[Kabar] Program Makan Siang Gratis Menggunakan Dana BOS, Pemerhati: Mengancam Kualitas Pendidikan Nasional

[Kabar] Program Makan Siang Gratis Menggunakan Dana BOS, Pemerhati: Mengancam Kualitas Pendidikan Nasional

Muslimah News, NASIONAL — Terjadi pro kontra tentang program makan siang gratis yang diwacanakan Paslon02 dalam program pemerintahannya jika terpilih nanti. Ini karena sumber pendanaannya direncanakan menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Menurut peneliti muda Center for Indonesia Policy Studies (CUPS) Shafrina Indrayadi, dampak paling utama dalam pengalihan dana BOS untuk program makan siang gratis adalah pada pembagian alokasi dana komponen lainnya yang dapat dibiayai oleh BOS.

Mengancam Kualitas Pendidikan

Bahkan, pemerhati pendidikan Diansyah Novi Susanti, S.Pt. menengarai, program ini justru akan mengancam kualitas pendidikan nasional karena menggunakan dana BOS

“Program makan siang gratis yang kenyataannya tidak gratis ini tentunya memunculkan masalah baru karena ada pergeseran atau pengalihan dana yang tujuan awalnya difokuskan untuk mendukung ketersediaan akses dan peningkatan kualitas pendidikan,” ungkapnya kepada MNews, Ahad (17-3-2024).

Lebih lagi, menurutnya, program ini tidak tepat serta tidak efektif dan efisien untuk memperbaiki kualitas peserta didik.

“Ini karena kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan dari proses pendidikan, bukan hanya sebatas memenuhi nutrisi kebutuhan jasmaninya, apalagi hanya makan siang gratis, tetapi didukung pula oleh kurikulum sistem pendidikan yang digunakan, guru yang berkualitas, dan sarana prasarana yang memadai,” ujarnya.

Apalagi, ia memprakirakan, akan dibutuhkan anggaran yang sangat besar untuk pembelanjaan makan siang gratis ini.

“Berdasarkan Laporan Statistik BPS Tahun 2022/2023, data jumlah sekolah dari TK sampai SMA pada 2023 sekitar 399.376 unit sekolah. Kemudian data pokok pendidikan semester 2023/2024 menyebutkan, jumlah peserta didik di Indonesia sekitar 51.519.391 siswa. Bisa terbayang jika satu siswa dianggarkan Rp15.000/hari, akan seberapa besar dana yang dikeluarkan untuk hal ini? Fantastis bukan?” tanyanya lugas.

Padahal, sambungnya, pada anggaran dana BOS itu ada alokasi lain, seperti untuk kesejahteraan guru honorer, pengembangan ekstrakurikuler, pengembangan sarana dan prasarana sekolah, dll. yang tentunya sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan pendidikan nasional.

“Selain itu, pemenuhan kebutuhan pokok hidup warga negara tidak hanya makan siang, tetapi ada sandang, papan, dan pangan. Juga kebutuhan-kebutuhan pelayanan, seperti kesehatan, pendidikan, politik, keamanan, dll. yang ini semua seharusnya menjadi tanggung jawab negara,” ungkapnya.

Jadi, tegasnya, kesejahteraan dan pendidikan tidak boleh dipisahkan karena akan terkait satu dengan yang lainnya. “Adanya stunting [yang disolusi dengan program makan siang gratis ini] terjadi pada usia sekolah. Ini membuktikan gagalnya negara dengan sistem kapitalismenya dalam mengurusi rakyatnya,” tukasnya.

Pendidikan dalam Islam

Dalam sistem Islam, jelasnya, pendidikan adalah kewajiban bagi setiap individu. “Pemimpin atau khalifah bertanggung jawab atas hal itu agar setiap warganya mampu melakukan kewajiban tersebut. Bahkan, biaya pendidikan juga menjadi kewajiban negara,” ucapnya.

Negara, lanjutnya, tidak boleh abai dan lepas tangan dalam pengurusannya sesuai hadis Rasulullah saw. yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya”.

Oleh karenanya, ia berharap, ketika ditunjukkan kepada sebuah sistem yang mampu menyejahterakan dan memuliakan umat, yaitu sistem Islam, seharusnya tidak ada lagi keraguan untuk mengambilnya dan menerapkannya secara kafah. [MNews/Ruh]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *