Penguatan Moderasi Beragama di Lembaga Pendidikan, Ancaman Nyata bagi Generasi (Bagian 2/2)

Penguatan Moderasi Beragama di Lembaga Pendidikan, Ancaman Nyata bagi Generasi (Bagian 2/2)

(Sambungan dari Bagian 1/2) Muslimah News, FOKUS — Moderasi beragama adalah pemikiran berbahaya yang mengancam generasi karena beberapa hal berikut ini:

Pertama, moderasi merusak keyakinan akan kebenaran Islam.

Moderasi beragama berbahaya karena merusak keyakinan akan kebenaran Islam. Hal ini karena moderasi beragama mengajarkan prinsip semua agama benar atau semua agama sama.

Penanaman prinsip ini kepada anak anak sudah sejak dini sehingga [akhirnya] tidak masalah berpindah-pindah agama, toh semua agama benar. Toleransi terwujud dengan ucapan selamat Natal, bersama-sama menghias pohon Natal, juga memakai topi Santa Klaus atau atribut keagamaan lainnya. Bahkan, di sebuah keluarga, tidak masalah agamanya beraneka ragam antara ayah, ibu, dan anak karena semua agama menuju Tuhan dan surga yang sama, asalkan saling menyayangi dan saling menghargai.

Jelas ini bertentangan dengan akidah Islam yang mengajarkan hanya Islam agama yang benar, sedangkan agama yang lain salah. Allah Swt. berfirman dalam QS Ali Imran [3]: 19,

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama (yang diridai) disisi Allah hanyalah Islam.”

Kemudian juga Allah Swt. berfirman dalam QS Ali Imran [3]: 85,

وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُۚ وَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ ٨٥

“Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.”

Kedua, moderasi menciptakan krisis identitas dan islamofobia.

Moderasi beragama telah memperparah krisis identitas generasi muslim dan menciptakan islamofobia (ketakutan terhadap Islam). Sebab khawatir mendapat cap radikal, tidak sedikit orang tua melarang anak-anaknya mengaji. Sebab takut dianggap ekstrem, mereka juga melarang anak-anak berkerudung panjang atau pakaian muslimah seperti jilbab (gamis) yang panjang dan lebar. Tidak jarang pula ada orang tua yang lebih suka anaknya ikut kegiatan-kegiatan seni dan olah raga daripada ikut pengajian.

Bahkan, ada juga yang lebih senang kalau anaknya ikut aktivitas hura-hura dan jauh dari ajaran Islam daripada ikut kajian Islam. “Lebih baik liberal daripada radikal,” bisa jadi demikian yang ada di benak mereka.

Oleh karena itu, lahirlah generasi yang tidak paham hukum Islam dan tidak tahu cara menjadi muslim yang taat kepada Allah Rabb-nya. Akhirnya mereka tidak mau menampakkan identitas diri sebagai muslim yang taat. Tidak mau pakai kerudung panjang, tidak mau kajian apalagi dakwah, serta tidak mau melakukan apa pun yang menunjukkan identitas seorang muslim. Mereka menganggap dakwah Islam sebagai aktivitas radikal karena telah ikut campur urusan (kemaksiatan) orang lain.

Tentu ini tidak benar! Justru setiap muslim harus berdakwah dan menampakkan identitas kemuslimannya. Allah Swt. berfirman dalam QS Fushilat [41]: 33,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?'”

Ketiga, moderasi mencetak generasi sekuler.

Moderasi beragama adalah cara halus membuat generasi muslim menjadi sekuler. Melalui moderasi, ada penanaman di benak generasi bahwa syariat Islam tidak penting, yang penting adalah esensi ajaran Islam.

Juga mengatakan orang yang moderat adalah mereka yang saleh, berpegang teguh pada nilai moral dan esensi ajaran agama, serta memiliki sikap cinta tanah air, toleran, antikekerasan, dan ramah terhadap keragaman budaya lokal.[15]

Alhasil, anak-anak pun tercekoki pemahaman bahwa tidak perlu membenturkan pemahaman Islam dengan ritual budaya lokal, seperti sedekah laut, festival kebudayaan, atau ritual budaya lainnya. Semua itu adalah keragaman budaya lokal yang harus dijaga demi kerukunan bersama sekalipun itu mengajarkan kemusyrikan yang tentu saja bertentangan dengan Islam.

Mereka juga memaksa anak-anak menerima pemahaman bahwa tidak bisa menerapkan syariat Islam secara keseluruhan dalam kehidupan karena kita berada dalam sistem dan kehidupan masyarakat yang plural (beragam) dalam bingkai negara yang demokratis, maka syariat Islam hanya bisa terterapkan oleh individu, tidak bisa oleh negara.

Demikianlah, moderasi beragama mengajarkan kepada anak-anak untuk mengambil syariat Islam terkait individu, seperti ibadah ritual dan akhlak saja, tetapi meninggalkan ajaran Islam yang mengatur urusan kehidupan bermasyarakat dan bernegara (politik, ekonomi, pendidikan, sosial budaya, dan sebagainya).

Inilah yang disebut dengan sekuler, yaitu memisahkan agama dari kehidupan. Tentu saja ini bertentangan dengan Islam karena Islam memerintahkan setiap muslim untuk menjalankan syariat Islam secara keseluruhan (kafah) (Lihat QS Al-Baqarah [2]: 208).

Allah menyebut muslim yang tidak mau kafah–sehingga hanya mengambil sebagian dari Kitab dan ingkar terhadap sebagian lainnya–sebagai orang yang hina di dunia dan akan mendapatkan azab yang pedih di hari akhir (lihat QS Al-Baqarah [2]: 85).

Keempat, moderasi menghalangi pemahaman akan kesempurnaan Islam.

Moderasi beragama telah menghalangi generasi muslim dari memahami kesempurnaan agama Islam. Mereka terhalangi untuk belajar syariat Islam kafah. Pada akhirnya, mereka hanya tahu wajibnya salat dan puasa, juga wajibnya bersikap jujur, amanah, dan akhlak mulia lainnya tanpa tahu wajibnya menegakkan kepemimpinan Islam, wajibnya menerapkan sistem ekonomi Islam, wajibnya menerapkan peradilan Islam dan hukum hukum Islam lainnya.

Mereka pun tidak tahu bahwa syariat Islam mampu menyelesaikan semua problem yang menimpa kaum muslim hari ini ketika tegak secara sempurna dalam sebuah institusi negara Islam, yaitu Daulah Khilafah.

Seandainya mereka mendapatkan pengajaran Islam yang benar, yaitu Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan (kafah), niscaya mereka akan memahami bahwa Islam adalah agama sempurna yang tidak butuh hukum, pemikiran, atau konsep lainnya, sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS Al-Maidah [5]: 3,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ‘…

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam sebagai agama bagimu …”

Kelima, moderasi adalah westernisasi.

Moderasi beragama hakikatnya adalah westernisasi (proses pembaratan atau peniruan budaya Barat) di segala aspek kehidupan. Melalui 4F (fun, fashion, film, food), Barat terus mempropagandakan ideologinya.

Remaja muslim banyak yang terjebak dalam arus westernisasi ini sehingga membanggakan segala sesuatu dari budaya Barat dan merasa rendah diri dengan budaya Islam. Perilaku islami yang merupakan bagian dari budaya Islam seperti hal berpakaian, makan, dan sebagainya, justru mereka tinggalkan karena menganggapnya ketinggalan zaman.

Pemikiran Islam juga mereka sebut kolot dan terbelakang, sementara pemikiran Barat yang sekuler dan liberal mereka anggap modern dan maju. Inilah sesungguhnya yang Barat inginkan melalui moderasi beragama, yaitu mencetak generasi muslim berkepribadian Barat yang sekuler dan liberal.

Hal ini sebagaimana pernyataan Angel Rabasa (peneliti senior pada RAND Corporation, yaitu NGO yang memberi saran dan masukan ke Security Council Amerika Serikat) ketika ditanya Gus Hamid (Prof Dr. Hamid Fahmy Zarkasy, seorang guru besar filsafat Islam) di sebuah simposium di Tokyo, “Apa itu moderat?” Maka jawabnya, “Moderat artinya adalah orang yang mau menerima pluralisme, feminisme, kesetaraan gender, demokrasi, kemudian humanisme dan lain sebagainya.”[16]

Jika merujuk pada penjelasan Angel Rabasa kepada Gus Hamid ini, jelas moderasi didesain untuk mendorong umat Islam menerima segala yang dinilai baik oleh peradaban Barat. Dengan kata lain, jika ada umat Islam yang tidak menerima segala yang disiarkan dan dipropagandakan Barat, ia tidak moderat. Oleh karena itu, harus menganggapnya sebagai radikal dan beragam stigma buatan Barat.[16]

Demikianlah, moderasi beragama adalah ancaman nyata bagi generasi muslim, lalu bagaimana seharusnya kita bersikap?

Katakan Tidak pada Moderasi!

Sudah jelas, “Say no to moderasi!” Generasi harus kita lindungi dari bahaya moderasi beragama ataupun pemikiran kufur lainnya. Untuk itu, kita perlu memahamkan bahwa moderasi bukan berasal dari Islam, bertentangan dengan Islam, dan sangat berbahaya karena menjauhkan generasi dari ajaran Islam yang benar.

Moderasi seolah manis, membawa kebaikan dan berbagai kemaslahatan, tetapi hakikatnya ia adalah racun yang merusak generasi. Moderasi adalah racun berbalut madu. Itulah yang perlu kita jelaskan pada mereka.

Hanya saja, upaya melindungi generasi butuh peran serta seluruh komponen umat. Semua pihak, baik negara, masyarakat, lembaga pendidikan maupun keluarga harus berperan aktif dan turut serta dalam melindungi generasi. Semua ini tidak mungkin terlaksana dalam sistem kufur hari ini, saat masyarakat dan negara justru malah berandil besar dalam merusak generasi.

Perlindungan secara menyeluruh terhadap generasi hanya mungkin terlaksana jika syariat Islam terterapkan secara keseluruhan (kafah) dalam sistem pemerintahan Islam, yakni Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Sudah selayaknya perjuangan tegaknya Khilafah menjadi agenda umat Islam hari ini. Wallahualam. [MNews]

Daftar Referensi

[1] https://setkab.go.id/empat-pesan-presiden-jokowi-untuk-tingkatkan-moderasi-beragama/

[2] https://kemenag.go.id/read/menag-yaqut-minta-jajaran-kemenag-percepat-implementasi-moderasi-beragama-oqwa6

[3] https://www.antaranews.com/berita/2409869/kemenag-rilis-buku-pedoman-penguatan-moderasi-beragama

[4] https://kemenag.go.id/read/kemenag-moderasi-beragama-perlu-diajarkan-sejak-dini-q9qpx

[5] https://jogja.antaranews.com/berita/516093/yogyakarta-mengenalkan-parenting-kebangsaan-tumbuhkan-nasionalisme-anak

[6] https://kemenag.go.id/read/penguatan-moderasi-beragama-di-sekolah-kemenag-tekankan-tiga-hal

[7] https://www.kemenag.go.id/read/kemenag-siapkan-fasilitator-moderasi-beragama-untuk-sekolah-dan-perguruan-tinggi-umum

[8)]https://www.kemenag.go.id/read/kemenag-kader-pemuda-indonesia-duta-moderasi-beragama

[9] https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210923092908-20-698309/nadiem-buat-kurikulum-moderasi-agama-demi-hapus-intoleransi

[10] https://kemenag.go.id/berita/read/515754

[11] https://kemenag.go.id/read/menag-minta-ptkin-jadi-pusat-pengembangan-moderasi-beragama

[12] https://radioedukasi.kemdikbud.go.id/read/3059/mahasiswa-ptki-diharapkan-menjadi-agen-moderasi-beragama.html

[13] https://infopublik.id/kategori/nasional-sosial-budaya/582296/acrp-menguatkan-produktivitas-ptki-serta-memperkokoh-moderasi-beragama

[14] https://www.republika.id/posts/20756/dpr-anggaran-moderasi-beragama-naik-jadi-rp-32-t

[15] https://kemenag.go.id/read/kenapa-harus-moderasi-beragama-yko6k

(16] https://www.hidayatullah.com/artikel/mimbar/read/2021/10/08/217750/gus-hamid-tentang-moderasi-beragama-dan-islam-washatiyah.html

Share

One thought on “Penguatan Moderasi Beragama di Lembaga Pendidikan, Ancaman Nyata bagi Generasi (Bagian 2/2)”

  1. Moderasi beragama adalah racun berbalut madu, manis didepan dan bisa membunuhmu di dalam, sungguh mereka memperkenalkan moderasi beragama dengan manis ke masyarakat, hingga Masyarakat pun terbuai oleh manisnya moderasi beragama yg mereka tunjukkan, padahal sebenarnya itu bisa merusak para generasi dan ummat seluruhnya….
    Adakah kita diam sja melihat mereka terpuruk?
    Sudah saatnya sistem Islam diterapkan di negeri ini!!! Tugas kita memperjuangkan Islam, dan menyadarkan ummat agar terbangun dalam mimpi indahnya!!!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *