Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA—Setelah Utsman bin Affan r.a. terbunuh dan Ali bin Abi Thalib ra. dibaiat menjadi Khalifah, Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam pergi ke Makkah. Mereka berdua bertemu Aisyah ra. yang baru saja menunaikan ibadah haji.
Ketiganya kemudian bersepakat untuk pergi ke Bashrah guna mencari dukungan dalam rangka menuntut kematian Utsman ra. Berita tersebut kemudian terdengar oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib ra.. Ia pun segera bergerak untuk menemui mereka.
Tidak Berniat untuk Perang Saudara
Aisyah ra. dan pendukungnya berangkat dari Makkah menuju Bashrah dengan maksud mendamaikan kaum muslimin, menyatukan kembali visi mereka, dan menuntut penegakan hukum atas kasus terbunuhnya Utsman bin Affan ra..
Al-Baqilani menjelaskan bahwa peristiwa kelam di Bashrah itu sejak awal timbulnya tidak didasari niat untuk berperang. Kedua kelompok yang terlibat konflik bertujuan membela diri lantaran sama-sama menyangka bahwa kubu lain telah berkhianat. Sebab, sebenarnya kedua kubu sudah sepakat berdamai dan sukarela membubarkan diri. Namun, kondisi ini memicu ketakutan para pembunuh Utsman ra. bahwa mereka akan ditangkap dan dibunuh.
Para pemberontak pun menghasut kedua kelompok tersebut dan memantik api peperangan secara licik dengan cara menyusup ke dalam tubuh kedua pasukan. Perang pun tidak dapat terelakkan. Setiap kelompok bertujuan membela diri masing-masing dari sesuatu yang tidak mereka suka, serta melindungi jiwa dan raga mereka.
Menurut Ibnu Hazm, bukti bahwa perang bukanlah tujuan kedua kelompok pasukan itu adalah bahwa keduanya sudah bertemu dan tidak saling membuka konfrontasi bersenjata. Sampai ketika malam turun, para pembunuh Utsman ra. mulai menyusun rencana jahat untuk menyulut api peperangan.
Sudah Dikabarkan oleh Rasulullah
Imam Ahmad dan al Bazzar meriwayatkan dari Abu rafi’ bahwa Rasulullah saw. berkata kepada Ali bin Abi Thalib, “Kelak akan terjadi satu masalah antara engkau dengan Aisyah.” Lalu Ali bertanya, “Aku, ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Ya.” “Aku, ya Rasulullah?” Ali bertanya lagi untuk meyakinkan dirinya. “Ya,” jawab Nabi lagi. Ali pun berkata, “Kalau begitu, aku adalah orang yang paling celaka, ya, Rasulullah.” Rasulullah saw. kemudian bersabda, “Tidak. Namun, jika nanti masalah itu terjadi, pulangkan Aisyah ke tempatnya yang aman.”
Al-Bazzar juga menyampaikan sebuah riwayat dari ibnu Abbas ra. yang menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah berpesan kepada istri-istri beliau dengan bersabda, “Duhai, sungguh siapakah di antara kalian yang mempunyai unta yang banyak dan bagus rupa, lalu keluar dan digonggongi anjing-anjing Hau’ab. Sedangkan, di kanan kirinya banyak tentara yang terbunuh, ia selamat setelah nyaris menjadi korban.”
Ia juga meriwayatkan dari Qais bin Abi Hazm yang mengatakan bahwa ketika berangkat ke Bashrah, Aisyah mendengar suara anjing-anjing menggonggong. Aisyah lalu bertanya, “Tempat apa ini?” Pasukannya menjawab, “Al Hau’ab.” “Rupanya aku harus pulang kembali,” kata Aisyah. “Jangan!” tukas mereka. Aisyah berkata, “Aku harus kembali. Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda kepada istri-istri beliau, ‘Salah satu dari kalian nanti akan digonggongi anjing-anjing Hau’ab.” Beberapa orang menemui Aisyah dan mendesaknya untuk melanjutkan perjalanan ke Bashrah.
Ibnu Hajar juga mengeluarkan sebuah riwayat bahwa Ali bin Abi Thalib ra. berbicara dengan Zubair saat Perang Jamal meletus. Ali ra. berkata kepadanya, “Aku mau bertanya kepadamu, dengan menyebut nama Allah, apakah engkau mendengar Rasulullah saw. bersabda kepadamu pada hari ketika engkau menggamit lenganku, “Engkau akan berperang melawannya dan engkau menzaliminya, lalu ia kan mengalahkanmu?” Zubair menjawab, “Aku mendengar sabda Beliau. Tentu saja aku tidak akan memerangimu.”
Aisyah Dipulangkan ke Madinah dengan Aman
Perang Jamal terjadi pada bulan Jumadilakhir tahun 36 Hijriah. Dinamakan demikian karena Aisyah mengendarai seekor unta (jamal). Ia membawa 30 ribu prajurit sedangkan pasukan Ali berjumlah 20 ribu orang.
Pasukan Bashrah berjuang keras melindungi Aisyah ra. dan unta yang ditungganginya sehingga di sekelilingnya banyak sekali prajurit yang terbunuh. Perang berakhir dengan kemenangan pasukan Ali ra. dan terbunuhnya Thalhah, Muhammad bin Thalhah, serta Zubair bin Awwam.
Tatkala Aisyah hendak meninggalkan Bashrah untuk kembali ke Madinah, Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. mengirimkan kendaraan, bekal, dan perlengkapan. Khalifah juga mengizinkan pasukan Aisyah ra. untuk ikut pulang bersamanya, kecuali mereka yang ingin menetap di Bashrah. Ali bin Abi Thalib ra. juga mengutus 40 orang wanita Bashrah untuk menemani Aisyah dan memerintahkan Muhammad bin Abi Bakar menyertai kepulangan Aisyah ra. ke Madinah.
Dalam kesempatan itu Aisyah ra. berpesan, “Wahai anak-anakku, janganlah kalian saling mencela. Demi Allah antara aku dan Ali itu laksana perempuan dan penjaganya. Dalam pandanganku, Ali termasuk orang-orang terbaik.” Ali bin Abi Thalib ra. menyahut, “ Engkau benar. Demi Allah antara aku dan Aisyah memang seperti itu. Ia adalah istri Nabi kalian di dunia dan akhirat.” (Ibnu Katsir, al Bidayah wa an Nihayah). Wallahualam. [MNews/Has]
Sumber : Prof. Dr. Ibrahim al Quraibi. Tarikh Khulafa. Qisthi Press.
Sumber foto: alkawthartv

