[At-Tafkir] Berpikir tentang Hidup (Bagian 3/3)

[At-Tafkir] Berpikir tentang Hidup (Bagian 3/3)

Penulis: Syekh Taqiyuddin an-Nabhani

Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Pemikiran sosialisme, meskipun datang untuk mewujudkan tanggung jawab dalam berpikir tentang hidup, yaitu untuk mewujudkan tanggung jawab terhadap orang-orang miskin dan kaum buruh, tetapi ia tidak mampu bertahan menghadapi kehidupan dan telah mengalami penyimpangan sesuai dengan berlalunya masa sehingga ia hanya menjadi nama atau khayalan belaka. Pemikiran sosialisme secara bertahap telah meninggalkan tanggung jawab terhadap orang lain sehingga secara nyata menjadi tidak berbeda dengan proses berpikir kapitalisme, yaitu sama-sama kosong dari tanggung jawab terhadap yang lain. Dalam kenyataannya, pemikiran sosialisme lebih menjadi pemikiran nasional daripada pemikiran umat manusia.

Berdasarkan penjelasan di atas, meskipun di dunia telah terdapat pemikiran tentang kehidupan yang dibangun di atas dasar pandangan tentang kehidupan—yaitu di Eropa, Amerika, dan Uni Soviet—yang telah membentuk corak kehidupan di dunia, tetapi proses berpikir tentang hidup tersebut sesungguhnya kosong dari tanggung jawab terhadap orang lain.

Seseorang mungkin bisa memahami bahwa tiadanya tanggung jawab terhadap orang lain dalam proses berpikir tentang hidup, bisa saja terjadi secara alami pada manusia yang mundur taraf berpikirnya. Akan tetapi, ia tidak akan bisa memahami, bagaimana mungkin penindasan dan pengisapan orang lain—untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dirinya sendiri—dapat menggantikan tanggung jawab terhadap orang lain.

Oleh karena itu, meski terdapat manifestasi-manifestasi kebangkitan dan kemajuan di dunia saat ini, tetapi tiadanya tanggung jawab dalam proses berpikir tentang hidup pada manusia (terutama pada orang-orang kuat yang mampu memperoleh kehidupan) akan membuat orang yang peka menyadari bahwa dunia dalam berpikirnya tentang kehidupan telah mengalami kemunduran, bukan kemajuan. Dunia mengalami kegelisahan, bukan ketenteraman.

Ia akan memandang bahwa keberadaan proses berpikir tentang hidup yang tidak bertanggung jawab kepada orang lain seperti itu, merupakan hal yang berbahaya bagi kehidupan dan hanya akan menimbulkan penderitaan bagi umat manusia. Oleh karena itu, proses berpikir tersebut haruslah dihancurkan, dan harus diusahakan untuk menggantikannya dengan proses berpikir tentang hidup yang meletakkan tanggung jawab kepada orang lain sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan darinya.

Memang benar bahwa roti (makanan) adalah faktor pembentuk interaksi manusia yang satu dengan manusia lain. Memang benar pula bahwa proses berpikir tentang hidup adalah proses berpikir tentang makanan tersebut untuk memuaskan daya kehidupan yang mendorong manusia untuk memuaskan kebutuhannya. Akan tetapi, interaksi makanan di antara manusia yang semula adalah interaksi “aku atau engkau yang memakannya,” haruslah diganti menjadi interaksi “engkau yang memakannya dan aku tidak.”

Jadi, aku mendapatkan makanan untuk kuberikan kepadamu dan engkau mendapatkan makanan untuk kau berikan kepadaku. Bukan aku bermusuhan denganmu untuk mengambil makanan, atau engkau bermusuhan denganku untuk mengambil makanan. Dengan kata lain, interaksi tersebut adalah interaksi yang lebih mementingkan orang lain daripada diri sendiri, bukan interaksi yang lebih mementingkan diri sendiri daripada orang lain.

Artinya, engkau akan merasa berbahagia dengan memberi, bukan mengeksploitasi. Begitu juga aku pun akan merasa berbahagia dengan memberi, bukan mengeksploitasi. Sangat tepat apa yang dikatakan oleh seorang penyair,

[Taraahu idza ma ji`tahu mutahallilan Kaa’nnaka tu’tiihi-lladzi anta saai’luh]

Jika kamu mendatanginya, engkau melihatnya kegirangan seakan-akan engkau memberinya apa yang engkau minta (darinya).

Artinya, meskipun manusia berbahagia dapat mengambil sesuatu untuk memuaskan naluri mempertahankan diri, tetapi ketika taraf berpikirnya meningkat, ia akan berbahagia dengan memberi sebagaimana ia berbahagia ketika ia mengambil.

Demikian pula memenuhi tuntutan naluri mempertahankan diri, yaitu sikap kedermawanan dan suka memberi. Sesungguhnya itu seperti halnya penampakan keinginan untuk memiliki dan mengambil sesuatu. Keduanya merupakan penampakan dari naluri mempertahankan diri (gharizah al-baqa`).

Jadi, yang menjadi topik bahasan bukanlah menjadikan proses berpikir tentang hidup sebagai proses berpikir tentang orang lain. Ini karena proses berpikir tentang hidup adalah proses berpikir tentang pemuasan daya kehidupan bagi manusia yang sedang berpikir. Dengan demikian, mestilah proses berpikir itu sesuai dengan pemuasan tersebut hingga menjadi proses berpikir yang benar.

Oleh karena itu, fokus bahasannya, dalam proses berpikir tentang hidup, harus ada tanggung jawab kepada orang lain, bukan harus menjadi proses berpikir tentang pemuasan kebutuhan orang lain. Seseorang tidaklah berpikir tentang hidup untuk memuaskan daya kehidupan pada orang lain, tetapi ia berpikir tentang hidup untuk memuaskan daya kehidupan yang ada pada dirinya. Namun ketika ia berpikir, di dalamnya ada tanggung jawab. Dengan kata lain proses berpikirnya dicirikan dengan adanya tanggung jawab terhadap orang lain.

Untuk menggantikan pemuasan naluri dengan penampakan keinginan memiliki sesuatu, ia memuaskan naluri tersebut dengan penampakan sikap kedermawanan. Sebagai pengganti pemuasan naluri dengan penampakan rasa takut, ia memuaskannya dengan penampakan rasa syukur. Dalam dua keadaan tersebut, ia memuaskan daya kehidupan pada dirinya ketika ia memuaskan naluri mempertahankan diri. Akan tetapi, ia memilih pemuasan naluri dengan penampakan yang lebih tinggi daripada penampakan yang rendah.

Inilah topiknya, yaitu menjadikan proses berpikir tentang hidup sebagai proses berpikir yang di dalamnya terdapat tanggung jawab. Tanggung jawab terhadap orang lain dalam proses berpikir tentang hidup, adalah faktor yang akan menjadikan proses berpikir tentang hidup dapat menghasilkan kehidupan yang luhur dan menyenangkan. [MNews/Rgl]

Sumber: Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, Hakikat Berpikir (At-Tafkir)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *