Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Sultan Muhammad al-Fatih mengerahkan segenap kemampuan dan potensi yang dia dan Daulah Utsmaniyah miliki agar mampu menaklukkan Kota Konstantinopel. Mulai dari mempelajari geostrategis Konstantinopel, berbagai bentuk pertahanan mereka, juga para sekutunya yang berpeluang besar akan membantu Konstantinopel saat penyerangan oleh pasukan Turki Utsmani.
Menguasai Geostrategis Konstantinopel
Kota Konstantinopel dikelilingi oleh laut dari tiga sisi, yaitu Selat Bosporus, Laut Marmara, dan Tanduk Emas dengan rantai yang besar sekali yang dipasang di tengah perairannya sehingga mampu menghalangi masuknya kapal-kapal dari luar. Ada dua baris tembok yang mengelilingi Kota Konstantinopel dari sisi daratan, mulai dari Pantai Marmara sampai ke Tanduk Emas, di sela-selanya ada Sungai Likus.
Di antara dua tembok itu ada ruang terbuka yang lebarnya mencapai enam puluh meter dan tembok bagian dalam tingginya mencapai 40 kaki. Di atas pagar itu terdapat menara-menara yang tingginya mencapai 60 kaki. Adapun tembok bagian luar tingginya mencapai 25 kaki dan di atasnya ada menara-menara yang tersebar di sepanjang tembok itu yang dipenuhi dengan para tentara.
Benteng Pertahanan Kontantinopel
Dari sisi militer, Konstantinopel merupakan kota terbaik di dunia dalam hal pertahanannya karena adanya tembok-tembok dan benteng-benteng itu, di samping benteng-benteng alami yang dimilikinya. Dengan demikian, sangat sulit untuk menembusnya. Oleh karena itulah, puluhan percobaan militer untuk menerobos kota itu mengalami kesulitan. Di antaranya adalah lima belas kali usaha pasukan Islam yang telah dilakukan pada masa lalu.
Sultan Muhammad al-Fatih mempersiapkan serangan ke Konstantinopel secara saksama dengan mengetahui informasi-informasi tentang kondisi kotanya, serta menyiapkan peta-peta yang dibutuhkan untuk mengepungnya. Sultan turun langsung dalam mengawasi situasi dan kondisi kota tersebut sehingga ia dapat menyaksikan pertahanan-pertahanan Konstantinopel yang kokoh dan tembok-temboknya.
Membangun Jalan Militer Turki Utsmani
Sultan Muhammad al-Fatih melakukan pembangunan jalan antara Edirne dan Konstantinopel untuk memudahkan mengangkut meriam sultan ke Konstantinopel. Meriam-meriam itu dapat dipindahkan dari Edirne sampai ke dekat Konstantinopel dalam kurun waktu selama dua bulan dengan penjagaan ketat pasukan Utsmani. Akhirnya, pasukan Turki Utsmani yang dipimpin langsung oleh Sultan Muhammad al-Fatih sampai di dekat Konstantinopel pada hari Kamis, 26 Rabiulawal 857 H.
Seruan Jihad yang Menggelora
Sultan Muhammad al-Fatih mengumpulkan pasukannya dan jumlah mereka mencapai 250.000 tentara. Dia berkhotbah di hadapan mereka dengan seruan yang menggelora. Dia menganjurkan mereka untuk melakukan jihad dan meminta kemenangan atau mati syahid. Dalam khotbahnya, sultan mengingatkan tentang pengorbanan dan keikhlasan dalam berperang saat bertemu musuh. Dia membacakan kepada mereka ayat-ayat Al-Qur’an yang menyeru tentang hal tersebut.
Dia juga menyebutkan kepada mereka hadis-hadis Rasulullah saw. yang memberikan kabar gembira tentang penaklukan Kota Konstantinopel, keutamaan pasukan yang menaklukkannya, serta penaklukan kota itu merupakan kehormatan bagi Islam dan kaum muslim. Pasukan Utsmani segera menyambut pidato sultan dengan tahlil, takbir, dan doa.
Pasukan Terbaik
Para ulama tersebar di tengah-tengah pasukan dalam keadaan siap berjihad bersama mereka. Hal ini memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan semangat dan mental pasukan sehingga masing-masing tentara menunggu peperangan dengan tidak sabar lagi untuk menunaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya.
Pada hari berikutnya, Sultan Muhammad al-Fatih membagi-bagi pasukan darat di depan tembok-tembok luar Konstantinopel. Pasukan itu dibagi menjadi tiga bagian utama yang membuat pengepungan darat itu menjadi kokoh di segenap penjuru. Sultan juga mempersiapkan pasukan cadangan di belakang pasukan utama itu. Dia menempatkan meriam-meriam di depan tembok-tembok Konstantinopel dan yang paling penting adalah meriam sultan yang dipasang di depan pintu Topkapi Palace.
Di samping itu, Sultan Muhammad al-Fatih juga menempatkan beberapa unit pengintai untuk melakukan pengawasan di tempat-tempat yang tinggi dan dekat dengan Kota Konstantinopel. Pada waktu yang sama, armada laut Turki Utsmani tersebar di perairan–perairan yang mengelilingi Konstantinopel. Namun, kapal-kapal itu tidak dapat sampai ke Tanduk Emas karena adanya rantai yang sangat besar yang mampu menahan setiap kapal yang berusaha mendekat. Angkatan laut Turki Utsmani mampu menguasai Kepulauan Pangeran (Prince Islands) yang terletak di Laut marmara. [MNews/Rgl]
Sumber: Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi, Sejarah Daulah Utsmaniyah, Faktor-Faktor Kebangkitan dan Sebab-Sebab Keruntuhannya, Ummul Qura

Alhamdulillah