Penulis: M.R. Kurnia
Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Boleh saja orang mengatakan Khilafah utopis. Namun, hal demikian sebenarnya merupakan gambaran kegagalannya mengabstraksikan realitas kekinian dan masa mendatang.
Wajar saja, sebab manusia memang akalnya terbatas. Lemah lagi. Oleh sebab itu, manusia tidak berhak sombong dengan mengatakan utopis.
Bagaimana tidak, Allah Swt., Zat Maha Gagah perkasa justru memfirmankan bahwa Daulah Khilafah akan kembali. Tidak utopis! Siapa yang lebih tahu tentang masa mendatang, manusia ataukah Pencipta manusia? Selain itu, fakta yang disebut terdahulu menunjukkan bahwa dihalang-halangi atau tidak, Daulah Khilafah akan tegak.
Fakta sejarah juga banyak menunjukkan hal ini. Jangan lupa, dahulu ketika Rasulullah saw. menyebarkan Islam, beliau dituduh macam-macam. Tidak sekadar dituduh utopis, beliau bahkan disebut gila! Beliau juga digelari tukang sihir.
Namun, realitas menunjukkan, beliau yang dulunya seorang diri, berhasil menegakkan pemerintahan di Madinah. Mereka yang duIunya menentang habis-habisan pun menjadi ternganga. Bahkan, banyak di antaranya yang justru menjadi pendukung beliau.
Coba juga tengok, ketika paham komunisme tahun1800-an ditelurkan, masyarakat menyambut dingin. Namun, setelah didirikan partai komunis di Rusia, tegaklah komunisme tahun 1917.
Juga saat Indonesia dijajah Belanda, tidak terbayang akan dapat “merdeka”, padahal perjuangan sudah sejak lama. Usia perjuangan sama dengan usia penjajahan. Bagi sebagian orang, “merdeka” dari Belanda adalah utopis! Namun, bagaimana realitasnya? Belanda angkat kaki.
Jadi, sesuatu yang dikatakan utopis oleh seseorang belum tentu memang benar utopis. Sebabnya, boleh jadi sikap utopisnya ini lahir dari ketidakmampuannya memetakan realitas.
Selain itu, Allah telah mewajibkan tegaknya Khilafah untuk menerapkan Islam. Padahal, Dia Zat Maha Gagah yang tidak mungkin memerintahkan sesuatu yang tidak akan dapat dicapai. Bila Dia memerintahkan perkara utopis, bukankah perintah itu berarti main-main? Padahal, subhanallah, Allah Maha Suci dari perbuatan main-main seperti yang disangkakan sebagian orang.
Tanpa kehidupan Islam, bisakah kita berharap munculnya tatanan kehidupan yang baik, yang dapat membebaskan masyarakat dari kapitalisme di bidang ekonomi, westernisasi di bidang budaya, nasionalisme di bidang politik, dan sinkretisme di bidang agama? Atau bisakah kita mendapat kebaikan dari din Islam yang diyakini datang untuk mendatangkan rahmat bagi seluruh manusia? Bila tidak, mengapa kita masih suka berlama-lama hidup dalam kejahiliahan modern seperti sekarang ini?
Di satu sisi kita mengeluh: hidup makin susah dan makin tidak aman, harga apa-apa naik melejit, kemaksiatan merajalela, pornografi mudah dijumpai, remaja makin brutal, memilih sekolah tempat mendidik anak menjadi saleh cukup sulit, 6 dari 10 remaja bergaul bebas, birokrat makin tidak bisa diharapkan, tokoh masyarakat juga banyak yang sulit dipercaya, AS makin menunjukkan arogansinya, pembantaian kaum muslim bukan hanya di luar negeri, tetapi juga di depan mata sendiri, kristenisasi atas nama bantuan sosial sejak dulu terus berlangsung, dan seribu satu keluhan lainnya.
Namun, di sisi lain, mengapa kita mendiamkan begitu saja agama Islam yang kita yakini pasti dapat menyelesaikan semua masalah dan mengatur kehidupan masyarakat dengan sebaik-baiknya, teronggok bagai barang antik, tidak direalisasikan dalam kehidupan nyata? Itu sama saja dengan seseorang yang marah-marah ketika tubuhnya menderita penyakit kronis, tetapi obat mujarab di tangan hanya dilihat saja.
Berdasarkan hal tadi, siapa saja yang mengaku dirinya mencintai Allah, sudah sepatutnya memilih jalan yang benar, yakni menjalankan sistem syariat lslam sesuai suri teladan Rasulllah saw.. Allah Taala berfirman,
“Katakanlah, ‘Apabila kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah jalanku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.'” (QS Ali Imran: 31).
Dengan kata lain, seorang muslim yang amat sangat cintanya kepada Allah akan berusaha mengikuti jalan Rasulullah dengan menjalankan seluruh hukum-hukum Allah melalui tegaknya sistem peradilan Islam, sistem ekonomi Islam, sistem sosial Islam, sistem pendidikan Islam, sistem pemerintahan Islam dalam wujud Daulah Khilafah Islamiah Rasyidah yang mengikuti jalan kenabian.
Setiap muslim yang sadar akan mendukung, bahkan bergabung dengan saudara-saudaranya yang secara ikhlas dan penuh kesungguhan masih terus berjuang secara bersama untuk menegakkan hukum-hukum Islam. [MNews/Rgl].
Sumber: M. R. Kurnia, Menjadi Pembela Islam
