[Fikrul Islam] Peperangan Baru yang Dilancarkan Barat kepada Kaum Muslim

[Fikrul Islam] Peperangan Baru yang Dilancarkan Barat kepada Kaum Muslim

Penulis: Muhammad Husain Abdullah

Muslimah News, FIKRUL ISLAM – Perang ini dimulai pada awal abad ke-9 dan terus berlangsung hingga kini. Saat itu, Barat datang memasuki negeri-negeri  umat Islam dengan bersenjatakan ideologi dan kebudayaan kapitalisme. Hal itu dilakukan sebagai balasan atas kekalahan mereka pada perang salib sebelumnya.

Mereka mengawali peperangan dengan orientalisme, yaitu perjalanan pemikir Barat ke negeri Timur,  termasuk tulisan-tulisan tentang ketimuran. Para orientalis terus memberikan pengaruh yang bisa melemahkan kita. Semua ini ditujukan agar kaum muslim menjadi pengikut mereka.

Upaya mereka ini diarahkan untuk membentuk kelompok-kelompok yang menyimpang, menciptakan kaum minoritas yang menonjol, dan aliran-aliran aneh yang diberi hak yang lebih besar  (daripada umat Islam). Hal itu dilakukan untuk membuktikan bahwa umat Islam tidak bisa melakukan apa-apa, kecuali mengikuti dan mengadopsi warisan-warisan Yunani dan bangsa-bangsa lainnya.

Secara militer, Barat telah memerangi negeri-negeri kita pada awal abad ke-19. Akibatnya, Prancis berhasil menduduki Mesir, Aljazair, dan Tunisia. Berikutnya, Italia berhasil menguasai Libya hingga terjadi perang dunia pertama yang menyebabkan hancurnya Daulah Ustmaniyah sebagai negara Islam. Di samping itu, Barat juga menjajah sebagian besar negeri-negeri Islam dengan menggunakan segala bentuk penjajahan seperti militer, kebudayaan, dan perekonomian.

Aktivitas Barat di Negeri Kaum Muslim

1. Setelah keruntuhan Daulah Islamiah, mereka mengerat negeri Daulah Islamiah ke dalam banyak institusi, seperti Turki, Cyprus, Irak, Suriah, Pakistan, dan lain-lain.

2. Mereka terus menyerang bahasa Arab. Mereka menjadikan bahasa mereka untuk meminggirkan bahasa Arab di negeri-negeri Islam. Mereka juga mendorong digunakannya dialek-dialek pasaran (bahasa pasaran).

3. Mereka mencekoki kita dengan sebuah klaim bahwa mereka telah bangkit di atas landasan nasionalisme. Mereka memopulerkan banyak partai nasionalis dan  patriotik yang semua itu dilakukan demi menjauhkan kita dari Islam.

4. Mereka menganalogikan Islam dengan Nasrani. Mereka mengatakan jika menginginkan sebuah kebangkitan, kita harus memisahkan agama dari kehidupan sebagaimana yang telah mereka lakukan.

5. Mereka mengubah sistem pemerintahan di negeri-negeri Islam dari sistem pemerintahan Islam menjadi sistem pemerintahan kapitalistik.

6. Mereka menciptakan jurang pemisah di antara negeri-negeri yang baru terbentuk (pecahan dari Daulah Islamiah, penerj.) untuk memecah-belah antar sesama putra-putri umat Islam, juga untuk memperdalam jurang pemisah yang terdapat di antara berbagai institusi yang baru tercipta itu. Mereka memunculkan isu-isu seperti masalah batas-batas negara, semangat nasionalisme, dan kesukuan, seperti masalah Kashmir, Cyprus, Palestina, Sahara di Maroko, dan Tepi Barat.

7. Mengeksploitasi kekayaan kaum muslimin untuk kepentingan Barat, seperti minyak bumi dan tambang.

8. Menjadikan dunia Islam sebagai pasar konsumtif bagi Barat dan mencegah berdirinya industri-industri produksi dan industri-industri berat.

9. Barat memaksakan kebudayaan mereka kepada umat Islam dengan memasukkan kebudayaan-kebudayaan tersebut ke dalam kurikulum pendidikan dan berbagai media informasi, seperti radio, surat kabar, dan majalah.

Pengaruh Peradaban Barat terhadap Kaum Muslim

1. Berbagai persepsi dan eksperimen Barat telah dijadikan sebagai patokan baku bagi para pelajar dan politikus kita. Semua yang serba kebarat-baratan dianggap sebagai sesuatu yang modern dan maju. Sebaliknya, semua yang tidak berasal dari Barat dianggap kampungan (lihat Makalah Muhammad ‘Imarah berjudul At Taghriib (pembaratan)).

2. Putra-putri terbaik umat Islam, terutama yang belajar di universitas-universitas di Barat, terpesona dengan peradaban Barat.  Akhirnya, mereka menyerukan untuk meniru peradaban Barat untuk menyongsong sebuah kebangkitan—setelah lama kita berada dalam kelemahan dan keterpurukan. Hal ini tampak pada berbagai anggaran dasar dan rumah tangga partai-partai nasionalis dan patriotik dan juga pada kurikulum pendidikan kita.

3. Dalam hal tingkah laku, umat Islam mulai menyimpang jauh dari hukum-hukum Islam. Akhirnya, mereka melangsungkan berbagai aktivitas berdasarkan asas kemanfaatan materi, seperti riba. [MNews/Rgl]

Sumber: Muhammad Husain Abdullah, Studi Dasar-Dasar Pemikiran Islam

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *