Muslimah News, NAFSIYAH — Bagaimana sikap kita jika mendapati seorang pemimpin yang tidak menunaikan kewajiban dan tugasnya, serta tidak menjalankan syariat-Nya? Pertanyaan ini sering muncul di tengah umat. Persoalan ini pun harus dijawab dengan ilmu bukan dengan hawa nafsu.
Ketika umat dipimpin oleh seorang pemimpin yang membiarkan kesyirikan dan kemaksiatan terjadi di mana-mana, ditambah lagi mengabaikan petunjuk-petunjuk syariat dalam menjalankan kepemimpinannya, apakah sebagai rakyat, kita wajib menaatinya?
Tidak dimungkiri, kita dihadapkan dengan polemik ini. Menaati versus tidak menaati. Ada sekelompok orang yang mengatakan tetap wajib menaati pemimpin dalam kondisi apapun dan tidak boleh menyelisihi sedikitpun. Sebagian lain mengatakan, menaati pemimpin hanya dalam rangka kebaikan bukan kemaksiatan. Kemudian ada juga yang mengkafirkan secara mutlak seorang pemimpin meskipun pemimpin tersebut masih berstatus muslim.
Allah Swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kalian.” (QS An-Nisa: 59)
Ayat ini menggambarkan pada kita untuk menaati ulil amri (pemimpin), namun ada syarat yang harus dipenuhi atas ketaatan kita kepada ulil amri, yakni ketika ulil amri taat pada Allah dan Rasul-Nya, serta menjalankan petunjuk-petunjuk syariat dalam kepemimpinannya.
Dari Ubadah ibnu Samit, “Kami bersumpah setia kepada Rasulullah saw. untuk tunduk patuh pada semua keadaan, baik dalam keadaan semangat ataupun dalam keadaan malas, dalam keadaan sulit ataupun dalam keadaan mudah dengan mengesampingkan kepentingan pribadi, dan kami tidak akan merebut urusan dari yang berhak menerimanya.” Rasulullah saw. bersabda, ‘Terkecuali jika kalian melihat kekufuran secara terang-terangan di kalangan kalian dan ada bukti dari Allah mengenainya.’” (HR Muslim)
Artinya, seorang muslim wajib menaati pemimpin yang menjalankan syariat-Nya, terkecuali secara terang-terangan ia melihat kekufuran yang dilakukan oleh pemimpin disertai dengan buktinya. Pertanyaannya, bukankah saat ini kekufuran yang dilakukan oleh pemimpin muslim secara terang-terangan bisa kita saksikan? Apakah kebijakan yang diputuskan menzalimi ataukah tidak menzalimi rakyat?
Kita bisa menjawabnya dengan mudah dan jelas, tidak perlu penulis memberikan bantuan untuk menjawab kedua pertanyaan di atas. Lalu, Rasul saw. bersabda, “Tidak ada ketaatan di dalam maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang makruf.” (HR Bukhari dan Muslim)
Rasul pun tidak mengingkari bahwa mendengar dan taat kepada pemimpin itu dibenarkan. “Mendengar dan taat (kepada penguasa) itu memang benar, selama mereka tidak diperintahkan kepada maksiat. Jika mereka memeritahkan untuk bermaksiat, tidak boleh mendengar dan taat (dalam maksiat tersebut).” (HR Bukhari no.2955)
Jika pemimpin negara memerintah dengan kemaksiatan atau memutuskan kebijakan yang sumbernya bertentangan dengan Islam. Lantas, wajibkah kita menaatinya? Jawabannya, tidak. Tidak boleh menaatinya. Bahkan para ulama pun hanya wajib taat kepada ulil amri selama bukan dalam perkara maksiat. Sebagaimana yang dituliskan dalam syarah sahih Muslim.
Kita akan mengalami penyesalan luar biasa di yaumil akhir nanti ketika kita mengikuti pemimpin yang menyesatkan. Tsauban ra. menuturkan bahwa Rasul saw. bersabda, “Sungguh yang paling aku takuti dari umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan. Jika meletakkan pedang pada umatku, ia tidak akan mengangkat pedang itu sampai Hari Kiamat.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Dalam kitab Mawsu’ahTawhid Rabb al-‘Abid (7/8) disebutkan bahwa yang dimaksud a’immah (para pemimpin) yang di dalam hadis di atas adalah para penguasa dan para ulama serta hamba yang menghukumi masyarakat bukan atas dasar ilmu sehingga mereka menyesatkan rakyatnya. Kelak, siapapun yang mengikuti mereka akan menyesal dan akan mengadu kepada Allah Swt. sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Swt., “Mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, sungguh kami telah menaati para pemimpin dan para pembesar kami. Lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).’” (QS Al-Ahzab: 67)
Umat Islam akan terus merasakan ujian dan bencana bertubi-tubi jika hidup dalam kepemimpinan yang jauh dari syariat, pemimpin yang menyesatkan, menjauhkan masyarakat dari ajaran Islam, dan sangat keras terhadap orang-orang yang berpegang pada Islam dan memperjuangkannya.
Kembali Allah Swt. mengingatkan kita, “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS Al-Jatsiyah:18)
Akhirnya kita memahami, bahwa pemimpin kaum muslimin yang wajib ditaati ialah pemimpin yang taat pada syariat-Nya. Mewujudkan pemimpin yang demikian hanya bisa terealisasi dengan sistem Islam. No debat! Karena sistem Islam untuk diterapkan bukan diperdebatkan. [MNews/Rndy]


Maasya allah…
Sistem Islam bukan untuk diperdebatkan, melainkan untuk diterapkan. Allahu Akbar !