi Saudi 2030, yaitu menjadi jantung dunia Arab dan Islam, serta menetapkan kekuatan investasi global. Sebelumnya, perekonomian Arab Saudi sangat bergantung dengan minyak sebagai sumber pemasukan negaranya. Kini, Arab tengah mendiversifikasi perekonomiannya pada sumber lainnya, seperti bisnis dan pariwisata.

Sejak dikembangkannya bisnis pariwisata, MBS merasa perlu untuk mencitra ulang Arab Saudi menjadi negara yang lebih moderat. Semua demi investasi dan menarik turis asing, khususnya bagi perempuan Arab Saudi yang dikenal sangat bergantung pada laki-laki.

Kini, Arab membutuhkan perempuan untuk menghimpun pundi-pundi perekonomian. Alhasil, dihapuslah aturan larangan mengemudi bagi perempuan yang dianggap sebagai penghambat utama mobilitas perempuan di sana. MBS juga mencabut larangan perempuan pergi jauh tanpa wali, hingga mengikutsertakan perempuan dalam angkatan bersenjata negara.

Bahkan polisi syariah yang bertugas memberantas kemaksiatan, kewenangannya kian dilucuti. Begitu pun aturan berbusana bagi perempuan yang kini dilonggarkan. Sekarang, bisa dengan mudah kita mendapati perempuan-perempuan Arab yang hilir mudik tanpa menutup auratnya. Astagfirullah!

Begitu pun dengan pengiriman Rumy sebagai kontestan Miss Universe wakil Arab Saudi tidak bisa dilepaskan dari motif ekonomi dan liberalisasi. Rumy akan memperkenalkan budaya Arab Saudi yang kian “ramah pada Barat” alias moderat. Pakaian-pakaian Rumy yang sangat terbuka sejatinya sedang menyampaikan pada dunia bahwa Arab Saudi kini adalah negara moderat yang sangat terbuka dengan kebudayaan asing.

Namun demikian, saat MBS melonggarkan aturan terkait perempuan, di sisi lainnya, penculikan dan pembunuhan terhadap aktivis perempuan dan laki-laki kian brutal. Bahkan, banyak ulama ditangkap pada era MBS hanya karena mengkritik kebijakan Kerajaan. Misalnya, Saleh al-Tabib yang ditangkap karena berceramah mengkritik kebijakan Kerajaan yang mengizinkan perempuan dan laki-laki berkumpul di acara-acara publik semisal festival musik hingga pertandingan olahraga.

Inilah Arab Saudi hari ini. Sungguh kejahiliahan telah kembali diupayakan. MBS sedang berupaya mengubur syariat atas nama investasi. Islam moderat yang tengah dipropagandakan sebagai Islam yang toleran dan kekinian, sejatinya merupakan propaganda Barat untuk menghancurkan Islam.

Buktinya, istilah “moderasi beragama” diperkenalkan pertama kali oleh Lembaga think tank Amerika, RAND Corporation, dalam dokumennya berjudul “Building Moderate Muslim Networks” (Membangun Jaringan Islam Moderat) pada 2007. Artinya, istilah moderasi beragama bukan berasal dari para ulama.

Mengembalikan Arab pada Islam Kafah

Lantas, bagaimana agar Arab Saudi kembali menerapkan syariat Islam secara kafah? Pertama, umat harus memahami bahwa yang terjadi hari ini di Arab Saudi bukanlah suatu kebetulan. Sekularisasi dan liberalisasi sudah lama diupayakan oleh musuh-musuh Allah di negeri-negeri muslim, tidak terkecuali Arab Sudi.

Terlebih, Arab Saudi adalah tanah kelahiran Nabi Muhammad saw. dan merupakan kiblatnya umat muslim dunia. Wajar jika Barat berharap moderasi Arab Saudi mampu menjadi kiblat umat muslim dunia. Inilah yang menjadikan Barat makin gigih merusak Arab Saudi. Oleh karenanya, penolakan terhadap paham sekuler dan liberal harus makin kencang diperjuangkan.

Kedua, umat pun harus memahami apa yang terjadi hari ini di negeri-negeri muslim juga negeri Arab, karena umat muslim menginggalkan agamanya dalam kehidupan bernegarannya. Lihatlah hari ini Indonesia dan Arab Saudi tidak jauh berbeda. Minuman beralkohol yang telah jelas keharamannya malah diperbolehkan atas nama investasi. Begitu pun pakaian muslimah, atas nama liberalisasi, muslimah dibolehkan memilih pakaian sesuai dengan kehendaknya.

Ketiga, moderasi beragama lahir dari Barat yang memiliki pemahaman sekuler. Siapa pun yang menyetujui konsep tersebut berarti telah sepakat agamanya harus disesuaikan dengan pemahaman kufur Barat. Artinya lagi, moderasi beragama sama dengan ‘beragama sesuai keinginan Barat’. Tentu ini sangat berbahaya bagi akidah umat Islam.

Keempat, Barat amat sangat mengetahui bahwa kebangkitan Islam harus terus dibendung dengan mengampanyekan islamofobia. Bahwa Islam kafah adalah Islam konservatif yang mengekang perempuan dan ketinggalan zaman sehingga Islam kafah harus dijauhkan dari umat dan moderasi beragama harus makin ditancapkan.

Namun demikian, Barat pun paham bahwa upaya membendung kebangkitan Islam sangatlah tidak mungkin. Yang bisa mereka lakukan hanyalah terus menunda kebangkitan Islam dengan menyebarkan pemahaman kufur di tengah umat.

Khatimah

Keterlibatan Arab Saudi di ajang Miss Universe sejatinya makin memperlihatkan kelemahan umat Islam. Umat muslim tengah dikendalikan oleh peradaban Barat yang rusak dan merusak. Peradaban ini rusak karena berlandaskan sekularisme dan merusak karena telah merusak fitrah manusia. Khususnya pada perempuan, lihatlah betapa ajang Miss Universe telah mengeksploitasi perempuan dan menghancurkan martabatnya. Oleh karenanya, kaum muslim harus terus berupaya dalam memperjuangkan kebangkitan Islam agar kemuliaan kaum perempuan dapat tercapai kembali. [MNews/Gz]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *