Penulis: Kholda Najiyah
Muslimah News, KELUARGA — Saat ini, gagasan sistem sekularisme dan liberalisme berikut cabang-cabangnya makin merajalela. Mulai ide dasarnya tentang hak asasi manusia, Islam moderat, hingga isu L6-i37. Anak-anak usia tanggung atau remaja menuju dewasa biasanya mudah terbawa opini umum di masyarakat, bahkan yang sudah mahasiswa pun bisa terpengaruh.
Orang tua perlu memantau perkembangan anak-anak remajanya dari ajaran-ajaran paham sekuler yang menyesatkan tersebut. Terlebih jika anak sudah mulai tinggal terpisah dari orang tua. Kos atau boarding di luar kota, tidak bisa setiap hari berinteraksi dengan orang tua. Penting bagi orang tua untuk memastikan anak-anak mereka tetap on the track of Islam, tetap di jalur Islam. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.
Pertama, berkomunikasi intensif dengan anak. Komunikasi intensif akan membangun kedekatan orang tua dengan anak sehingga mereka merasa diperhatikan. Mereka tidak lagi segan bercerita apa saja, mau lebih terbuka kepada orang tua terhadap setiap persoalannya, termasuk terbuka mendiskusikan berbagai isu yang mereka tangkap. Tentu komunikasi yang tidak mengganggu atau membuat anak menjadi risih karena saking seringnya dihubungi. Komunikasi saat ini bisa dilakukan langsung, maupun tidak langsung. Offline maupun online. Sudah era digital, jadi sarana komunikasi tidaklah menjadi kendala.
Kedua, mendorong anak mengkaji Islam, bukan malah melarangnya. Banyak pilihan aktivitas yang bisa ditekuni remaja. Salah satu yang wajib diikuti adalah kajian keislaman. Orang tua tidak semestinya melarang dengan alasan khawatir anak-anaknya terjerumus dalam kelompok sesat. Justru seharusnya anak didorong untuk rajin mengkaji Islam. Hanya dengan mengikuti kajian Islam ideologis secara rutin dan terus menerus, maka anak akan berislam secara kafah. Ia akan tahu hak dan kewajibannya sebagai hamba Allah Swt.. Bagaimana supaya anak tidak tersesat? Sebaiknya orang tua juga rajin mengikuti kajian serupa. Supaya seiring sejalan, satu pemahaman dengan anak. Saat ini, benteng terpenting dalam membendung pengaruh buruk sekularisme adalah agama. Jadi, perkuat pemahaman agama, bukan yang lain.
Ketiga, memantau pergaulan anak, bukan malah membebaskannya. Untuk mencegah anak terjerumus ke dalam pergaulan bebas, orang tua harus memantau teman-teman si anak. Baik teman offline maupun online. Kadang anak jarang kelayapan, anteng di kamar kosnya. Nyatanya, mereka tetap terhubung dengan puluhan dan bahkan ratusan temannya di dunia maya. Siapa saja mereka? Apa saja interaksinya? Apa yang mereka perbincangkan? Sebisa mungkin orang tua juga terhubung dengan anak di dunia maya. Jadi harus tahu akun sosial medianya, bahkan harus berteman. Minimal bisa mengerem anak saat membuat status, karena akan segan jika diketahui orang tuanya. Itu harus menjadi syarat kebolehan anak beraktivitas di dunia maya.
Keempat, mengonsumsi makanan yang halal dan tayib saja. Asupan makanan ikut berkontribusi pada pembentukan karakter si anak agar tetap berislam kafah. Biasakan anak cerewet tentang status makanan, halalkah? Saat ini era kuliner. Berbagai jenis makanan unik, ekstrim, dan aneh kerap menggoda air liur. Apalagi yang dipropagandakan para idola remaja. Pastikan anak hanya mengonsumsi makanan yang halal dan tayibah saja.
Kelima, memantau bacaan dan tayangan yang dikonsumsi anak. Di tengah kejenuhannya melakukan berbagai aktivitas, mungkin anak butuh hiburan sesaat. Aktivitas yang tidak perlu biaya, apalagi sampai kelayapan tidak jelas. Salah satu aktivitas yang bermanfaat dan mengedukasi adalah menyediakan buku-buku bacaan yang menghibur, tetapi bermutu. Buku kisah-kisah islami yang memuat pesan-pesan motivasi, inspirasi, dan budi pekerti dapat menjadi pilihan. Namun, buku-buku yang selama ini dikonsumsi anak tetap harus dipantau agar tidak ada yang menyesatkan. Selain itu, tayangan video, musik atau film juga kerap menjadi hiburan. Memang anak tidak nonton di gedung bioskop, tetapi bisa download dari dalam kamarnya. Nah, sekali-kali perlu juga orang tua “merazia” laptop anak saat berjumpa.
Keenam, membantu membuatkan proposal hidup dan mendoakannya agar terwujud. Remaja sudah punya mimpi, bahkan mimpinya bisa lebih hebat daripada mimpi orang tuanya saat usia remaja dulu. Nah, ajak berdiskusi agar ia mau terbuka dengan mimpi-mimpinya. Arahkan anak untuk membuat proposal hidup sebaik mungkin, selaras dengan posisinya sebagai hamba Allah Swt.. Jika perlu, tuliskan proposal itu dengan rinci dan detail. Bantu memberi motivasi positif. Katakan bahwa orang tua akan mendukung dan berusaha sekuat tenaga untuk ikut mewujudkannya. Orang tua juga akan mendoakan yang terbaik bagi anak. Semoga dengan cara itu anak semakin semangat menempuh metode untuk meraih mimpinya. [MNews/YG]
