Muslimah News, INTERNASIONAL — Melansir CNBC Indonesia , resesi seks benar-benar menghantam Jepang. Krisis populasi menyebabkan banyaknya sekolah tutup di negeri itu. Fenomena tutupnya sekolah terjadi akibat angka kelahiran di Jepang anjlok lebih cepat dari yang diperkirakan. Jumlah ini meningkat terutama di daerah pedesaan, seperti Ten-ei, area ski pegunungan dan mata air panas di prefektur Fukushima yang telah merasakan depopulasi. Kelahiran anjlok di bawah 800 ribu pada 2022, rekor terendah baru. Perkiraan pemerintah menyebut depopulasi juga delapan tahun lebih awal dari yang diharapkan
Sementara itu, Perdana Menteri Fumio Kishida telah menjanjikan langkah-langkah untuk meningkatkan angka kelahiran. Termasuk menggandakan anggaran untuk kebijakan terkait anak. Ia juga mengatakan menjaga lingkungan pendidikan sangat penting. Tapi sedikit yang telah membantu sejauh ini.
Menurut data pemerintah, sekitar 450 sekolah tutup setiap tahun. Antara tahun 2002 dan 2020, hampir 9 ribu sekolah menutup pintu mereka selamanya sehingga sulit bagi daerah terpencil untuk memikat penduduk baru yang berusia lebih muda.
Sebenarnya anjloknya angka kelahiran adalah salah satu masalah besar yang sedang melanda negara-negara regional Asia. Tidak hanya Jepang, fenomena resesi seks ini juga terjadi di Korea Selatan dan Cina.
Banyak Faktor
Pengamat masalah perempuan, anak, dan generasi dr. Arum Harjanti menilai ada banyak faktor penyebab terjadinya resesi seks di Jepang.
“Ada banyak faktor yang berpengaruh pada terjadinya resesi seks yang melanda Jepang juga beberapa negara lainnya. Di antaranya adalah mahalnya biaya hidup yang akan membuat beban hidup bertambah jika punya anak,” tuturnya kepada MNews, Sabtu (8-4-2023).
Selain itu, lanjut Arum, fokus bekerja dan menjalani pendidikan, juga banyaknya sarana hiburan hingga kecanduan pornografi dan maraknya industri seks menjadikan pernikahan tidak lagi dibutuhkan.
“Jika kita telaah semua faktor itu bersumber pada penerapan sekularisme dalam semua aspek kehidupan,” tegasnya.
Sekularisme, terang Arum, adalah sikap menjauhkan aturan agama dari kehidupan. “Akal manusialah yang menjadi penentu segala sesuatu, yang terwujud dalam hak asasi manusia dan kebebasan berperilaku. Manusia dibiarkan bebas memenuhi hawa nafsu nafsunya dalam semua hal, termasuk dalam interaksi laki-laki perempuan dan membangun keluarga,” imbuhnya.
Demikian juga pengaturan ekonomi mengikuti sistem kapitalisme, yang menjadikan pasar bebas sebagai pedoman dalam aktivitas ekonomi. “Akibatnya pemilik modal berkuasa dalam mengumpulkan harta sebayak-banyaknya, sementara rakyat miskin kesulitan dalam menanggung kebutuhan hidupnya,” urainya.
Di sisi lain, nilainya, negara hanya membuat kebijakan yang menguntungkan para pemilik modal dan justru abai atas nasib rakyatnya. “Jadilah hidup terasa berat sehingga kehadiran anak dianggap sebagai beban. Belum lagi pengarusan kesetaraan gender yang menjadikan makin banyaknya perempuan berpendidikan tinggi dan bekerja sehingga menunda memiliki anak bahkan menolak memiliki anak atau childfree dan memilih hidup melajang,” kritiknya.
Tidak Penting
Menurut Arum, semua hal di atas menjadikan keluarga tidak lagi dipandang penting dalam kehidupan, bahkan dianggap menambah beban.
“Hidup tanpa anak atau melajang dianggap lebih nyaman dan menyenangkan karena bebas dari ikatan dan tanggung jawab atas orang lain meski itu adalah buah hatinya sendiri. Keluarga tidak lagi dianggap sebagai institusi yang memberikan kehangatan dan tempat mencurahkan kasih sayang karena ada banyak sarana lain yang bisa menjadi pelampiasan tanpa ikatan yang halal dalam kehidupan sekuler,” bebernya.
Semua itu, tegas Arum, ternyata memberi dampak luar biasa, terjadinya depopulasi dan negara terancam keberadaannya. “Sungguh dahsyat dampak penerapan sekularisme terhadap eksistensi manusia dalam satu bangsa, bahkan beresiko hilangnya kehidupan masyarakat dan masa depan bangsa,” nilainya.
Kehidupan Islam
Arum mengatakan, situasi ini tidak mungkin terjadi dalam kehidupan Islam. Islam menjadikan keluarga sebagai satu institusi penting dalam kehidupan, karena melalui keluargalah akan terjaga keberlangsungan hidup manusia.
“Membangun keluarga bahkan juga bernilai ibadah, sehingga Islam menganjurkan untuk menikah. Islam juga memiliki mekanisme membangun keluarga yang akan memberikan ketenangan, ketenteraman dan kebahagiaan, yang tercermin dalam ungkapan indah baiti jannati-rumahku surgaku,” paparnya.
Hanya saja, jelasnya, baiti jannati hanya akan terbentuk ketika akidah Islam menjadi asas dalam membangun keluarga dan ketaatan kepada hukum syara menjadi pedoman dalam mengarungi bahtera kehidupan.
“Terbentuknya baiti jannati jelas membutuhkan peran dan dukungan negara, karena negaralah yang mengurus rakyatnya, termasuk mewujudkan keluarga sejahtera. Dan Islam mewajibkan negara untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok keluarga –sandang, pangan papan, juga pendidikan dan kesehatan serta keamanan- melalui berbagai mekanisme,” terangnya.
Islam, sambungnya, menjaga agar peran masing-masing, suami sebagai kepala keluarga dan istri sebagai ibu generasi dan pengatur rumah tangga, dapat berjalan sesuai denga tuntunan Islam. “Negara Islam juga memiliki sistem pendidikan yang akan memberikan bekal untuk membangun keluarga muslim yang sakinah, mawadah, dan rahmah,” ujarnya.
Dengan demikian, Arum menekankan, membangun keluarga tidak menjadi sesuatu yang menakutkan bagi para pemuda dan pemudi, yang hidup dalam masyarakat Islam dengan tata pergaulan sesuai dengan Islam pula.
“Sabda Rasulullah bahwa menikah adalah separuh agama, tentu akan memotivasi setiap pemuda dan pemudi muslim untuk siap membangun keluarga. Ancaman depopulasi pun tidak akan terjadi dalam masyarakat Islam yang menerapkan aturan Islam secara kafah dalam seluruh aspek kehidupannya,” pungkasnya. [MNews/IA]
