Penulis: Chusnatul Jannah
Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Ia dijuluki Sitti asy-Syam atau Nyonya Besar Negeri Syam. Julukan tersebut diberikan karena saudara-saudaranya, anak-anaknya, keponakannya, dan famili dekatnya menjadi penguasa di wilayah Syam. Ia merupakan saudari perempuan Sultan Shalahuddin al-Ayyubi, panglima perang pembebas Palestina. Ia memiliki 35 saudara dan sebagian besar dari mereka adalah penguasa wilayah Syam. Meski tumbuh di lingkungan keluarga penguasa, Rabi’ah Khatun memiliki sifat dermawan yang baik. Ia lebih mencintai apa yang ada di sisi Allah Taala. Kekayaan, jabatan, dan lingkaran kekuasaaan yang menyelimutinya tidak membuatnya terlena.
Rabi’ah menikah dengan Sa’duddin Az-Zanky, putra Mu’inuddin Zanky (Emir Damaskus). Sa’duddin merupakan kakak dari Khatun Ismatuddin (istri mendiang Sultan Nuruddin Zanky yang kemudian menikah dengan Shalahuddin al-Ayyubi). Setelah kematian suaminya, Rabi’ah menikah dengan Al-Muzhaffar Abu Sa’id al-Kaukibary, gubernur provinsi Irbil di Irak utara pada masa pemerintahan Shalahuddin. Muzhaffar juga berpartisipasi dalam rombongan jihad Shalahuddin saat pengepungan benteng Al-Karak di Yordania, serta pertempuran hidup dan mati melawan tentara Salib di pertempuran Hithin. Rabi’ah membersamainya selama empat puluh tahun. Setelah suaminya meninggal, ia kembali ke Damaskus.
Dermawan
Rabi’ah dikenal sebagai perempuan yang gemar berbuat kebaikan dan dermawan, terutama kepada fakir miskin. Setiap tahun, rumahnya selalu menjadi tempat pengumpulan emas, makanan, minuman, obat-obatan, serta berbagai kebutuhan lainnya untuk didistribusikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Meski lahir dan besar dalam gemilang kemewahan, kehidupan Rabi’ah sangat zuhud. Karena kezuhudannya ini, saat meninggal, ia dimakamkan di pelataran rumah yang telah dijadikannya untuk sekolah As-Shahibah di Damaskus. Ia berpengaruh sangat besar, sebagaimana sosok kakaknya Sultan Shalahuddin al-Ayyubi yang gigih membela kebenaran, orang-orang lemah, dan terzalimi.
Ia merupakan seorang ulama dari kalangan perempuan muslimah. Syekh ‘Athiyya Muhammad Salim pernah berkata perihal dirinya, “Ketika aku mengajar di provinsi Ihsa, sungguh aku pernah melihat sendiri sebuah manuskrip Sunan Abu Dawud dari keluarga Al-Mubarak, di dalamnya terdapat komentar yang merupakan pendapat saudari Shalahuddin Al-Ayyubi.”
Sumbangsihnya dalam Pendidikan
Rabi’ah merupakan ulama ahli ilmu yang mendedikasikan keilmuannya untuk pendidikan. Di antaranya, ia membangun Madrasah As-Shâhibah di Damaskus pada 628 H/1231 M, bermazhab Hambali yang terkenal melahirkan nama-nama ulama besar mazhab Hambali. Di antaranya guru pertama di madrasah tersebut ialah Nashihuddin Abdurrahman bin al-Hanbali, kemudian diteruskan murid-murid beliau, seperti Syekh At-Taqiyy bin al-Wasithi, juga nama-nama lainnya, yakni Asy-Syihab al-Maqdisi dan Ibnu Muflih.
Sekolah yang digagas dan didirikan oleh anak bungsu keluarga Ayyubiyah ini masih bisa dilihat dan dikunjungi sebagai salah satu peninggalan sejarah Dinasti Ayyubiyah di Damaskus. Ulamanya tidak hanya berilmu dan berkompeten, tetapi juga memiliki semangat jihad yang senantiasa diamalkan oleh pendirinya, Rabi’ah Khatun. Sifat baik dan semangat juang Rabi’ah terinspirasi dari sosok sang kakak, Shalahuddin al-Ayyubi yang tercatat sebagai salah satu sultan terbaik pada masanya.
Khatimah
Demikianlah, kisah Rabi’ah memberi pesan penting bahwa seorang muslimah dapat mengoptimalkan perannya di berbagai bidang, utamanya dalam pendidikan. Tugasnya sebagai pendidik generasi, ia wujudkan dengan mendirikan madrasah, tempat generasi menuntut ilmu dan membentuk kepribadian saleh/salihah. [MNews/YG]
*Disarikan dari berbagai sumber
