Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Setelah Utsman bin Ertugrul meninggal dunia, maka tampuk pemerintahan dipegang oleh putranya yang bernama Orhan. Sultan Orhan menjalankan politik yang sama dengan Sultan Utsman I di bidang pemerintahan dan penaklukan-penaklukan. Ini merupakan realisasi nasihat Sultan Utsman I kepada Sultan Orhan, “Kita bukanlah orang-orang yang mengobarkan peperangan untuk syahwat kekuasaan atau menguasai orang–orang, dengan Islam kita hidup dan dengannya pula kita mati.”
Semangat Al-Ghazi
Utsman bin Ertugrul, ayah Orhan adalah peletak tujuan tertinggi pembentukan Daulah Utsmaniyyah yaitu membela Islam, mengangkat benderanya di sisi-sisi timur Asia Kecil, dan menumpas kekaisaran Byzantium yang selalu mengancam kaum muslim di negara-negara mereka. Oleh karena itu, peletak batu pertama Daulah Utsmaniyyah ini diberi gelar Al-Ghazi (Sang Penyerang).
Sultan Utsman I telah menyeru kaum muslim yang terdiri dari bangsa Turki dan lainnya untuk bergabung di bawah bendera jihad di jalan Allah. Banyak orang-orang beriman yang sabar menyambut seruannya. Mereka semua didorong oleh kecintaan yang besar membela agama Allah dengan menumpas kekaisaran Byzantium.
Saat Utsman bin Ertugrul meninggal dunia, ia mewariskan Daulah Utsmaniyyah yang luasnya mencapai 16.000 km persegi. Dengan negara yang baru tumbuh ini, ia mampu menembus Laut Marmara dengan tentaranya, ia mampu mengancam dua kota utama kekaisaran Byzantium yaitu Kota Iznik dan Bursa.
Pada awal masa kepemimpinan Sultan Orhan, Kota Nicomedia (Kota Iznik) jatuh ke tangannya, yaitu sebuah kota kuno yang terletak di sebelah barat laut Asia Kecil di dekat Kota Istanbul. Di kota ini, Sultan Orhan mendirikan Universitas Utsmani yang pertama dan manajemennya diserahkan kepada Dawud Al-Qaishari, salah seorang ulama berdarah Turki Utsmani yang belajar di Mesir. Dawud Al-Qaishari bekerja keras dalam membangun lembaga kemiliteran yang sesuai dengan dasar-dasar modern dan menjadikannya sebagai tentara resmi.
Semangat Al-Ghazi ini menjalar pada diri Sultan Orhan bin Utsman. Ia sangat bersemangat untuk mewujudkan kabar gembira dari Rasulullah saw. tentang penaklukan Kota Konstantinopel.
Pembuka Jalan bagi Penakluk Konstantinopel
Para pemimpin Islam yang memahami dan meyakini kabar gembira tentang penaklukan Kota Konstantinopel ini, sangat berambisi untuk dapat merealisasikannya. Dengan landasan keimanan, berbagai upaya dan rencana strategis mereka tempuh.
Dari Abu Qobil, ia berkata, “Kami berada di sisi Abdullah bin Amr bin Ash dan beliau ditanya tentang kota mana yang dibuka terlebih dahulu, apakah Konstantinopel ataukah Romawi? Maka beliau meminta untuk diambilkan sebuah kotak, lalu beliau mengeluarkan sebuah kitab lalu berkata, ‘Berkata Abdullah bin Mas’ud, tatkala kami bersama Rasulullah saw. untuk menulis, tiba-tiba beliau ditanya, ‘Manakah kota yang terlebih dahulu dibuka, apakah Konstantinopel ataukah Romawi?’ Beliau saw. menjawab, ‘Yang dibuka terlebih dahulu adalah kota Heraklius yaitu Konstantinopel.’”
Sultan Orhan membuat rencana-rencana strategis yang bertujuan untuk mengepung Kota Konstantinopel yang merupakan ibu kota Byzantium tersebut dari arah barat dan timur secara bersamaan. Untuk mencapai tujuan tersebut, Sultan Orhan mengirim anaknya yang bernama Sulaiman untuk menyeberangi Selat Dardanelles dan memerintahkan untuk menguasai beberapa wilayah di sebelah barat.
Pada tahun 758 H, Sulaiman menyeberangi Selat Dardanelles pada malam hari bersama empat puluh pasukan berkuda Islam. Ketika mereka mencapai tepi barat, pasukan muslim berhasil menguasai beberapa kapal perang milik pasukan Romawi yang berlabuh di sana. Lalu mereka kembali dengan membawa kapal-kapal itu ke tepi timur. Pada waktu itu, Daulah Utsmaniyyah yang baru berdiri belum memiliki angkatan laut.
Di tepi timur, Sulaiman memerintahkan kepada tentaranya untuk naik ke atas kapal-kapal itu yang akan membawa mereka ke pantai Eropa. Selanjutnya mereka berhasil menaklukkan Benteng Tarnab serta Benteng Ghalibuli yang di dalamnya terdapat Benteng Jana Qal’ah, Absala, dan Rodestu. Semua benteng itu berada di Selat Dardanelles, memanjang dari utara hingga selatan.
Dengan demikian, Sultan Orhan telah melangkah jauh dan berhasil membuka jalan yang dapat dilalui oleh pemimpin selanjutnya dalam menaklukkan Kota Konstantinopel. [MNews/Rgl]
Sumber: Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi, Sejarah Daulah Utsmaniyah, Faktor-Faktor Kebangkitan dan Sebab-Sebab Keruntuhannya, Ummul Qura
