[Tarikh Khulafa] Sultan Murad bin Orhan (761 – 791 H)

[Tarikh Khulafa] Sultan Murad bin Orhan (761 – 791 H)

Penulis: Nabila Ummu Anas

Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Sultan Murad I adalah pemimpin Utsmani ketiga dan berkuasa sepeninggal ayahnya. Sultan Murad I dikenal sebagai sosok yang pemberani, mujahid, dermawan, dan memiliki pemahaman agama yang baik. Dia adalah pemimpin yang adil terhadap rakyat dan tentaranya, gemar berjihad, membangun masjid, sekolah, dan tempat pengungsian.

Di sekeliling Sultan Murad I terdapat para panglima pilihan, orang-orang terbaik, dan kalangan militer. Dia membentuk dewan permusyawaratan yang terdiri dari mereka itu. Dia mampu meluaskan wilayah kekuasaannya di Asia kecil dan Eropa secara bersamaan.

Di Eropa, tentara Daulah Utsmaniyyah menyerang wilayah-wilayah Kekaisaran Byzantium, lalu berhasil menduduki Kota Edirne pada tahun 762 H. Kota Edirne adalah sebuah tempat yang sangat strategis di wilayah Balkan dan dianggap sebagai kota kedua di wilayah Kekaisaran Byzantium, setelah Kota Konstantinopel.

Edirne Dijadikan sebagai Ibu Kota Daulah Utsmaniyyah

Sultan Murad I menjadikan Kota Edirne sebagai ibu kota Daulah Utsmaniyyah sejak tahun 768 H. Oleh karena itulah, ibu kota Daulah Utsmaniyyah berpindah ke Eropa dan jadilah Edirne sebagai ibu kota Islam.

Tujuan Sultan Murad I dalam pemindahan ibu kota ini adalah:

1. Memanfaatkan pertahanan-pertahanan militer yang kokoh di Kota Edirne dan kedekatannya dengan medan jihad.

2. Sultan Murad I berkeinginan menyatukan semua wilayah Eropa yang telah dikuasai yang perjalanan jihad pasukan Utsmani sudah sampai ke sana dan kaki-kaki mereka berdiri kokoh di sana.

3. Di ibu kota baru ini, Sultan Murad I mengumpulkan semua elemen yang dibutuhkan dalam sebuah negara dan pemerintahan. Oleh karenanya, terbentuklah di ibu kota Edirne kelompok pegawai, tentara, penegak hukum, dan ulama. Di kota ini didirikan rumah-rumah peradilan, sekolah-sekolah modern, serta markas-markas militer yang menjadi tempat latihan pasukan jihad.

Kota Edirne tetap dalam keadaan seperti ini dari sisi politik, militer, manajemen, kebudayaan, dan keagamaan hingga pasukan Daulah Utsmaniyyah berhasil menaklukkan Kota Konstantinopel pada tahun 858 H. Kota Konstantinopel kemudian menjadi ibu kota Daulah Utsmaniyyah.

Melawan Koalisi Salibis

Sultan Murad I terus melancarkan jihad dan dakwah guna menaklukkan wilayah-wilayah di Eropa. Pasukan Utsmani terus bergerak menuju kawasan Macedonia. Kemenangan-kemenangan yang dicapai Sultan Murad I ternyata menyulut reaksi orang-orang Kristen. Kemudian orang-orang Kristen membentuk koalisi salibis Eropa-Balkan yang disetujui oleh Paus V. Koalisi ini terdiri dari orang-orang Serbia, Bulgaria, Hongaria, dan penduduk kawasan Walachia.

Negara-negara anggota koalisi itu mampu menghimpun pasukan sebanyak enam puluh ribu tentara. Pasukan koalisi Eropa ini ditugaskan untuk mengadang pasukan Utsmani yang dipimpin Lala Syahin dengan kekuatan yang jauh lebih sedikit dibandingkan pasukan koalisi tersebut.

Panglima Lala Syahin bersama tentaranya menyambut pasukan koalisi salibis Eropa di sebuah kota bernama Chernomen, sebuah daerah dekat sungai Maritsa. Di tempat inilah terjadi pertempuran sengit antara kedua belah pihak dengan kekalahan pasukan koalisi salibis Eropa.

Sultan Murad I sendiri ketika itu sedang sibuk memimpin peperangan di Asia Kecil dan dia pun mampu menaklukkan beberapa kota. Setelah itu, Sultan Murad I kembali ke ibu kota untuk mengatur kembali wilayah-wilayah yang telah berhasil ditaklukkan.

Kemenangan pasukan Daulah Utsmaniyyah pada pertempuran di tepi Sungai Maritsa ini menghasilkan beberapa hal yang sangat penting, di antaranya:

1. Mereka dapat menuntaskan penaklukkan wilayah Thrace dan Macedonia, serta berhasil mencapai wilayah selatan Bulgaria dan timur Serbia.

2. Wilayah-wilayah kekuasaan Byzantium, Bulgaria, dan Serbia berjatuhan ke tangan pasukan Utsmani seperti jatuhnya dedaunan pada musim gugur.

Perjanjian antara Daulah Utsmaniyyah dengan Negara Regusa

Ketika kekuasaan Daulah Utsmaniyyah semakin kukuh, maka negara-negara tetangga dilanda ketakutan, khususnya negara-negara yang lemah. Oleh sebab itu, Republik Regusa bergegas mengirimkan utusannya kepada Sultan Murad I untuk mengadakan perjanjian damai dan perdagangan. Republik Regusa berjanji akan membayar upeti tahunan sebesar lima ratus keping emas. Ini adalah perjanjian pertama yang terjadi antara Daulah Utsmaniyyah dan negara lain. [MNews/Rgl]

Sumber: Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi, Sejarah Daulah Utsmaniyah, Faktor-Faktor Kebangkitan dan Sebab-Sebab Keruntuhannya, Ummul Qura

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *