[Ath-Thariq] Berbagai Macam Bahaya yang Merintangi Partai Ideologis (Bagian 2/2)

[Ath-Thariq] Berbagai Macam Bahaya yang Merintangi Partai Ideologis (Bagian 2/2)

Penulis: Syekh Ahmad Athiyat

Sambungan dari Bagian 1/2

Muslimah News, FIKRUL ISLAM — 2. Bahaya Kastaisme (Superioritas Kelompok)

Maksudnya adalah ketakutan dari timbulnya ide kastaisme, yakni munculnya kesombongan pada sekelompok anggota partai karena mereka merasa bahwa mereka menjadi orang yang lebih paham, pandai, atau mengetahui dari orang lain dan sebagainya. Hal itu bisa mengakibatkan timbulnya sekat antara kelompok (jemaah) ini dengan kelompok manusia lainnya.

Bahaya ini bisa muncul dalam dua bentuk, pertama, antara anggota partai ideologis dengan umat, kedua, terjadi di antara sesama anggota partai.

Adapun bentuk pertama maka hal itu terjadi akibat tingginya pemikiran yang diemban oleh anggota partai bila dibandingkan dengan pemikiran rendah yang ada di benak manusia atau masyarakat pada umumnya. Oleh karenanya, para anggota partai ini merasa bahwa mereka menjadi kelompok yang lebih tinggi dan lebih besar daripada umat.

Bahaya ini juga timbul ketika terwujud kekaguman umat pada anggota partai karena mereka bersikukuh di atas pendiriannya, meskipun dilanda berbagai macam kesusahan dan penyiksaan yang dilakukan oleh sistem yang memusuhinya. Hal ini terjadi ketika partai berhasil memperoleh dukungan dan penghormatan dari mayoritas umat yang bisa menumbuhkan kesombongan dan superioritas dalam jiwa para anggota partai. Mereka menganggap bahwa mereka lebih tinggi daripada umat dan menjadi pemimpin umat sehingga umat harus tunduk pada mereka.

Ketahuilah bahwasanya masalah ini sangat berbahaya karena setelah waktu berselang bisa mengakibatkan pecahnya umat dari partai sehingga menjadikan partai kehilangan tubuhnya dan mengubahnya menjadi momok atau hantu tanpa badan. Hal ini tiada lain karena umat bagaikan tubuh bagi sebuah partai ideologis dan ideologi yang diemban partai berperan sebagai ruh. Jika tubuhnya telah hilang maka kerugian tersebut menjadi malapetaka.

Oleh karena itu, sebuah partai harus mewaspadai terjadinya kesalahan yang sangat mematikan seperti ini dan anggota partai harus mengoreksi dan mengawasi diri mereka semaksimal mungkin untuk memastikan tidak terjadinya malapetaka ini dan memerangi segala kemungkinan dan potensi yang bisa menyebabkan timbulnya penyakit ini. Karena kerugian partai dengan hilangnya umat merupakan kerugian yang terlalu mahal untuk dibayar, dan karena partai tanpa umat tidak bisa memperbaiki apa pun, karena partai tersebut bagaikan seorang panglima tanpa tentara dan pemimpin tanpa disertai rakyatnya. Oleh karenanya, partai harus kembali ke posisi semula dengan sangat tidak terpuji dan tidak terhormat.

Di sini ada sebuah pertanyaan, bagaimana cara kita menyesuaikan antara perasaan seorang anggota partai bahwa ia mengemban ide yang lebih tinggi dengan ketidakterhanyutan dia dalam bahaya kastaisme (superioritas kelompok)? Dengan kata lain, bagaimana cara kita menyelaraskan antara pemisahan diri dari segi perasaan terhadap masyarakat nonmuslim dengan ketidakjatuhan dalam jerat kastaisme?

Jawabannya adalah bahwa secara asal tidak boleh bertolak ke tahapan aktivitas segera setelah mengindra sebuah realitas, karena ada satu tahapan antara aktivitas (al ‘amal) dengan pengindraan (al-ihsas) yaitu berpikir (at-tafkir), yakni menundukkan aktivitas pada pemahaman, atau tingkah laku harus berdasarkan pemahaman. Dalam kondisi seperti ini tidak boleh menampakkan perasaan lebih tinggi terhadap umat, walaupun boleh atau bahkan harus terhadap sistem.

Adapun memisahkan diri dari segi perasaan harus senantiasa tersembunyi dalam jiwa, tidak boleh tampak dalam hubungan dengan umat. Sedangkan penentangan dan cemoohan pada penguasa maka itu yang dituntut dan disukai.

“Dan tidaklah mereka berpijak di sebuah tempat yang menyebabkan orang kafir marah, kecuali hal itu ditulis sebagai amal saleh bagi mereka.”

Adapun bentuk kedua dari bahaya kastaisme muncul ketika partai mendapatkan penghormatan atau penghargaan, baik karena faktor-faktor yang telah disebutkan terdahulu atau karena sebagian besar anggota merasa betapa agung dan mulianya partai ini. Ketika hal itu terjadi, kadang kala sebagian anggota partai berbicara pada diri mereka bahwa mereka lebih tinggi dan mulia dari anggota lainnya sehingga mereka bergaul dengan sesamanya dengan perasaan lebih tinggi dan sombong.

Ketika kondisinya seperti itu, partai harus mengobati anggotanya yang sakit tersebut sesegera mungkin, karena bila tidak, hal tersebut bisa mengakibatkan keterpecahan si anggota dari partai, baik perpecahan secara fisik dengan cara meninggalkan partai atau secara maknawi dengan hilangnya semangat untuk melakukan aktivitas bersama partai.

Sesungguhnya pimpinan partai, manajer, dan anggotanya merupakan pelayan umat, bukan pemimpin umat—seandainya ditinjau dari satu segi bahwa pemimpin suatu kaum adalah pelayan kaum itu—jika hal tersebut terbalik, yaitu kita beraktivitas untuk menjadi pimpinan, meraih kekuasaan, dan memperoleh ketenaran, dan kita terus saja dalam posisi sebagaimana yang difirmankan Allah Swt.,

وَاذْكُرُوْٓا اِذْ اَنْتُمْ قَلِيْلٌ مُّسْتَضْعَفُوْنَ فِى الْاَرْضِ تَخَافُوْنَ اَنْ يَّتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ

“Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Makkah), kamu takut orang-orang (Makkah) akan menculik kamu.” (QS Al-Anfal: 26).

maka bagaimana jika kondisinya sampai padapada

فَاٰوٰىكُمْ وَاَيَّدَكُمْ بِنَصْرِهٖ وَرَزَقَكُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ

“… maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik ….” (QS Al-Anfal: 26).

Bagaimana umat bisa percaya bahwa kita tidak akan pernah lebih buruk (senantiasa lebih baik-pen.) daripada mereka yang kafir yang senantiasa menimpakan kebinasaan dan kehancuran pada umat, ketika mereka memperoleh kebesaran dan kekuasaan? Bagaimana anggota bisa percaya bahwa revolusi ini tidak akan pernah memakan diri dan anak-anaknya setelah partai mencapai tujuan? Berhati-hatilah dan senantiasa waspada terhadap setiap orang yang tergoda oleh nafsu amarahnya yang buruk dengan menganggap dirinya lebih tinggi dari umat atau dari anggota (asy-syabab) lainnya.

Inilah beberapa kesulitan dan bahaya yang paling penting yang akan mengadang partai ideologis sepanjang perjalananya meraih tujuan yang diinginkan. Partai ideologis harus memahami sepenuhnya dan menyiapkan terapi yang akan bisa menjamin teratasinya kesulitan dan bahaya tersebut. Para anggota partai (asy-syabab) harus mawas diri dan berhati-hati dari itu semua agar perahu partai bisa berjalan di atas metode yang telah ditetapkan Allah Swt. dan tidak menyimpang sehelai rambut pun dari jalan tersebut.

Dan hanya Allah, Zat yang menganugerahkan petunjuk dan hanya Dialah yang patut dimintai pertolongan. [MNews/Rgl]

Sumber artikel: Syekh Ahmad Athiyat, Ath-Thariq (Jalan Baru Islam)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *