Penulis: M. R. Kurnia
Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Dalam hidupnya, hewan semata memenuhi kebutuhan fisik dan nalurinya, sedangkan manusia dalam hidup dan perikehidupannya, di samping memenuhi kebutuhan fisiknya, juga berupaya untuk meraih empat nilai (qimah) dalam kehidupan.
Ia akan meraih nilai ruhiyah dengan jalan menunaikan ibadah-ibadah mahdah kepada Allah Swt.. Salat wajib tidak pernah ia lupakan, salat sunah baik tahajud, istikharah, duha, dan lainnya diupayakan untuk selalu ia kerjakan. Dakwah tidak pernah ia lalaikan, demikian pula kewajiban lainnya.
Ia pun berusaha meraih nilai khuluqiyah. Caranya dengan mendarahdagingkan akhIak mulia di dalam dirinya. Senantiasa berkasih sayang kepada sesama muslim, hormat kepada yang lebih tua, sayang kepada yang lebih muda, hormat kepada orang tua, menghargai guru, membantu orang-orang yang memerlukan, menengok orang sakit, membantu orang yang teraniaya, dan seluruh akhlak mulia sesuai ajaran Islam ia lakukan.
Ia pun mengupayakan terus supaya hidupnya meraih nilai insaniyah, artinya peduli kepada sesama manusia tanpa melihat suku, ras, ataupun agamanya. Ini dilakukannya dengan meIaksanakan seluruh hukum-hukum Allah Swt. yang berkaitan dengan manusia secara umum. Misalnya, ketika di jalan ada orang tertabrak, tanpa perlu Iagi bertanya apa suku, bangsa, atau agamanya, ia pun segera menolongnya.
Ketika ia menjadi penguasa, ia akan menerapkan hukum Islam kepada siapa saja, dan akan berlaku adil pada siapa saja tanpa melihat bangsa dan agamanya. Siapa pun yang salah dikatakan salah sesuai dengan syariat Islam. Contoh lain, bila ia datang ke kamp pengungsian, ia akan memberi bantuan kepada siapa saja tanpa pandang bulu.
Namun, bukan hanya itu, ia pun akan meraih nilai materiel (madiyah) dengan cara mendapatkan keuntungan materi di jalan yang sesuai dengan ajaran Islam. Bila ia seorang pedagang, ia akan berupaya mendapat untung dengan tetap tidak melakukan perkara-perkara haram dalam berdagangnya. Begitu pula ketika ia membangun rumah, misalnya, akan berupaya agar rumahnya itu kokoh, kuat, bagus, asri, indah, dan layak menurut kesehatan.
Jadi, di dalam hidupnya, manusia itu meraih keempat nilai tersebut. Hanya saja, semua itu baru akan dicapai dengan melakukan seluruh hukum Islam. Artinya, seseorang yang betul-betul tunduk, patuh, dan taat kepada hukum-hukum Islam, maka ia akan dapat meraih semua itu tanpa perlu tahu tentang teori nilai tadi. Dengan kata lain, sekali lagi, tidaklah perlu repot-repot untuk menjadikan hidup ini dapat meraih hal-hal tadi. Hanya satu cara, terapkan dan laksanakan seluruh aturan Islam, jadikan hidup ini untuk ibadah!
Kapan tunduk, patuh, dan taat kepada aturan Allah Swt.? Jawabannya tegas, setiap saat! Nabi saw., seperti diriwayatkan oleh Turmudzi, menegaskan,
“Bertakwalah engkau di mana pun engkau berada!”(HR Turmudzi).
Sungguh, sabda Rasulullah tersebut sangat gamblang dipahami. Bagaimana tidak, Allah Swt. akan menghisab seluruh perbuatan manusia. Dia bukan sekadar menghisab aktivitas manusia ketika sedang di masjid saja atau sedang mengadakan tablig akbar saja.
Sebaliknya, Dialah Zat Maha Tahu yang akan meminta pertanggungjawaban manusia tentang segala perbuatannya di kamar mandi, di rumah, di kamar, di halaman, di jalan, di dalam kendaraan, di terminal, di stasiun kereta api, di kantor, di pasar, di supermarket, di kampus, di sekolah, di ruang pengadilan, di gedung-gedung pemerintahan, dan di setiap tempat.
Semua perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban, sesuai dengan aturan Islam ataukah tidak, sesuai dengan visi dan misi hidup di dunia, yaitu ibadah, ataukah tidak. Allah Swt. berfirman, “Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (TQS Ath-Thur: 21).
“Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.”(TQS Al-Mudatstsir: 38).
Bila hidup manusia sesuai dengan tugas yang diberikan Allah Swt., maka hidupnya akan bahagia di dunia dan di akhirat. Sebaliknya bila tidak, ia akan nestapa di dunia dan di akhirat. Untuk itu, patut direnungkan firman Allah Swt. berikut,
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang fasik.” (TQS Al-Hadid: 16).
Sungguh, ayat di atas merupakan pertanyaan retorik bagi mereka yang tetap tidak mau menundukkan dirinya kepada aturan-aturan Allah. Sekarang sudah tiba waktunya! Dan Allah menyindir orang beriman “Belumkah datang waktunya….”
Benar, sekarang sudah tiba waktunya. Kapan lagi kepatuhan, ketundukan, dan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla bila bukan sekarang? Apa mungkin besok lusa? Bukankah mungkin saja nyawa kita sudah tidak ada saat esok lusa tiba? Jauh-jauh sebelumnya Rasulullah mengingatkan,
“Bersegeralah kalian untuk beramal sebelum datangnya tujuh hal: Apakah yang kalian nantikan kecuali kemiskinan yang dapat melupakan, kekayaan yang dapat menimbulkan kesombongan, sakit yang dapat mengendorkan, tua renta yang dapat melemahkan, mati yang dapat menyudahi segalanya, atau menunggu datangnya dajal padahal ia adalah sejelek-jelek yang ditunggu, atau menunggu datangnya hari kiamat padahal kiamat adalah sesuatu yang sangat berat dan sangat menakutkan.” (HR At-Turmudzi).
Benar, tidak ada yang perlu ditunggu. Kini saatnya memproklamasikan hidup ini untuk ibadah! Hanya dengan langkah begini hidup menjadi punya makna. Bila tidak, apa bedanya dengan hidup hewan? Nauzubillahi min zalik. [MNews/Rgl]
