Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Pada masa kekhalifahan Al-Mu’tashim Billah, Romawi dipimpin oleh Raja Tufail bin Michael. Raja Romawi ini sangat berambisi untuk mengalahkan kaum muslim.
Tufail bersama seratus ribu pasukan keluar menuju Zabtharah, tempat kelahiran Khalifah Al-Mu’tashim. Ketika memasuki Zabtharah, pasukan Romawi membunuh kaum laki-laki, menawan kaum perempuan dan orang yang lemah, serta membakar seluruh isi kota. Kemudian, ia segera menuju Malthiyah, menyerang penduduknya dan kaum muslim yang berada di dalam benteng.
Khalifah Segera Menyerukan Jihad Fisabilillah
Berita ini sampai kepada Khalifah Al-Mu’tashim Billah yang berada di Samara. Khalifah marah dan mengumumkan perang melawan Romawi. Khalifah terlebih dahulu mengirimkan pasukan depan untuk memberikan pertolongan kepada penduduk Zabtharah.
Khalifah Al-Mu’tashim segera melakukan persiapan yang sempurna dan memimpin pasukan untuk menghadapi pasukan Romawi. Al-Mu’tashim bertanya, “Manakah negeri Romawi yang lebih kuat dan lebih kokoh bentengnya?” Dikatakan kepadanya, “Amuria.” Amuria adalah kota kelahiran Tufail.
Al-Mu’tashim pun melakukan persiapan yang belum pernah dilakukan khalifah sebelumnya. Baik dari aspek persenjataan, jumlah pasukan, kendaraan, air, alat besi, dan bahan bakar.
Pasukan depan dipimpin oleh Asynas dan disusul Umar bin Ibrahim Al-Mush’abi. Pasukan sayap kanan dipimpin oleh Itakh. Pasukan sayap kiri dipimpin oleh Ja’far bin Dinar bin Abdillah bin Al-Khayyath.
Strategi Meraih Kemenangan
Khalifah Al-Mu’tashim Billah memerintahkan Al-Afsyain untuk terus berjalan hingga memasuki negeri Romawi melalui jalur Al-Hadats. Khalifah memerintahkan agar memasuki benteng tersebut melalui jalur Ankara. Al-Mu’tashim juga memerintahkan kepada Asynas agar merangsek masuk melalui jalur Tarsus.
Ketika Asynas sampai di Maraj Al-Asqaf, surat dari khalifah datang kepadanya yang isinya memerintahkan supaya berhenti karena khalifah mendapatkan informasi bahwa Raja Romawi berada di Sungai Al-Lamis dan ingin menyeberanginya utuk menyerang Asynas dan pasukannya.
Asynas tinggal di Maraj selama tiga hari. Kemudian, melalui mata-matanya ia mengetahui bahwa Raja Romawi telah pergi meninggalkan sungai Al-Lamis untuk menghadapi Al-Afsyain.
Asynas mengirim informasi ini kepada khalifah, lantas Al-Mu’tashim segera mengirim utusan kepada Al-Afsyain untuk memberitahunya terkait hal tersebut. Khalifah Al-Mu’tashim Billah memerintahkannya untuk berhenti di tempatnya karena waspada terhadap serangan Raja Romawi sebelum pasukan Islam berkumpul. Namun para utusan belum sampai kepada Al-Afsyain sehingga dia dan pasukannya tetap dalam perjalanannya higga bertemu dengan raja Romawi.
Peperangan dasyat di antara keduanya tidak dapat dihindarkan. Pada awal hari, Al-Afsyain mengalami kekalahan. Kemudian, Al-Afsyain mengatur ulang strategi perangnya hingga dapat mengalahkan pasukan Romawi dengan sangat telak dan membuat mereka tercerai-berai.
Adapun pasukan Asynas dan Al-Mu’tashim sampai ke Ankara tanpa mendapatkan perlawanan karena pasukan Romawi tercerai-berai. Kemudian Al-Afsyain menuju Ankara.
Setelah semua pasukan berkumpul di Ankara, Khalifah Al-Mu’tashim Billah membagi pasukan menjadi tiga kelompok. Pertama, pasukan sayap kiri yang dipimpin Asynas. Kedua, pasukan inti yang dipimpin Al-Mu’tashim. Ketiga, pasukan sayap kanan yang dipimpin Al-Afsyain. Jarak antara pasukan yang satu dengan yang lain adalah dua farsakh.
Ketiga kelompok pasukan ini berjalan dengan rapi hingga menuju Amuria. Jarak antara Amuria dengan Ankara adalah tujuh marhalah.
Melihat kedatangan pasukan Islam, penduduk Amuria berlindung di balik benteng-benteng. Pasukan Islam pun mengepung benteng Amuria. Alat-alat manjaniq (pelontar batu besar) dipasang untuk menghancurkan benteng. Salah satu sisi benteng di bagian pasukan Al-Mu’tashim berhasil dirubuhkan.
Kemudian, terjadilah peperangan sengit di bagian ini setelah sebelumnya parit-parit diberi timbunan-timbunan. Perang terus berlanjut hingga kaum muslim berhasil menguasai Amuria dan memperoleh rampasan perang dalam jumlah yang sangat besar.
Setelah perang selesai, Khalifah Al-Mu’tashim Billah kembali ke Tarsus. Keberhasilannya dalam menguasai Amuria terjadi pada Ramadan 223 H. Al-Mu’tashim berdiam di sana selama 55 hari.
Khalifah Al-Mu’tashim kembali menuju Samara. Kedatangannya disambut gembira oleh kaum muslim. Abu Tamam Habib bin Aus memujinya dalam sebuah kasidah yang masyhur,
Ia telah membuka kemenangan-kemenangan
Yang tak mampu diurai bait syair ataupun prosa dalam pidato
Kemenangan, pintu-pintu langit terbuka karenanya
Bumi muncul dalam pakaian barunya
Wahai, hari perang Amuria
Telah pergi darimu harapan-harapan musuh
Kau telah tinggikan umat Islam
Dan rendahkan umat musyrik beserta negerinya. [MNews/Rgl]
Sumber: Syekh Muhammad Al Khudari, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Abbasiyah, Puncak Keemasan dan Kejayaan Kekhilafahan Islam, Pustaka Al-Kautsar
