Outlook Perekonomian Indonesia 2023, Tidak Menyentuh Harkat dan Martabat Rakyat

Outlook Perekonomian Indonesia 2023, Tidak Menyentuh Harkat dan Martabat Rakyat

Muslimah News, NASIONAL—Menghadiri Outlook Perekonomian Indonesia 2023, Presiden Jokowi membeberkan keberhasilan pemerintah memperbaiki ekonomi.

 “Secara umum ekonomi makro Indonesia jauh lebih baik dibandingkan beberapa tahun lalu. Misalnya pada 2014—2015, saat Indonesia dikategorikan negara rentan terpuruk bersama lima negara lain,” katanya dalam Outlook Perekonomian Indonesia 2023, Rabu (21-12-2022).

Saat itu, dirinya menginstruksikan kepada jajaran terkait agar berani melakukan reformasi struktural untuk menjaga ekonomi makro dari hal-hal yang membahayakan.

Presiden menyebut hilirisasi menjadi penting sehingga ia merencanakan penyetopan ekspor komoditas mentah supaya mendapatkan nilai tambah lebih.

“Nikel sudah rampung sehingga nilai tambah melompat. Kalau dulu mentah nikel dihasilkan US$1,1 miliar, tahun ini US$30 miliar,” ujarnya.

Selain itu, peningkatan investasi. Menurutnya, menjaga kepercayaan global terhadap Indonesia menjadi penting untuk menarik investasi masuk sebanyak-banyaknya dalam memperkuat fundamental ekonomi Republik Indonesia.

Terakhir, Jokowi mengatakan hilirisasi energi hijau juga menjadi kunci dengan menciptakan harga energi hijau yang murah.

Presiden mengungkapkan hasil nyata dari perbaikan yang dilakukan pemerintah. “Neraca transaksi berjalan pada kuartal lll-2022 sudah surplus sebesar 8,9 miliar Dolar AS,” ungkapnya.

Tidak Menyentuh Martabat Rakyat

Agung Wisnuwardhana dari Indonesia Justice Monitor (IJM) memberikan catatan kritis “keberhasilan” Jokowi tersebut.

“Yang dibanggakan Jokowi sebenarnya semuanya keberhasilan semu. Pertumbuhan ekonomi kapitalistik yang ada, tidak menyentuh harkat martabat rakyat sama sekali,” tuturnya di acara Perspektif PKAD: Bersiaplah!Ekonomi Gelap 2023, Apa Kabar Kapitalisme Era Jokowi? Sabtu (24-12-2022) melalui kanal Pusat Kajian dan Analisis Data.

Agung mencontohkan, lompatan hilirisasi nikel di Maluku Utara yang diklaim meningkatkan pertumbuhan ekonomi 27% langsung dibantah Gubernur Maluku Utara, Abdul Ghani, bahwa pertumbuhan itu sama sekali tidak berdampak pada kesejahteraan rakyat. “Di Maluku Utara pertumbuhan ekonomi tinggi, sebenarnya masyarakat tidak menikmati apa-apa,” ungkap Agung menirukan perkataan Abdul Ghani.

Kemudian peningkatan ekspor yang diklaim akan memunculkan surplus perdagangan dan meningkatkan jumlah pendapatan Indonesia, dinilai Agung itu seperti mendapat durian runtuh.

“Negara lain seperti Eropa yang akan memasuki musim dingin membutuhkan energi. Sementara pasokan energi dari Rusia sedang ada problem, maka mereka butuh batubara dan barang tambang lain dari Indonesia. Ini yang saya sebut durian runtuh. Namun, saya pikir peningkatan ekspor ini semu karena persoalannya spekulasi pasar berjangka yang luar biasa di internasional sehingga mempengaruhi pemasukan Indonesia,” bebernya.

Hal lain yang dikritik Agung adalah peningkatan investasi. Menurutnya, investasi asing ini dulu yang membuat Indonesia diprediksi masuk dalam 5 negara rentan terpuruk, tetapi sekarang mau ditingkatkan lagi.

“Undang-undang Omnibuslaw Cipta Kerja itulah karpet merah luar biasa untuk membuka investasi asing seluas-luasnya di Indonesia, terutama terkait dengan sumberdaya alam dengan logika hilirisasi tadi. Ini yang sangat saya khawatirkan,”ungkapnya.

Terkait hilirisasi energi hijau yang disinggung Jokowi, Agung mencontohkan sungai Kahayan. “Proyek sungai Kahayan itu investornya dari Cina yang salah satunya untuk mem-back up IKN,” terangnya.  

Agung lalu menyimpulkan bahwa reformasi struktural yang dilakukan pemerintah mulai dari hilirisasi, peningkatan ekspor, peningkatan investasi, hilirisasi energi hijau untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi hanyalah pertumbuhan semu yang akan memberikan keuntungan pada kapitalis pemilik modal.

Kapitalisme Liberal

Agung mengatakan keempat reformasi struktural yang diadopsi Jokowi diatas menegaskan bahwa perspektif pembangunannya dengan pola kapitalisme liberal yang memunculkan problem distribusi. “Kekayaan alam yang melimpah menguasai hajat hidup orang banyak, yang mendapatkan manfaat besar adalah segelintir kalangan,” tukasnya.

Sumber daya alam kita, lanjutnya, banyak dikuasai oleh investasi swasta dan sebagian besar swasta asing baik migas, mineral maupun batubara.

“Kita harus jujur dari sumber daya alam yang melimpah tadi yang sampai kepada rakyat. Tadi sudah dibantah langsung oleh Gubernur Maluku Utara. Beberapa waktu lalu Bupati Meranti juga bicara hal yang sama. Kemiskinan, pengangguran terjadi, sementara itu wilayahnya kaya sumber daya alam,” tegasnya.

Agung mengutip perkataan Abraham Samad untuk menggambarkan betapa Indonesia kaya akan bahan tambang. “Korupsi di bidang pertambangan di Indonesia kalau bisa diselesaikan itu bisa menyelesaikan utang Indonesia plus setiap kepala rakyat Indonesia (bukan kepala keluarga) mendapat 20 juta. Ini baru dari aspek mafia korupsinya. Bayangkan kalau tambang aslinya,” ucap Agung mengutip perkataan Abraham Samad.

Reformasi Islam

Agung mengatakan Islam menawarkan reformasi struktural terkait dengan sumber daya alam. Hadis Rasulullah menegaskan bahwa manusia berserikat (memiliki secara bersama-sama) air, padang gembalaan, api.

“Dalam kontek kekinian. sumber daya air, sumber daya alam yang melimpah termasuk di dalamnya minyak, gas, sumber daya mineral, batubara yang melimpah di negeri ini masuk dalam kepemilikan umum,” ungkapnya.

Ia pun menawarkan proposal Khilafah, politik ekonominya betul-betul fokus pada kesejahteraan rakyat dan memberikan kepastian jaminan pada pemenuhan kebutuhan asasi yaitu pangan sandang papan kesehatan pendidikan dan juga keamanan.

“Kalau politik ekonomi Islam ini benar-benar menjadi fokus perhatian politik ekonomi Indonesia, maka distribusi itu akan menjadi fokus luar biasa. Karena distribusi menjadi fokus, maka produksi pun pasti akan meningkat. Produksi meningkat untuk kepentingan rakyat secara keseluruhan. Logika ini yang tidak pernah ada dalam politik ekonomi kapitalisme,” pungkasnya. [MNews/IA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *