Penulis: Syekh Taqiyudin an-Nabhani
Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Sur’atul badihah menuntut penggunaan kecerdasan dan penggunaan kecerdasan menuntut perhatian atau kecepatan memperhatikan. Oleh karena itu, perhatian atau kecepatan memperhatikan adalah qasim musytarak (milik bersama) antara sur’atul badihah dengan penggunaan kecerdasan.
Dengan kata lain, perhatian atau kecepatan memperhatikan harus dibahas sehingga memudahkan untuk mengetahui penggunaan kecerdasan. Selanjutnya, kita bisa mengetahui sur’atul badihah dan cara mewujudkannya serta proses terbentuknya pada manusia.
Perhatian, yaitu bahwa Anda bermaksud untuk memeriksa sesuatu yang diindra dan mengetahuinya, selama belum ada maksud ini, maka belum ada perhatian. Dalam contoh kami sebelumnya, yaitu seorang pengendara melihat suatu cairan mengalir di jalan. Jika ia tidak berniat untuk mengetahui apa itu dan lewat begitu saja, maka tidak ada padanya perhatian dan selanjutnya tidak menghasilkan penggunaan kecerdasan dan tidak pula menghasilkan sur’atul badihah.
Maksud untuk mengetahui sesuatu, “apakah itu?”, merupakan asas dalam seluruh proses. Dengan demikian, masalah pertama adalah maksud atau melakukan gerakan yang serius, tajam dan cepat untuk mengetahui hakikat sesuatu yang diindra dan substansinya karena segala sesuatu tergantung pada pengetahuan ini.
Oleh karena itu, asasnya adalah pengetahuan atau maksud untuk mengetahui. Sebagai contoh kisah Sulaiman yang hendak membagi dua anak kecil yang diklaim oleh dua orang wanita. Sulaiman mengetahui ibu anak itu dengan cepat dengan sur’atul badihah.
Sesungguhnya masing-masing dari kedua wanita tadi mengeklaim bahwa anak itu adalah anaknya. Sulaiman mengetahui bahwa ibu sebenarnya dari anak itu adalah wanita yang melepaskan anak itu agar dipungut oleh siapa saja asalkan tetap hidup dan mengutamakan hal itu daripada anak itu dibunuh dan kehidupan hilang darinya. Adapun selain ibu anak itu tidak akan memedulikan hal itu.
Oleh karena itu, Sulaiman menawarkan kepada kedua wanita itu untuk membagi anak itu menjadi dua bagian yang sama. Dengan kata lain, membunuhnya karena pembunuhan atas anak itu akan memberikan gambaran mana ibunya dari kedua wanita itu.
Namun, jika ia menawarkan untuk membunuhnya, wanita yang bukan ibu anak itu mungkin akan berpura-pura menolak hal itu. Akan tetapi, Sulaiman tidak menawarkan untuk membunuh anak itu secara terbuka, tetapi menawarkannya secara implisit dengan menawarkan untuk membagi dua anak itu sehingga ibu anak itu menolaknya, sedangkan wanita yang bukan ibu sebenarnya akan menerima hal itu. Dengan demikian, ia mengetahui siapa di antara kedua wanita itu yang merupakan ibu sejati dari anak tersebut. [MNews/Rgl]
Bersambung ke bagian 3/3
Sumber artikel: Syekh Taqiyudin an-Nabhani, Sur’atul Badihah (Berpikir Cepat dan Produktif).

One thought on “[Sur’atul Badihah] Penggunaan Kecerdasan dan Sur’atul Badihah (Bagian 2/3)”