Seratus Tahun Tanpa Khilafah, Apa Kabar Keluarga Muslim Hari Ini?

Seratus Tahun Tanpa Khilafah, Apa Kabar Keluarga Muslim Hari Ini?

Penulis: Ummu Nashir N.S.

Muslimah News, KELUARGA — Keruntuhan khilafah Islam pada 3 Maret 1924 M atau bertepatan dengan 28 Rajab 1342 H menandai berakhirnya dunia diatur oleh sistem kehidupan sahih yang didasari syariat Islam. Sudah 100 tahun umat ini hidup tanpa khilafah, tanpa aturan Allah Al-Mudabbir. Sebaliknya, kehidupan berganti diatur oleh aturan buatan manusia yang serba lemah dan terbatas, yakni sistem sekuler kapitalisme. Wajar jika kondisi umat Islam saat ini berada dalam keterpurukan dan jauh dari keberkahan. Kondisi ini tidak hanya melanda kehidupan masyarakat, tetapi kehidupan keluarga muslim pun dalam kondisi yang sama.  

Berbagai macam keburukan yang menimpa keluarga muslim di negeri ini muncul akibat penerapan sistem hidup sekuler. Sistem ini melahirkan nilai-nilai hidup yang salah di masyarakat. Tingginya harga kebutuhan pokok menjadikan kehidupan rakyat serba sempit. Biaya kebutuhan komunal pun makin sulit dijangkau. Pendidikan mahal, kesehatan sulit dijangkau, bahkan tidak ada jaminan keamanan bagi warganya, termasuk bagi anak-anak.

Kekerasan yang terjadi dalam keluarga kian marak. Bahkan tidak sedikit yang berujung pada kematian istri atau anak. Kekerasan seksual pada anak pun saat ini kerap dilakukan oleh orang terdekat korban, seperti ayah, paman, atau kakek korban. Kondisi ini menggambarkan masyarakat yang sakit. Kebebasan yang diagungkan sistem ini menjadi racun mematikan bagi akal dan naluri, hingga ayah kandung tega menggauli darah dagingnya sendiri. Ketika pemahaman agama tidak menjadi standar kehidupan, hawa nafsu yang menjadi penentu. Liberalisme telah menghilangkan ketakwaan individu.

Di sisi lain, ini semua menunjukan betapa lemahnya jaminan keamanan bagi anak. Bahkan, orang tua yang seharusnya melindungi, justru menjadi ancaman bagi anak. Keluarga tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai tempat yang aman bagi anak. Kondisi ini makin berat ketika ayah dan ibu sibuk bekerja hingga lupa mengawasi anaknya. Kemiskinan membuat kaum ibu harus ikut bekerja mencari nafkah sehingga mengabaikan perannya sebagai pengasuh dan pendidik anak. 

Kasus perceraian yang terjadi pada keluarga-keluarga muslim juga kian meningkat. Sebagian besar dilakukan oleh pihak istri sebagai penggugat karena alasan perselingkuhan dari pihak suami.     

Semua ini adalah buah dari sistem sekuler kapitalisme. Sistem yang membawa kerusakan pada masyarakat dan meruntuhkan sendi-sendi kehidupan manusia. Sistem ini membuat manusia tidak lagi mulia karena perilakunya bagaikan binatang. Sistem ini memperhatikan aspek individual semata. Akhirnya, menjadikan negara abai terhadap tugas dan perannya sebagai pelindung rakyatnya. Oleh karena itu, sudah seharusnya sistem rusak ini dibuang jauh dan digantikan dengan sistem Islam dalam tatanan Daulah Khilafah Islamiah.

Keluarga Muslim Butuh Khilafah

Sungguh, mewujudkan keluarga yang tenteram dan bahagia membutuhkan adanya peran sistem yang mendukung. Bagaimana pun kuatnya kita memproteksi keluarga dengan ide-ide Islam dan melakukan pembinaan intensif kepada anak, apabila sistem yang berlaku di tengah kehidupan keluarga tidak menggunakan hukum syarak, akan sulit mewujudkan dan mempertahankan bangunan keluarga yang kokoh. Gempuran dari luar akan senantiasa menghadang, baik berupa pemikiran-pemikiran merusak, maupun rintangan berupa kesulitan ekonomi. Ini akan berdampak pada sulitnya pemenuhan kebutuhan fisik dan nonfisik anggota keluarga. Dari sinilah biasanya muncul berbagai penyimpangan.

Oleh karena itu, penataan kehidupan yang benar dan berkaitan dengan semua urusan sangat diperlukan. Hanya dengan sistem politik Islam, semua ini bisa terwujud. Sistem politik Islam mampu menyolusi semua persoalan, baik persoalan individu, keluarga, maupun masyarakat. Sistem Islam mampu membendung serangan musuh-musuh Islam dan menjaga masyarakat agar tetap dalam keimanan dan tatanan yang sesuai aturan Islam. Hal ini dilakukan dengan penerapan syariat Islam secara kafah sehingga tercipta tatanan masyarakat yang baik, damai, dan sejahtera, serta dipenuhi ampunan dan keridaan Allah Taala.

Di bawah naungan syariat Islam, beban orang tua untuk menyediakan pendidikan islami yang berkualitas secara cuma-cuma akan ringan. Demikian pula, syariat Islam mampu membendung semua ideologi rusak agar tidak masuk ke tengah umat. Oleh karenanya, seluruh keluarga muslim yang diberkahi Allah Swt., mari menguatkan tekad dan bergandengan tangan untuk mengembalikan tegaknya aturan Islam. Dengan demikian, kebahagiaan hakiki dalam naungan khilafah Islamiah akan tercapai.

Hal ini merupakan keniscayaan, karena khilafah atau negara yang dipimpin oleh seorang khalifah adalah junnah atau perisai umat. Layaknya perisai, ia bertanggung jawab penuh terhadap rakyatnya. Rasulullah saw. bersabda, ”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya.” (HR Bukhari, Muslim, Ahmad).

Demikianlah keunggulan sistem kehidupan Islam. Tidak ada sistem lain yang mampu menandinginya. Masihkah kita berharap pada sistem sekuler kapitalisme yang nyata telah gagal melindungi rakyatnya? Tentu tidak! Keluarga muslim tetap tidak boleh menyerah pada keadaan. Masih banyak aktivitas kebaikan bernilai pahala yang bisa dilakukan agar terhindar dari jebakan sistem rusak ini. Bahkan, kita harus berjuang bersama keluarga muslim lainnya untuk mewujudkan kembalinya khilafah ke pangkuan umat Islam. Apa saja yang bisa dilakukan ?

Berjuang Melawan Jebakan Sekuler Kapitalisme  

Setiap keluarga muslim tentu sangat menginginkan kehidupan keluarganya selalu berjalan sesuai ketetapan Allah. Mereka tidak tergerus oleh corak kehidupan yang rusak. Walaupun memang bukan perkara mudah, tetapi ada beberapa hal yang bisa diupayakan oleh keluarga muslim.

1. Membentengi keluarga dengan akidah Islam.

Islam mengajarkan kepada kita agar menjadikan akidah Islam sebagai benteng yang melindungi pemikiran keluarga kita dari pemikiran-pemikiran kufur yang bertentangan dengan Islam, seperti demokrasi, sekularisme, liberalisme, dan sebagainya. Dengan demikian, akan terwujud iman yang kuat dalam diri anggota keluarga muslim. Ini akan melindungi keluarga kita dari berbagai budaya dan gaya hidup kufur yang rusak dan merusak, yang disodorkan sistem sekuler kapitalisme.

Keimanan yang kuat ini akan terwujud dengan meyakini dan memahami bahwa Allah adalah Al-Khalik, Al-Mudabbir. Artinya, memahami bahwa hanya Allah yang berhak disembah dan membuat aturan untuk manusia. Sebaliknya, manusia berkewajiban taat dan melaksanakan semua aturan-Nya. Oleh karenanya, setiap anggota keluarga tidak boleh mengambil hukum-hukum yang bukan berasal dari Allah Taala. Dengan iman yang kuat, setiap anggota keluarga akan memahami tujuan hidupnya, yakni untuk beribadah kepada Allah Taala.

2. Menjadikan seluruh anggota keluarga taat syariat.

Keluarga muslim akan terjaga jika setiap anggotanya menjadikan syariat Islam, yakni halal dan haram sebagai standar berbuat dan menilai sesuatu. Di sanalah letak keridaan Allah. Baik atau buruknya suatu aktivitas haruslah ditimbang berdasarkan ketentuan syariat, bukan karena hawa nafsunya, suka atau tidak suka.

Sesungguhnya, yang paling mengetahui hal yang baik atau buruk bagi manusia hanyalah Allah Swt., Sang Pencipta manusia. Ini sebagaimana firman-Nya, “Bisa jadi kalian tidak menyukai sesuatu, padahal sesuatu itu baik bagi kalian. Bisa jadi kalian menyukai sesuatu, padahal sesuatu itu buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.“ (QS Al baqarah: 216).

3. Bersandar hanya kepada Allah dan menguatkan idrak shilah billah.

Di tengah sistem rusak ini, hendaklah kita selalu menjaga hati, jiwa, dan kewarasan kita. Oleh karenanya, sudah seharusnya kita selalu mendekat kepada Allah Taala. Dengan demikian, kita mampu mengarahkan kecenderungan-kecenderungan kita di sesuai tuntunan Allah Swt. dan bisa berpikir benar. 

Banyak hal yang bisa kita lakukan, di antaranya banyak berzikir, berdoa, sedekah, puasa dan salat sunah, serta amalan sunah lainnya. Lebih baik lagi jika kita sempurnakan dengan tahajud, senantiasa mengadukan seluruh permasalahan hidup hanya kepada-Nya. Kita pun akan mendapatkan pahala dan ketenangan dari Allah Taala.

4. Rajin menghadiri majelis ilmu agar paham Islam kafah.

Pemikiran dan pemahaman yang lahir dari sistem kapitalisme terus disebarkan di tengah umat dengan bahasa yang indah, padahal itu semua adalah racun berbalut madu. Di sinilah pentingnya setiap anggota keluarga membina diri dengan pemahaman dan tsaqafah Islam yang lurus. Ketika setiap keluarga muslim memahami Islam dengan benar, mereka akan mampu membedakan pemikiran yang benar dan yang salah sehingga tidak mudah terjebak perbuatan dan tingkah laku menyimpang.

Langkah yang paling mudah untuk mewujudkan ini semua adalah dengan istikamah menghadiri majelis-majelis ilmu yang membahas Islam kafah. Pahami Islam kafah, lalu dakwahkan ke tengah umat. Ini semua akan menjadi benteng kokoh agar tetap waras dan teguh menjalankan syariat-Nya.

5. Menjadikan dakwah sebagai bagian penting kehidupan keluarga.

Untuk mewujudkan suasana takwa, senantiasa terikat aturan Allah, dan semua fungsi keluarga berjalan baik, perlu menjadikan dakwah atau amar makruf nahi mungkar sebagai bagian penting dari kehidupan sehari-hari seluruh anggota keluarga. Mereka akan senantiasa saling mengingatkan, berlomba dalam kebaikan, dan mengukuhkan semangat.  

Mereka juga akan saling mendukung sebagai sebuah tim dakwah terkecil dan saling memberi nasihat. Menyelaraskan antara tugas dalam keluarga dengan dakwah akan terasa berat jika tidak saling mendukung dan membantu. Oleh karenanya, setiap anggota keluarga harus terus saling menguatkan agar aktivitas dakwah berjalan baik. Allah Swt. berfirman, “Saling bantulah kalian dalam (mengerjakan) kebaikan dan ketakwaan, jangan saling tolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS Al-Maidah: 2).

6. Berjuang bersama keluarga muslim lainnya untuk menegakkan khilafah.

Permasalahan kompleks yang dihadapi keluarga-keluarga muslim saat ini adalah buah penerapan sistem sekuler kapitalisme. Semua ini akan berakhir jika syariat Islam diterapkan secara kafah dan hanya akan terwujud dalam naungan khilafah Islamiah. Oleh karena itu, menegakkan khilafah merupakan perjuangan yang harus dilakukan oleh keluarga muslim.

Menegakkan khilafah merupakan “mega proyek” yang tidak bisa dilakukan hanya oleh individu, tetapi harus dilakukan oleh umat Islam secara berjemaah. Rasulullah saw. telah mencontohkan bahwa menapaki jalan dakwah adalah secara berjemaah. Oleh karenanya, menjadi bagian dari jemaah dakwah merupakan hal yang wajib dilakukan oleh keluarga muslim.

Demikianlah beberapa upaya agar keluarga muslim tidak tergoda dan terjebak racun-racun kapitalisme yang bisa menjauhkan dari Islam dan menggelincirkan kepada kubangan dosa, naudzubillaahi min dzalika. Hanya saja, ini semua akan terwujud secara hakiki jika seluruh aturan Allah tegak di dunia ini dalam bingkai khilafah.

Oleh karena itu, keluarga muslim harus bersatu padu, bergandengan tangan, dan melangkah bersama, berjuang demi tegaknya kembali khilafah Islamiah. Telah terbukti selama belasan abad, khilafah Islamiah mampu menjaga umat manusi dalam kesejahteraan dan keberkahan, serta menghindari dari malapetaka. Wallahualam bissawab. [MNews/YG]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *