[Nafsiyah] Syafaat Siapa yang Kita Cari?

[Nafsiyah] Syafaat Siapa yang Kita Cari?

Muslimah News, NAFSIYAH — Di akhirat kelak selain amal saleh, adakah yang bisa menolong kita ketika menghadapi hari penghisaban? Jawabannya ada, ialah syafaat. Secara harfiah, syafaat diartikan sebagai pertolongan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain karena mengharapkan pertolongannya.

Allah menyampaikan dalam firman-Nya, “Barang siapa yang memberikan syafaat yang baik, niscaya ia akan memperoleh bagian (pahala) daripadanya. Dan barang siapa yang memberi syafaat yang buruk, niscaya ia akan memikul bagian (dosa) daripadanya. Allah Mahakuasa atas segala sesyatu.” (QS An Nisa: 85)

Menurut Syekh Muhammad ibn ‘Ali, syafaat merupakan permohonan yang penuh dengan kerendahan hati untuk berbuat baik atau menghilangkan mudarat bagi orang lain. Permohonan yang diajukan Rasulullah saw. di akhirat kepada Rabbul ‘Alamin untuk membela umatnya, bahkan selutuh makhluk. (Muhammad ibn ‘Ali al-Faruqi, Mausu’ah Kasyaf Ishthilahat al-Funun wa al’Ulum, cet. I hal.1034).

Selain Rasul saw., siapakah yang dapat memberikan syafaatnya?

Allah Swt. berfirman, “Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” (QS Al Anbiya: 28)

Dalam surat An-Najm: 26, Allah Swt. berfirman, “Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridai (Nya).”

Artinya, orang yang memberi syafaat dan orang yang diberi syafaat telah ditentukan Allah Swt. lewat izin-Nya. Sebagai manusia yang lemah dan terbatas, serta sering lalai dalam melakukan berbagai amal saleh, kita membutuhkan syafaat dari Rasul, para ulama, dan orang alim.

Rasul saw. bersabda, “Ahli kebaikan di dunia adalah ahli kebaikan di akhirat.” (HR Al- Thabrani)

Maksud dari hadis di atas ialah, siapa yang berbuat baik di dunia, akan diberi kesempatan untuk memberi syafaat di akhirat bagi orang-orang berdosa yang dipilih mereka.

Sebagaimana hadis Rasul saw., “Sesungguhnya, setelah orang-orang mukmin terbebas dari neraka, demi Zat yang menggenggam jiwaku, tidak ada seorang mukmin pun dari kalian yang paling kuat permohonannya kepada Allah pada hari Kiamat, tepatnya saat diperiksa oleh-Nya, kecuali saat mereka melihat saudara-saudaranya berada di dalam neraka. Mereka mengadu, ‘Ya Tuhan kami, mereka pernah berpuasa bersama kami. Mereka pernah salat dan berhaji bersama kami.’ Disampaikanlah kepada mereka, ‘Keluarkanlah orang yang kalian kenali.’ Maka dihalangilah tubuh mereka dari neraka.” (HR Bukhari dan Muslim)

Inilah pentingnya bagi kita memiliki banyak sahabat yang senantiasa mengingatkan kita dalam kebaikan dan kesabaran. Karena di akhirat kelak mereka juga bisa memberikan syafaat pada kita atas izin-Nya.

Tak hanya itu, ternyata kesempatan memberi syafaat juga dimiliki oleh anak kecil yang meninggal sebelum dewasa. Biasanya syafaat ini diberikan kepada orang tuanya. Dengan syarat, si anak telah diakikahi kedua orang tuanya. Demikian sebagaimana yang disebutkan Imam Ahamd ibn Hanbal (Abu Sulaiman Hamd, Gharib Al-Hadits, cet.I hal.267).

Kemudian, Imam Nawasi mengatakan ada lima macam syafaat. Pertama, syafaat yang khusus bagi Rasulullah saw. yakni adanya kelapangan di hari kiamat dan segera diadakannya perhitungan (hisab) bagi umatnya.

Kedua, syafaat berupa masuknya suatu kaum ke dalam surga tanpa perhitungan.

Ketiga, syafaat yang diberikan pada mereka yang seharusnya masuk neraka, tetapi karena syafaat Rasul saw. dengan izin Allah mereka selamat.

Keempat, syafaat bagi mereka yang berdosa dan telah masuk ke dalam neraka, tetapi karena syafaat dari Rasul saw., mereka dikeluarkan dari sana.

Kelima, syafaat berupa peningkatan derajat bagi penghuni surga.

Lantas, syafaat siapa yang kita cari? Jika mengharapkan Rasulullah saw memberikan syafaatnya, apakah kita betul-betul telah mengikuti dan mengamalkan ajaran Islam yang dibawanya? Apakah kita senantiasa berselawat padanya? Apakah kita telah menjalankan berbagai sunahnya? Apakah kita turut melakukan dakwah sebagaimana yang beliau lakukan untuk memuliakan agama-Nya? Apakah kita turut berjuang menegakkan Islam di muka bumi seperti yang telah Rasul contohkan?

Jika berharap syafaat dari orang alim, sudahkah kita beradab baik pada setiap guru kita? Sikap apa yang kita berikan untuk memuliakan mereka?

Selanjutnya, jika kita mengharapkan syafaat dari orang-orang saleh yang datangnya dari sahabat-sahabat kita, jalinan persahabatan karena Allah atau karena manfaat yang mengikat di antara kita dan mereka? Semua pertanyaan di atas memang hanya kita yang tahu jawabannya.

“Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya?” (QS Al-Baqarah: 255)

Semoga kita dapat menjadi hamba yang dicintai-Nya dan dikasihi Rasul-Nya. Teruslah beramal saleh untuk memantaskan diri mendapatkan syafaat kelak di akhirat. Wallahulmuwafiq. [MNews/Rnd]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *