[Nafsiyah] Refleksi Rasa Syukur

[Nafsiyah] Refleksi Rasa Syukur

Penulis: Ustaz M. Taufik N.T.

Muslimah News, NAFSIYAH — Bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah merupakan salah satu kewajiban seorang muslim. Seorang hamba yang tidak pernah bersyukur kepada Allah atau kufur nikmat, sejatinya adalah orang-orang sombong yang pantas dimasukkan ke neraka-Nya. Allah Swt. telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk mengingat dan bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya. Allah Swt. berfirman,

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.” (QS Al-Baqarah: 152).

Ali Ashshabuni dalam Shafwaat al-Tafaasir menyatakan,

فاذكروني أذكركم ] أي اذكروني بالعبادة والطاعة ، أذكركم بالثواب والمغفرة [ واشكروا لي ولا تكفرون ] أي اشكروا نعمتي عليكم ولا تكفروها بالجحود والعصيان روي أن موسى عليه السلام قال : يا رب كيف أشكرك ؟ قال له ربه : ” تذكرني ولا تنساني ، فإذا ذكرتني فقد شكرتني ، وإذا نسيتنى فقد كفرتني

“(Ingatlah kalian kepada-Ku) yakni ingatlah kalian kepada-Ku dengan ibadah dan taat, niscaya Aku akan mengingat kalian dengan cara memberi pahala dan ampunan. (Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku), bermakna, “Bersyukurlah kalian atas nikmat-nikmat yang telah Aku berikan kepadamu dan jangan mengingkarinya dengan melakukan dosa dan maksiat.”

Telah diriwayatkan bahwa Nabi Musa as. pernah bertanya kepada Tuhan-nya, ”Ya Rabb, bagaimana saya bersyukur kepada Engkau? Rabb-nya menjawab, “Ingatlah Aku dan janganlah kamu lupakan Aku. Jika kamu mengingat Aku, sungguh kamu telah bersyukur kepada-Ku. Namun, jika kamu melupakan Aku, kamu telah mengingkari nikmat-Ku.”

Di ayat yang lain, Allah Swt. menyatakan,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.” (QS Al-Baqarah: 172).

Ulama-ulama tafsir menafsirkan ayat ini, “Jika kalian benar-benar menyembah kepada-Nya, bersyukurlah kalian atas nikmat-nikmat-Nya yang tidak bisa dihitung itu dengan ibadah dan janganlah menyembah selain diri-Nya.”

Oleh karena itu, bersyukur atas nikmat Allah merupakan kewajiban seorang muslim. Namun, seorang muslim harus memahami cara merefleksikan rasa syukur secara benar. Betapa banyak orang merefleksikan rasa syukurnya dengan cara-cara yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syukur itu sendiri. Misalnya, ada orang yang mewujudkan rasa syukurnya dengan cara mabuk-mabukkan, pesta pora, pergi ke tempat-tempat maksiat, bernyanyi-nyanyi hingga melupakan kewajibannya, dan seterusnya. Ada juga yang merefleksikan rasa syukurnya dengan cara menyediakan sesaji dan persembahan kepada pohon dan tempat-tempat keramat. Refleksi syukur seperti ini jelas-jelas bertentangan dengan prinsip Islam.

Untuk itulah, para ulama telah menggariskan tata cara bersyukur yang benar. Imam Ibnu Katsir menyatakan bahwa syukur harus direfleksikan dengan cara beribadah dan memupuk ketaatan kepada Allah Swt. dan meninggalkan maksiat. Pendapat senada juga dikemukakan oleh ‘Ali Al-Shabuni.

Ibadah dan taat kepada Allah Swt. serta meninggalkan larangan-larangan-Nya merupakan perwujudan rasa syukur yang sebenarnya. Orang-orang yang selalu taat kepada Allah Swt., menjalankan seluruh aturan-aturan-Nya dan sunah Nabi-Nya, pada hakikatnya adalah orang yang senantiasa bersyukur kepada Allah Taala. Sebaliknya, orang-orang yang menampik dan menolak dengan keras syariat Islam, tunduk dan patuh kepada aturan-aturan kufur, maka termasuk orang-orang yang ingkar terhadap nikmat yang diberikan Allah kepada mereka.

Allah Swt. telah menyatakan dengan sangat jelas bahwa, orang-orang yang mau bersyukur atas nikmat yang diberikan-Nya sangatlah sedikit. Kebanyakan manusia ingkar terhadap nikmat yang diberikan Allah kepada mereka. Allah Swt. berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَشْكُرُونَ

“Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas umat manusia, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukurinya.” (QS Yunus: 60).

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ فَقَالَ لَهُمُ اللَّهُ مُوتُوا ثُمَّ أَحْيَاهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka sedangkan mereka beribu-ribu jumlahnya karena takut mati, maka Allah berfirman kepada mereka, ‘Matilah kamu.’ kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (QS Al-Baqarah: 243)

Ayat-ayat di atas menunjukkan dengan jelas bahwa, kebanyakan manusia tidak mau bersyukur atas nikmat yang telah diberikan kepada mereka. Tatkala mendapatkan kenikmatan, mereka sering melupakan Allah Taala. Akan tetapi, tatkala mendapatkan kesusahan, mereka ingat dan memohon kepada Allah. Setelah terlepas dari penderitaan, mereka kembali ingkar kepada-Nya. Allah telah menyatakan dengan sangat jelas,

قُلْ مَنْ يُنَجِّيكُمْ مِنْ ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ تَدْعُونَهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً لَئِنْ أَنْجَانَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ (63) قُلِ اللَّهُ يُنَجِّيكُمْ مِنْهَا وَمِنْ كُلِّ كَرْبٍ ثُمَّ أَنْتُمْ تُشْرِكُونَ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencara di darat dan di laut, ketika kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah hati dan suara yang lembut?’ (Dengan mengatakan), “Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari bencana ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur.” Katakanlah (Muhammad), ‘Allah yang menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, namun kemudian kamu (kembali) mempersekutukan-Nya.’” (QS Al-An’am: 63–64).

Ketika manusia ditimpa berbagai macam kesusahan, mereka segera berdoa dan berjanji untuk bersyukur kepada Allah jika bencana itu dilepaskan dari mereka. Akan tetapi, ketika Allah menghindarkan mereka dari bencana, mereka lupa bersyukur bahkan kembali mempersekutukan Allah Taala. Betapa banyak orang menangis, meratap dan merengek-rengek meminta kepada Allah Swt. agar dihindarkan dari kesusahan hidup, seperti kelaparan, kekeringan, bencana alam, dan lain-lain. Mereka rela berpayah-payah memohon kepada Allah dengan penuh keikhlasan dan kerendahan hati. Akan tetapi, ketika Allah menghindarkan mereka dari kesusahan, mereka kembali menerapkan aturan-aturan kufur, bahkan menandingi aturan-aturan Allah Taala. Bukankah hal ini termasuk telah menyekutukan Allah? Bukankah refleksi syukur sebenarnya harus diwujudkan dalam bentuk menerapkan syariat Islam dan selalu berzikir kepada Allah Taala? [MNews/YG]

Sumber: mtaufiknt[dot]wordpress[dot]com

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *