[Nafsiyah] Idealisme dan Cita-Cita Luhur

[Nafsiyah] Idealisme dan Cita-Cita Luhur

Penulis: K.H. Hafidz Abdurrahman

Muslimah News, NAFSIYAH — Dalam bahasa Arab, idealisme dan cita-cita luhur itu disebut “himmah”, bentuk pecahan dari lafaz “hamm[un]”.

“Hamm[un]” adalah keinginan awal, karena itu keinginan ini kadang masih diselimuti kegamangan, antara iya dan tidak. Tetapi, “himmah” adalah keinginan final (nihayatu al-iradah), yang harus diwujudkan. Hanya saja, “himmah” ini kadang tinggi, kadang rendah. Kembali kepada masing-masing orang.

Oleh karena itu, Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah, dalam kitabnya, Madariju as-Salikin (tangga bagi para salik), menjelaskan,

إن همة العبد إذا تعلقت بالحق تعالى طلبا صادقا خالصا مخضا فتلك هي الهمة العالية.

“Sesungguhnya, “himmah” (cita-cita atau idealisme) hamba, jika diikatkan dengan al-Haq (Allah Swt.), dengan keinginan yang jujur, ikhlas, dan murni (semata karena dan untuk Allah), maka itulah yang disebut “himmah” (cita-cita atau idealisme) yang tinggi.”

Maka, siapa pun yang mempunyai “himmah” yang tinggi, tidak akan berpaling kepada yang lain. Hanya saja, kejujuran, keikhlasan, dan ketulusan ini hanya bisa diraih oleh orang-orang yang menjadikan akidahnya, akidah Islam sebagai kaidah berpikir bagi akal dan nafsunya. Karena hanya dengan cara seperti itu, dia benar-benar tidak peduli selain Allah. Mau tidak ikhlas tidak bisa. Mau tidak jujur pun tidak bisa.

Oleh karena itu, orang yang mempunyai “himmah” yang tinggi ini dalam waktu singkat bisa meraih apa yang menjadi cita-citanya dan apa yang diharapkannya. Dengan catatan, ia tidak diadang berbagai rintangan dan dijegal oleh berbagai hambatan.

Mengapa demikian? Karena kekuatan fisiknya, pandangan, pendengaran, gerak langkahnya, dan keyakinan hatinya semuanya dipersatukan dengan Allah. Menjalankan apa yang Allah titahkan. Dia pun berserah diri total dan bersandar hanya kepada-Nya.

Berbagai tipuan dunia tidak sanggup memalingkannya dan pesona wanita, harta, dan takhta tidak mampu memalingkan, apalagi meruntuhkan “himmah”-nya yang tinggi itu. Semua karena akidahnya.

Maka, pesan Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah,

وأول نبضات الهمة: تصون القلب عن وحشة الرغبة في الفاني، وتحمله على الرغبة في الباقي، وتصفيه من كدر التواني

“Denyut pertama cita-cita itu adalah, ketika Anda menjaga hati dari kejamnya keinginan pada yang fana. Ketika Anda membawa hati untuk menginginkan yang abadi dan membersihkannya dari kerak-kerak kemalasan.”

Begitulah, karena keinginan pada yang fana sering kali menggoda, bahkan memalingkan kita. Nafsu itu tidak harus dipenuhi, tetapi harus dialihkan kepada keinginan yang abadi, yaitu kehidupan akhirat dan apa yang ada dijanjikan oleh Allah kepada kita di sana nanti.

Al-Busyiri, dalam bait Qasidah Burdah-nya mengingatkan,

كم من حسنات لذة للمرء قاتلة

“Betapa banyak kebaikan membawa nikmat, tetapi ia menjadi pembunuh bagi seseorang.”

Kenikmatan yang membuatnya berpaling dari Allah dan akhirat. Kenikmatan fana, yang membuatnya sanggup mencampakkan ajaran-Nya, bahkan memusuhi syariat-Nya nan mulia. Padahal, semua itu fana.

Oleh karena itu, apa yang kita tanam hari ini, sesungguhnya itulah yang kelak akan kita petik. Rumah yang kelak akan kita tempati di sana, itulah “rumah” yang kita bangun hari ini di sini.

Begitulah nasihat menantu Rasulullah saw., Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib,

لا دار للمرء بعد الموت يسكنها
إلا اللتي كانت قبل الموت يبنيها

“Tidak ada satu rumah pun yang akan ditempati seseorang setelah dia mati, kecuali rumah yang telah dia bangun sebelum dia mati.”

“Rumah” di sini tidak lain adalah amal perbuatan kita, sekecil apa pun perbuatan itu. Semoga kita bisa mencontoh mereka, dengan “himmah” yang sama. Aamiin. [MNews/Nsy]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *