Penulis: Ummu Nashir N.S.
Muslimah News, FOKUS TSAQAFAH — Akhir-akhir ini, persoalan keluarga sebagai elemen pembangun bangsa sering kali dibahas. Bisa jadi karena perannya ini sering dipandang sebelah mata atau barangkali diabaikan. Dalam sebuah tulisan di situs Mubadalah, dikatakan bahwa suatu keluarga tidak akan hidup tenang dan bahagia tanpa adanya suatu peraturan, kendali, dan disiplin yang tinggi.
Begitu juga suatu negara. Kepincangan dalam menerapkan peraturan akan mengakibatkan kepincangan dalam kehidupan. Keluarga merupakan unit terkecil yang menjadi pendukung dan pembangkit lahirnya bangsa dan masyarakat. Selama pembangkit itu mampu menyalurkan arus yang kuat lagi sehat, selama itu pula masyarakat bangsa akan menjadi sehat dan kuat.
Lebih lanjut dikatakan, memimpin rumah tangga adalah satu tanggung jawab, demikian juga memimpin negara. Kepemimpinan suatu negara tidak mungkin tercapai apabila pemimpin-pemimpin daerah tidak berjalan searah dengan pemimpin pusat. Kepemimpinan di setiap daerah tidak akan berhasil apabila langkah-langkah keluarga bertentangan dengan kepemimpinan daerah. Demikian terlihat keterkaitan erat antara langkah suatu keluarga dan negara karena keluarga tidak lain merupakan tulang punggung suatu bangsa. (Mubadalah, 5-2-2024).
Memang tidak salah jika dikatakan bahwa negara adalah sebuah organisasi besar yang di dalamnya terdapat banyak struktur organisasi masyarakat. Meskipun sebagai unit masyarakat terkecil, keluarga berperan strategis dalam sebuah negara. Ini karena keluarga juga akan membangkitkan masyarakat yang kuat yang akan mewujudkan bangsa tangguh sekaligus menjadi tempat lahirnya para pemimpin bangsa.
Namun, ada satu hal yang kerap luput dari perhatian kita ketika membahas tentang keluarga, yaitu bagaimana kita mampu mewujudkan keluarga yang tangguh? Selanjutnya, apakah secara otomatis keluarga yang tangguh akan memunculkan bangsa yang tangguh pula?
Bagaimana Mewujudkan Keluarga yang Tangguh?
Keluarga adalah pranata awal pendidikan primer bagi seorang manusia. Keluarga, sekolah, dan masyarakat merupakan sendi-sendi pendidikan yang fundamental dan keluargalah pemberi pengaruh pertama.
Keluarga berperan strategis dalam proses pendidikan anak bahkan umat manusia. Pengaruh keluarga lebih kuat daripada sendi-sendi lainnya. Sejak awal masa kehidupannya, seorang manusia lebih banyak mendapatkan pengaruh dari keluarga. Waktu yang dihabiskan di kehidupan keluarga pun lebih banyak daripada di tempat yang lain.
Pada hakikatnya, pendidikan di dalam keluarga merupakan pendidikan sepanjang hayat. Pembinaan dan pengembangan kepribadian, serta penguasaan tsaqafah Islam, dilakukan melalui pengalaman hidup sehari-hari dan dipengaruhi oleh sumber belajar yang ada di keluarga, terutama ibu dan bapaknya.
Begitu pentingnya pembinaan dan pendidikan di dalam keluarga sehingga pendidikan anak sejak dini dalam keluarga akan tertanam secara kuat di dalam diri seorang anak. Pengalaman hidup pada masa-masa awal umur manusia akan membentuk ciri-ciri khas, baik di dalam tubuh maupun pemikirannnya, yang bisa jadi tidak ada yang dapat mengubahnya sesudah masa itu.
Untuk itu, keluarga—secara langsung maupun tidak—turut memengaruhi jati diri sebuah masyarakat. Dari keluargalah muncul generasi manusia yang bermartabat, memiliki rasa kasih sayang, juga saling tolong-menolong di antara mereka. Alhasil, terciptalah tatanan kehidupan masyarakat yang kuat yang didukung keluarga-keluarga yang harmonis dan berkasih sayang. Ini karena keluarga memiliki pemikiran ideologis sebagai fondasinya.
Lalu, bagaimana upaya kita untuk mewujudkan keluarga yang tangguh? Setidaknya ada beberapa hal yang bisa kita lakukan.
Pertama, fondasi dasar dari pernikahan adalah akidah Islam, bukan manfaat ataupun kepentingan. Dengan menjadikan Islam sebagai landasan, apa pun yang terjadi dalam keluarga tersebut akan dikembalikan kepada Islam semata.
Kedua, adanya visi misi yang sama antara suami istri tentang hakikat dan tujuan hidup dan berkeluarga dalam Islam.
Ketiga, memahami dengan benar fungsi dan kedudukan masing-masing dalam keluarga dan berupaya semaksimal mungkin menjalankannya sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya.
Keempat, menjadikan Islam dan syariatnya sebagai solusi atas seluruh permasalahan yang terjadi dalam kehidupan berkeluarga. Halal-haram menjadi landasan dalam berbuat, bukan hawa nafsu.
Kelima, menumbuhsuburkan amar makruf nahi mungkar di antara sesama anggota keluarga sehingga seluruh anggota keluarga senantiasa berjalan di atas rel Islam.
Keenam, menghiasi rumah dengan membiasakan melakukan amalan-amalan sunah, seperti membaca Al-Qur’an, bersedekah, mengerjakan salat sunah, dan sebagainya. Lalu yang ketujuh, senantiasa memanjatkan doa kepada Allah dan bersabar dalam situasi apa saja.
Demikianlah, tidak dapat dimungkiri bahwa penguatan keluarga bisa menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Keberadaan keluarga yang berkualitas dan tangguh ini memiliki nilai strategis dalam mewujudkan pembangunan bangsa.
Hanya saja, tentu saja tidak bisa sekadar bertumpu pada adanya keluarga yang tangguh, melainkan ada hal mendasar lain yang harus ada di tengah umat sehingga bisa terwujud bangsa yang maju secara hakiki, yaitu adanya sistem sahih yang diterapkan.
Nilai Strategis Keluarga Membutuhkan Peran Sistem
Sejatinya, keluarga tidak bisa tumbuh dan berkembang tanpa ada faktor-faktor eksternal yang mendukungnya. Kita tidak bisa mengharapkan keluarga yang kuat jika mereka hidup dalam kemiskinan dan kekurangan hingga mengalami kurang gizi, stunting, atau persoalan gizi lainnya.
Kita juga tidak bisa mengharapkan kondisi keluarga bisa kuat apabila mereka terus-menerus diserang pemikiran asing yang merusak. Pada saat yang sama, sistem pendidikan yang ada justru menjauhkan anak-anak dari agama atau membuat mereka menjadi penganut sekularisme liberalisme.
Kita juga tidak bisa mengharapkan keluarga kuat apabila sistem pergaulan dan sosial yang ada justru rusak dan merusak. Pergaulan bebas, perselingkuhan, perceraian, semua menjadi ancaman besar bagi keluarga. Ditambah ancaman kejahatan yang makin marak yang sering kali menghancurkan tatanan keluarga.
Dengan demikian, untuk mewujudkan keluarga yang kuat dan tangguh, tidak hanya keluarganya yang harus diperbaiki, tetapi sistem kehidupan yang diterapkan juga harus dibenahi bahkan diganti.
Lebih dari itu, jika kita berpikir secara mendalam, maju dan mundurnya peradaban sebuah negara atau bangsa, sejatinya bisa kita lihat dari ideologi atau sistem kehidupan yang dianutnya. Jika sistem kehidupan yang dianut adalah sekuler kapitalisme, bisa dipastikan kemajuannya hanyalah semu karena gagal membangun peradaban yang menghasilkan masyarakat yang berbudi luhur dan berkepribadian khas yang tinggi.
Apabila menganut sistem komunisme sosialisme, boleh jadi ekonominya maju, tetapi sama gagalnya dengan kapitalisme dalam membangun peradaban manusia. Ini karena sistem ini menghilangkan dimensi spiritual yang menjadi asas utama setiap manusia dalam merumuskan tujuan hidupnya.
Jika ingin menjadi negara maju dan berperadaban mulia, negeri ini haruslah hanya berharap pada Islam. Islamlah satu-satunya ideologi atau sistem kehidupan yang mampu mengakomodasi setiap kebutuhan dan harapan bagi umat manusia, yaitu mewujudkan nilai keadilan, kesejahteraan, keharmonisan, kecerdasan, dan ketinggian moral. Belum pernah ada peradaban mana pun yang menyamai kegemilangan dan kesuksesan Islam sebagai peradaban yang berkuasa selama 13 abad lamanya.
Dengan penerapan sistem Islam secara kafah oleh negara, sistem pendidikan Islam akan diberlakukan yang akan melahirkan generasi berkualitas prima. Sekaligus akan lahir para pemimpin dan kepemimpinan yang adil serta amanah yang mengayomi dan menyejahterakan rakyatnya. Pemimpin yang paham bahwa imam adalah raa’in (gembala) dan junnah (perisai).
Rasulullah saw. bersabda, “Imam adalah raa’in (penggembala) dan dia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR Bukhari).
“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya.” (HR Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud).
Dengan demikian, untuk membangun negeri ini hingga kelak menjadi bangsa maju bahkan menjadi adikuasa, hanya akan terwujud jika menjadikan sistem kehidupan Islam sebagai landasan hidup bermasyarakat dan bernegara. Hanya sistem kehidupan Islam yang memiliki aturan lengkap dan sempurna. Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk memajukan negeri ini?
Langkah Nyata
Kemajuan atau kebangkitan hakiki adalah kemajuan yang diletakkan pada asas ruhiah (spiritual). Artinya, kemajuan dibangun dengan landasan pemikiran yang mengaitkan segala aktivitas manusia dengan Allah Swt., yaitu sesuai perintah dan larangan-Nya.
Oleh karenanya, upaya yang harus dilakukan adalah dengan mengembalikan kaum muslim kepada tegaknya semua aturan Islam dalam kancah kehidupan. Ini karena kebangkitan dan kemajuan bangsa tidak akan terwujud, kecuali dengan terwujudnya sistem aturan yang satu di tengah masyarakat sehingga terwujudlah bangsa yang damai, tenteram, dan sejahtera, tentu saja berdasarkan akidah Islam.
Langkah awal yang harus dilakukan adalah mengubah pola pikir umat yang terlalu terasuki oleh pemikiran-pemikiran asing—terutama pemikiran sekuler kapitalisme—dengan tsaqafah islamiah atau pemahaman Islam. Dengan kata lain, mencerdaskan kaum muslim dengan pemahaman Islam sehingga umat akan bangkit dengan cara dan landasan yang benar, yaitu akidah Islam.
Caranya adalah membina umat dengan Islam. Pemikiran dan hukum Islam ini tidak boleh hanya dipandang sebagai informasi, melainkan harus sebagai acuan untuk membahas dan menyikapi berbagai fakta yang dihadapi dengan tepat dan benar berdasarkan sudut pandang Islam.
Dengan pembinaan ini, akan terbentuk pemahaman Islam di tengah kaum muslim yang selanjutnya akan berpengaruh kepada tingkah lakunya dan mendorongnya untuk siap bergerak menyampaikan dakwah Islam ke tengah umat.
Umat pun akan memahami Islam dan menjadikan seluruh hukum Islam sebagai pijakan dalam mengarungi kehidupan. Selanjutnya, muncullah kerinduan di tengah umat agar aturan Allah dan Rasul-Nya tegak di muka bumi. Umat akhirnya yakin bahwa hanya dengan sistem Islamlah mereka akan mampu meraih kemajuan, yaitu sebagai khaira ummah ‘umat terbaik’ di muka bumi ini.
Khatimah
Telah sangat nyata bahwa keluarga tangguh menjadi komponen penting bagi terwujudnya pembangunan bangsa. Hanya saja, hal ini tidak terjadi serta-merta, melainkan perlu adanya sistem kehidupan yang mengayomi keluarga tangguh tersebut.
Potret buram keluarga muslim dalam sistem kehidupan sekuler kapitalisme—sebagaimana terjadi di negeri ini sekarang—seharusnya menjadi cambuk bagi setiap diri muslim. Umat Islam tidak bisa dan tidak boleh berharap pada sistem rusak dan merusak, juga tidak boleh berdiam diri terhadapnya. Hal yang wajib dilakukan adalah membuang sistem sekuler kapitalisme, meruntuhkannya, dan menggantinya dengan sistem yang sahih.
Sistem sahih itu tiada lain ialah sistem kehidupan Islam yang lahir dari akidah Islam yang datang dari Allah Taala. Hanya sistem Islam, sistem yang datang dari Yang Maha Sempurna, sesuai fitrah manusia dan memuaskan akal sehingga akan melahirkan ketenteraman bagi seluruh umat manusia. Oleh sebab itu, perjuangan menegakkan sistem Islam di muka bumi harus menjadi agenda utama umat saat ini. Wallahualam bissawab. [MNews/Gz]

Alhamdulillah