Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, KELUARGA — Konsumerisme dan hedonisme yang dijajakan kapitalisme sekuler telah berhasil menjerat kehidupan remaja. Lihatlah perayaan Valentine Day setiap Februari seolah menjadi bagian kehidupan remaja muslim hari ini. Mulai dari promosi berbagai produk, hingga perilaku bebas mengatasnamakan cinta. Sejatinya, ini adalah gempuran produk industri para kapitalis yang serakah memanfaatkan potensi remaja bagi keuntungan materi mereka.
Keluarga muslim harus mewaspadai hal ini. Industri gaya hidup yang mengeksploitasi kesenangan sengaja diciptakan para kapitalis sekuler untuk menjauhkan generasi muda muslim dari Islam. Sudah seharusnya kaum muslim mengembalikan pemahaman cinta remaja ke jalan yang diridai Islam saja.
Cinta yang Utama
Allah Swt. berfirman, “Katakanlah (Muhammad), ‘Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, pasangan-pasanganmu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, dan perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, serta tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan daripada berjihad di jalan-Nya, tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Allah tidak memberi petunjuk terhadap kaum yang fasik.’” (QS At Taubah: 24).
Ibnu Abu Hatim mengatakan, “Telah menceritakan kepada kami, ayahku, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Muhammad At-Tanafisi, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Musa ibnu Abdul A’la ibnu A’yun, dari Yahya ibnu Abu Kasir, dari Urwah, dari Aisyah ra. yang menceritakan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, ‘Tiada lain (ajaran) agama itu, melainkan cinta karena Allah dan benci karena Allah.'” Allah Swt. berfirman, “Katakanlah, ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku.'” (QS Ali Imran: 31).
Harus ada upaya dari kaum muslim untuk memahami bahwa Allah memerintahkan kepada kita semua bahwa prioritas pertama adalah mencintai Allah Taala. Kemudian, mengikuti Rasulullah saw. dengan menjalankan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dengan kata lain, menanamkan dan menumbuhkan cinta yang utama kepada Allah dan Rasul-Nya, lalu menjadi insan yang bertakwa.
Terjangan propaganda kapitalisme sekuler harus diatasi dengan pembinaan Islam intensif kepada remaja muslim. Dengan demikian, Islam memandu pikiran, hati, dan kecenderungan remaja. Dengan pembinaan intensif ini, remaja akan diarahkan untuk menempatkan rasa cinta yang benar sesuai syariat Islam sehingga mendapatkan rida Allah Taala.
Keluarga yang Mencintai Allah dan Rasul-Nya
Menanamkan dan menumbuhsuburkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya tidak hanya melalui pembinaan. Remaja pun membutuhkan suasana dan contoh implementasi dari penempatan rasa cinta yang benar sesuai tuntunan Islam. Ceramah dan petuah saja tentu tidak cukup, karena bisa jadi hanya didengar tetapi remaja tidak mengerti pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari.
Di sinilah pentingnya keluarga muslim senantiasa mengkaji Islam dan berupaya menjalani proses takwa bersama. Dengan demikian akan menjadi keluarga yang senantiasa melaksanakan ketaatan dalam setiap aktivitas yang dilakukan.
Berlomba melakukan kebaikan di dalam rumah tangga adalah dalam rangka kecintaan kepada Islam, termasuk saling mengajak dan mengingatkan dalam kebaikan tersebut. Begitu pula saat perasaan benci atau tidak suka muncul, tuntunan yang harus digunakan adalah Islam saja, bukan yang lain.
Dari Anas bin Malik, dari Nabi saw., beliau bersabda, “Tiga (perkara) yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman, yakni Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada selain keduanya. Siapa yang bila mencintai seseorang, ia tidak mencintai orang itu, kecuali karena Allah azza wajalla. Siapa yang benci kembali kepada kekufuran, seperti ia benci bila dilempar ke neraka.” (HR Bukhari).
Bersama Meraih Cinta-Nya
Pada setiap kesempatan, hendaklah orang tua membersamai anak remaja mereka dengan cinta. Orang tua mengajari, membimbing, menasihati, dan menegur adalah dalam rangka menumbuhkan ketaatan kepada Allah dalam kehidupan keluarga. Ini semua dilakukan karena keluarga muslim menjadikan tujuan hidup mereka adalah meraih rida dan cinta Allah Swt. kepada keluarga mereka.
Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw., beliau bersabda, “Apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia akan menyeru Jibril, ‘Sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah ia.’ Jibril pun mencintai orang tersebut, lalu menyeru kepada penghuni langit, “Sesungguhnya, Allah mencintai fulan, maka cintailah fulan.” Kemudian, penduduk langit pun mencintai orang tersebut hingga akhirnya ditetapkan bagi fulan untuk diterima di bumi.” (HR Bukhari).
Anas bin Malik berkata, “Seseorang datang menemui Rasulullah saw., lalu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kapan akan terjadi hari kiamat?’ Beliau bersabda, ‘Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?’ Ia menjawab, ‘Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.’ Kemudian, beliau bersabda, ‘Sesungguhnya, engkau akan bersama-sama dengan orang yang engkau cintai.’” (HR Muslim). [MNews/YG]
