Tiket Pesawat Mahal! Mimpi Mewujudkan Transportasi Murah Bisa Gagal

Tiket Pesawat Mahal! Mimpi Mewujudkan Transportasi Murah Bisa Gagal

Penulis: Asy-Syifa Ummu Shiddiq

Muslimah News, OPINI — Harga tiket pesawat terpantau naik. Beberapa maskapai dengan rute ramai menaikkan tiketnya pada Lebaran 2024 ini. Contoh, Garuda Indonesia rute Jakarta—Surabaya, menjual dengan harga Rp1,4 juta dari sebelumnya Rp1,2 juta.

Kemudian rute Jakarta—Bali dari Rp1,3 juta menjadi Rp1,9 juta dan Jakarta—Yogyakarta naik dari Rp950.000 menjadi Rp 1,1 juta. Harga tiket dari maskapai lain, seperti Pelita Air dan Air Asia juga menunjukkan kenaikan. Data ini merupakan perbandingan harga pada akhir Februari dengan harga tiket pada Lebaran 2024. (Kontan, 13-3-2024).

Masyarakat pengguna maskapai pun merasa keberatan dengan naiknya harga tiket menjelang Lebaran. Menparekraf Sandiaga Uno juga kaget dengan kenaikan harga tiket ini, khususnya penerbangan ke wilayah Sumatra. Sebagaimana diketahui, harga tiket di Indonesia Tengah dan Barat cukup mahal jika dibandingkan tujuan Indonesia Timur sebab di Indonesia Timur sudah ada maskapai swasta baru. (Detik, 19-3-2024).

Meskipun banyak masyarakat menyatakan keberatan dengan kenaikan harga tiket, pihak Kemenhub menyampaikan bahwa kenaikan itu masih sesuai tarif batas atas (TBA) yang ditentukan. (Katadata, 19-3-2024).

Oleh karena itu, agar masyarakat tidak merasa terlalu terbebani, Menparekraf Sandiaga Uno mengimbau untuk pulang kampung sebelum kenaikan tiket dan menjalankan work from home (WFH). Ia juga menegaskan jika kenaikan ini bukan karena harga avtur yang naik, melainkan karena kurangnya jumlah pesawat sehingga ia mengharapkan agar jumlah pesawat diperbanyak. (Bisnis, 7-2-2024).

Prinsip Ekonomi

Nyatanya, masalah kenaikan harga tiket pesawat tidak hanya terjadi saat jelang Lebaran. Seluruh dunia mengeluh karena merasakan hal serupa. Kenaikan tiket pesawat ini merupakan akibat dari tingginya inflasi beberapa waktu terakhir. Inflasi ini menyebabkan pihak karyawan, seperti pilot, kabin, hingga pekerja bandara, menuntut kenaikan gaji. Mereka membutuhkan pemasukan yang lebih agar dapat menyesuaikan pengeluaran yang kian membengkak saat ini. Selain itu, naiknya biaya operasional di bandara juga disinyalir menjadi penyebab kenaikan tiket pesawat. (Kompas, 21-2-2024).

Semua hitung-hitungan penyebab kenaikan ini tidak lepas dari prinsip ekonomi yang sedang diterapkan saat ini. Ketika penyediaan layanan jasa dilepaskan agar sesuai dengan pasar, setiap harga akan langsung ditentukan juga oleh pasar. Prinsip ekonomi harga akan naik jika permintaan bertambah, padahal penawaran tidak bisa mengimbangi permintaan. Dalam kasus ini, pihak maskapai sudah menyediakan kursi tambahan, tetapi permintaan juga makin meningkat. Inilah alasan untuk meningkatkan harga tiket.

Sebelum Lebaran atau menjelang hari raya apa pun, pihak maskapai selalu menaikkan harga tiket. Ini adalah cara pikir dalam bisnis. Demi mencapai keuntungan besar, pihak maskapai seperti perlu memanfaatkan momen tertentu yang para penumpang mau tidak mau berani membayar. Inilah jadinya jika transportasi diberikan kepada pihak swasta. Negara tidak bisa berbuat apa-apa jika swasta menaikkan harga tiket pesawat. Kalaupun ada, negara sebatas mengeluarkan regulasi.

Kasus inflasi yang ada saat ini juga akibat penerapan sistem ekonomi kapitalisme. Penggunaan riba yang makin tinggi menyebabkan inflasi besar-besaran di seluruh negara. Sebagaimana kita ketahui, riba atau suku bunga adalah jantung dari ekonomi kapitalisme. Jadi ketika saat ini seluruh dunia menerapkan sistem ini, mau tidak mau mereka juga harus mengambil ribanya.

Inflasi ini secara langsung menyebabkan barga seluruh kebutuhan naik, membuat setiap orang membutuhkan pemasukan yang meningkat agar bisa mengimbangi pengeluarannya. Jadi, agar maskapai itu dapat terus menghidupi pegawainya dan juga tetap bisa mendapatkan untung besar, kenaikan harga tiket pesawat dianggap sebagai solusi terbaik.

Aturan Manusia

Kondisi semacam ini tentu menyulitkan masyarakat yang ingin memanfaatkan moda transportasi udara. Harga-harga diserahkan pada pasar. Bahkan, demi mendapat keuntungan yang lebih, pihak maskapai berani menaikkan harga, padahal harga tiket yang ada sebelum Lebaran sudah termasuk tinggi.

Inilah akibat penerapan ekonomi kapitalisme, aturan yang lahir dari ideologi kapitalisme. Bagi ideologi ini, prinsip kebahagiaan adalah dengan mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Apa pun bisa dilakukan, yang penting bisa meningkatkan materi.

Landasan yang melahirkan prinsip seperti itu adalah sekularisme. Sebuah pemahaman yang memisahkan antara agama dan kehidupan. Manusia dalam beraktivitas tidak perlu menjadikan agama sebagai panutan, cukup memakai aturan manusia. Hasilnya, semua sesuai padangan manusia. Akhirnya, terjadi inflasi dan tidak bisa mengatasinya hingga kini.

Negara Gagal?

Dari uraian di atas tampak bahwa negara sejatinya gagal mewujudkan transportasi murah bagi rakyat. Dengan naiknya harga tiket pesawat ini, membuat masyarakat mengeluarkan biaya lebih, padahal semua harga kebutuhan sedang naik.

Kondisi semacam ini secara otomatis menyulitkan masyarakat. Di satu sisi, mereka ingin segera pulang ke kampung halaman untuk merayakan Lebaran, di sisi lain mereka perlu merogoh kocek lebih dalam agar dapat memanfaatkan transportasi udara yang cepat.

Inilah peran negara dalam kapitalisme. Negara hanya sebagai pembuat regulasi. Mereka membuat aturan saja, sedangkan semuanya diserahkan pada pihak swasta. Namanya swasta, tujuannya jelas mencari untung. Tidak akan peduli apakah masyarakat sulit membeli tiket atau tidak. Bagi mereka, siapa pun yang bisa membayar, ialah yang akan dilayani.

Transportasi dalam Islam

Transportasi merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat. Islam sangat memperhatikan masalah ini. Islam memandang bahwa tugas seorang pemimpin adalah mengurusi kebutuhan rakyat. Prinsip negara adalah wajib menyediakan transportasi yang murah, mudah, cepat, dan aman.

Negara wajib mengatur dan menyediakan layanan tersebut. Segala pembiayaan transportasi akan diambil dari kas negara (baitulmal). Negara akan mendapatkan kas dari pengelolaan SDA dan beberapa pemasukan lain, seperti jizyah, fai, kharaj, ganimah, dan lainnya. Semua itu dapat dipakai negara untuk memberikan layanan yang terbaik.

Bagi negara, tujuan utama pengadaan transportasi adalah melayani masyarakat, bukan sekadar mencari keuntungan. Kalaupun harus membayar, masyarakat tidak akan merasa mahal.

Selain itu, sistem ekonomi Islam yang mengharamkan riba juga membuat ekonomi dunia akan cenderung stabil. Tidak ada alasan inflasi untuk menaikkan harga tiket pesawat sehingga masyarakat tetap bisa mendapatkan transportasi murah, mudah, berkualitas, cepat, dan aman.

Dengan demikian, hanya sistem Islam yang dapat menyediakan transportasi yang dibutuhkan masyarakat. Dengan aturan Islam yang lengkap dan sempurna ini, negara mampu mengendalikan ekonomi sehingga tidak akan terjadi inflasi. Sebagai panggilan keimanan, kita hanya bisa mengandalkan sistem Islam agar bisa mewujudkan transportasi yang ideal. Wallahualam. [MNews/Gz]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *