Keberhasilan Pasukan Khalifah Al-Mu’tashim Billah Menumpas Kelompok Babek al-Khurramiyah

Keberhasilan Pasukan Khalifah Al-Mu’tashim Billah Menumpas Kelompok Babek al-Khurramiyah

Penulis: Nabila Ummu Anas

Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Khurramah adalah sebuah perkampungan di Persia, di sinilah lahir Babek al-Khurrami. Penduduk Khurramah mengikuti agama Al-Khurramiyah yang meyakini reinkarnasi dan mengagungkan seksualitas. Babek al-Khurrami melancarkan pemberontakan di Al-Badz yang terletak di antara Azerbaijan dan Aran di utara Persia. Pemberontakan berlangsung lama, yaitu sejak pemerintahan Khalifah Al-Makmun dan berakhir pada 231 H pada masa pemerintahan Khalifah Al-Mu’tashim Billah.

Pasukan Al-Makmun Belum Berhasil

Babek al-Khurrami bersama pengikutnya menyebarkan kekacauan dan kerusakan, menakut-nakuti pengguna jalan, serta berbagai ancaman lainnya. Khalifah Al-Makmun mengangkat komandan militer bernama Yahya bin Muadz untuk memerangi kelompok Babek. Di antara kedua pasukan terjadi peperangan berulang kali tanpa ada keberhasilan mengalahkan Babek al-Khurrami.

Kemudian Al-Makmun memilih Isa bin Muhammad bin Abi Khalid untuk menumpas pergerakan Babek ini, tetapi tidak berhasil juga. Kemudian Al-Makmun mengirim pasukan lagi di bawah pimpinan Shiqah bin Ali yang dikenal dengan nama Zuraiq. Ekspedisi ini pun mengalami kegagalan, bahkan pasukan Babek dapat menawannya.

Setelah itu, Al-Makmun mengangkat Muhammad bin Humaid ath-Thusi, yang juga berhasil dibunuh Babek al-Khurrami tapadahun 214 H di Hisytadasir. Bahkan, kelompok Babek berhasil melumpuhkan pasukannya hingga sebagian besar mereka terbunuh. Demikianlah, setiap kali pemerintahan Khalifah Al-Makmun mengirimkan pasukan untuk menumpas kelompok Babek al-Khurrami, tidak membuahkan hasil sama sekali.

Khalifah Al-Mu’tashim Billah Memilih Komandan Militer Terbaik

Babek al-Khurrami memiliki kekuatan besar serta pengaruh yang luas di kalangan pendukungnya. Pada 228 H, sejumlah besar penduduk pegunungan dari Hamadzan, Ishfahan, Masabadzan, Mihrajan, dan Qadzaf datang berbondong-bondong memeluk agama Al-Khurramiyah. Mereka berkumpul dan mendirikan pangkalan militer di daerah Hamadzan.

Pembangunan pangkalan militer tersebut terjadi pada awal pemerintahan Khalifah Al-Mu’tashim. Oleh karena itu, khalifah mengirimkan sejumlah pasukan untuk menumpas mereka. Pasukan terakhir yang dikirimkan untuk menyerang mereka dipimpin oleh Ishaq bin Ibrahim bin Mush’ab. Pasukan Ishaq bin Ibrahim menyerang dan berhasil melumpuhkan mereka hingga banyak pengikut Babek yang terbunuh.

Di Hamadzan, sekitar seribu personel Babek terbunuh, sedangkan sisanya melarikan diri ke wilayah Romawi. Khalifah Al-Mu’tashim mengerahkan segenap kemampuannya untuk mematahkan kekuatan Babek agar ancaman kejahatannya tidak mewabah ke seluruh wilayah Persia. Khalifah Al-Mu’tashim memilih komandan militer terkemuka dari Turki bernama Haidar bin Kalaus al-Asyrusani yang lebih dikenal dengan Al-Afsyin.

Strategi hingga Mencapai Keberhasilan

Sebelum Al-Afsyin keluar untuk menghadapi pasukan Babek, ia mengutus Abu Sa’id Muhammad bin Yusuf ke kota Ardabil dan memerintahkannya untuk membangun kembali benteng-benteng yang telah dihancurkan Babek, yang terletak antara Zinjan dan Ardabil. Lalu menempatkan sejumlah tentara lengkap dengan persenjataannnya untuk mengamankan jalan-jalan bagi orang-orang yang mencari perbekalan dan mata pencaharian ke Ardabil.

Setelah itu Al-Afsyin mengorganisasi jaringan pos yang menghubungkan antara dirinya dan tentaranya. Ia menempatkan beberapa ekor kuda dari Samara ke Uqbah Hilwan, setiap satu farsakh disediakan satu ekor kuda yang diletakkan di tempat rahasia. Kuda tersebut membawa banyak perlengkapan yang dibutuhkan. Petugas pos dapat memacu kudanya dengan cepat hingga mencapai pos demi pos dan menyampaikan surat ke tujuan. Di setiap pos terdapat pengawas yang diperintahkan untuk segera bergerak jika mendapatkan informasi.

Al-Afsyin terus bergerak hingga sampai di Barzand sambil terus menyebarkan mata-mata untuk menelusuri berbagai informasi mengenai Babek. Pertempuran pertama terjadi antara pasukan Al-Afsyin dengan Babek di Arsyaq. Pasukan Al-Afsyin berhasil menangkap dan menghancurkan semua tentara Babek, sedangkan babek melarikan diri bersama sejumlah pengikutnya menuju Mufan lalu ke Al-Badz.

Peperangan antara Al-Afsyin dan Babek terus berlangsung dalam waktu yang lama. Selama musim dingin mereka tidak saling menyerang karena tebalnya salju yang menyelimuti pegunungan.

Kemudian musim dingin berakhir dan datanglah musim semi, Al-Afsyin segera bergerak dengan pasukannya dan melancarkan serangan ke daerah Al-Badz hingga berhasil menguasainya melalui pertarungan sengit. Perang yang berkobar antara kedua belah pihak berakhir dengan kemenangan pasukan umat Islam dan berhasil menguasai Al-Badz.

Al-Afsyin membawa Babek al-Khurrami ke Samara bersama 17 orang anggota keluarganya dan beberapa orang hingga mencapai 24 orang. Hari ketika pasukan Al-Afsyin berhasil menghancurkan kekuatan Babek al-Khurrami dan membawanya ke Samara merupakan hari bersejarah bagi Kekhalifahan Al-Mu’tashim Billah. [MNews/Rgl]

Sumber: Syekh Muhammad al-Khudari, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Abbasiyah, Puncak Keemasan dan Kejayaan Kekhilafahan Islam, Pustaka Al-Kautsar

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *