Muslimah News, NASIONAL — Banjir melanda Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (1-4-2023). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan satu orang meninggal dunia dan 5.557 orang terdampak di tujuh wilayah kecamatan di Kabupaten Bima.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bima Isyra mengatakan, banjir merendam sejumlah wilayah, seperti di Kecamatan Woha. “Hingga tadi malam, Desa Keli, Desa Dadibou, Desa Risa, Desa Nisa, dan Desa Naru masih terendam banjir. Warga di desa ini pun harus melewati sahur Ramadan dalam suasana banjir. Untuk Desa Rabakodo dan Desa Talabiu di Kecamatan Woha masih siaga banjir,” katanya mengutip Jawa Post (5-4-2023).
Banjir di Desa Keli dan sekitarnya disebabkan meluapnya air di sungai Tolo Ribo. Ia menceritakan, sekitar pukul 12.30 waktu setempat, intensitas hujan di wilayah Woha, Monta serta Parado cukup tinggi, sehingga menyebabkan meluapnya air dari pegunungan So Tolo Ribo Desa Keli. Selain itu, wilayah yang terkena banjir juga adalah Kecamatan Rasana’e Barat, Mpunda, Rasana’e Timur, dan Raba.
Meskipun di beberapa wilayah saat ini banjir mulai surut, tetapi di beberapa lingkungan lain, masih ada yang terendam dengan ketinggian lutut orang dewasa setelah sebelumnya mencapai dada orang dewasa.
Alih Fungsi Lahan
Melansir Tirto (3-4-2023), Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyatakan, selain faktor fenomena cuaca yang juga menyebabkan intensitas hujan tinggi, alih fungsi lahan di perbukitan juga menjadi faktor penyebab banjir di Bima.
“Dulu ada perbukitan alami dengan vegetasi beragam, tetapi kemudian hilang dengan signifikan,” kata Abdul dalam disaster briefing, Senin (3/4/2023).
Abdul mengisahkan, pada 2019 pernah meninjau lokasi perbukitan dan lereng di daerah Bima. Temuan BNPB menyatakan banyak terjadi pembalakan liar dan konversi lahan hutan menjadi perkebunan jagung.
“Ini menjadi perhatian kita karena secara umum banyak sekali di Bima itu kawasan-kawasan, kelerengan, bukit-bukit yang mungkin sepuluh sampai lima belas tahun lalu penuh vegetasi beragam, bisa menjadi penyerapan air, mencegah banjir untuk mencegah intensitas hujan tinggi,” ujar Abdul.
Namun, situasi pada 2019 tersebut jauh berbeda. Abdul mengatakan pada tahun tersebut, sejauh mata memandang ia hanya melihat bukit gundul dan tidak ada vegetasi. “Tidak ada yang mengikat itu, selama hujan deras itu akan ngegelosor ke bawah,” terang Abdul.
Sebenarnya, ungkap Abdul, daerah Bima memang daerah banjir, tetapi bukan daerah risiko tinggi banjir. “Risiko banjir bertambah karena vegetasi di bukit-bukit telah gundul sehingga tidak mampu menyerap air hujan. Kalaupun ditanam vegetasi, saat itu sudah menaruh bibit tanaman untuk merehabilitasi. Apabila itu ditanam atau tumbuh dalam tiga tahun pun belum maksimal,” kata Abdul.
Ia berharap pemerintah daerah bisa menyosialisasikan penanaman vegetasi yang mendukung kegiatan ekonomis sekaligus tidak melupakan faktor ekologis.
“Paling tidak yang sudah dikonversi itu bisa kita rehabilitasi. Rehabilitasi ini tidak hanya men-stop kegiatan, tetapi juga tetap memanfaatkan lahan di situ dengan menanam vegetasi yang tidak hanya bernilai ekologis, tetapi juga ekonomis,” ujarnya.
Sungguh memprihatinkan, sebagian masyarakat Bima harus menjalani Ramadan di tengah banjir akibat alih fungsi lahan yang tidak memikirkan dampak ekologi. [MNews/Ruh]
