Penulis: Shezan A. Gerung
Muslimah News, DUNIA REMAJA – Sobat muslimah, belakangan ini di media sosial viral remaja asal Gorontalo yang bernama Fajar. Karena kisah cintanya, warganet lantas menyebutnya sad boy. Pasalnya, Fajar kerap menampakkan ekspresi sedih, bahkan sesekali menangis saat menceritakan kisah cintanya dalam beberapa acara.
Ya, viralnya Fajar membuatnya wara-wiri di televisi dan YouTube para artis. Di sejumlah akun media sosial juga tidak henti-hentinya membahas Fajar. Terlepas dari kebingungan warganet apakah Fajar murni seorang sad boy atau sekadar konten, merevisi arah hidup remaja tetap menjadi perkara urgen.
Benar bahwa seorang laki-laki tidak terlarang untuk menangis atau menunjukkan ekspresi sedih. Namun, mengobral tangis di layar kaca karena patah hati, terlebih di digit usia yang masih sangat labil, rasanya, kok, sayang banget, ya, Sobat muslimah.
Lebih dari Krisis Jati Diri
Saat melihat aktivitas remaja saat ini, seakan tidak pernah jauh dari urusan cinta. Cinta hasil salin tempel dari tontonan sinetron atau drama Korea yang melow.
Kurangnya pemahaman plus mudahnya mereka terbawa arus pergaulan, membuat cara berpikir remaja bersandar pada perasaan semata. Dampaknya, kondisi psikis mereka mudah rapuh meski secara fisik berada pada usia produktif.
Kata sebagian orang, kondisi ini menunjukkan krisis jati diri. Ada yang mengatakan bahwa krisis jati diri itu perkara biasa. Maklum saja, pada usia ini mereka labil dan masih mencari arah.
Namun, Sobat, krisis jati diri karena usia labil remaja tidak lantas kita beri pemakluman. Sebab, jika kita memahami bahwa usia muda adalah usia produktif dengan psikis yang belum stabil, mengapa seluruh elemen tidak menyiapkan berbagai instrumen agar pada usia remaja mereka bisa percaya diri menghadapi masa produktifnya? Iya, tidak?
Seharusnya, negara bisa mempersiapkan masa produktif remaja dengan melibatkan pihak sekolah, keluarga, masyarakat, dan individu remaja. Negara bersama institusi pendidikan dapat menyusun kurikulum yang berbasis pada pembentukan karakter dan penguatan mental remaja. Selain itu, keluarga sebagai institusi terkecil tentu tidak boleh alpa mendampingi remaja.
Nah, masyarakat dapat berpartisipasi menciptakan atmosfer yang sehat untuk membentuk fisik dan mental remaja. Sementara itu, dari sisi individu remaja, mereka wajib ditempa sebagai seseorang yang memiliki visi dan misi dalam menjalani hidup.
Jadi, ini bukan sekadar perkara mewajarkan usia remaja yang masih mencari jati diri. Mengapa? Sebab jati diri itu seharusnya sudah remaja pahami sejak memahami tujuan hidup di dunia ini.
Sistem sekuler saat ini menanamkan kepada remaja bahwa tujuan hidup mereka hanya beredar di urusan duniawi. Pengen terkenal, punya uang banyak, bisa kongko, gaul, dan hidup enak. Wajar jika perkara-perkara ini membentuk mental remaja saat ini mudah rapuh, wong yang mereka pikirkan seluruhnya perkara receh.
Masyarakat saat ini malah hanya menjadi komentator, bahkan menjadikan kisah remaja galau sebagai konten doang. Negara juga kesannya diam saja dan membiarkan. Lantas, bagaimana Islam memberikan tuntunan agar terbentuk remaja hebat yang dirindu surga?
Remaja yang Dirindu Surga
Sobat muslimah, krisis jati diri remaja itu tidak terbentuk dengan sendirinya. Perkaranya bisa sampai ke sistem. Iya, ke ranah sistemis.
Mengapa? Sebab, tindakan yang manusia lakukan pada dasarnya tergantung pada pandangannya mengenai kehidupan. Pemahaman mengenai tujuan hidup ini adalah perkara mendasar yang sedikit banyak terbentuk oleh sistem yang berlaku.
Oleh karenanya, pemahaman remaja mengenai dari mana ia berasal, apa tujuannya hidup di dunia ini, dan hendak ke mana setelah kehidupan dunia, menjadi perkara penting yang akan menuntun setiap tindakan mereka. Ini adalah pertanyaan mendasar yang akan membentuk karakter khas pada manusia, sekaligus membentuk individu remaja yang bertakwa.
Lantas, bagaimana menciptakan atmosfer masyarakat yang sehat, kurikulum yang akan membentuk karakter remaja yang khas, dan keluarga yang bisa menjadi ruang yang hangat untuk remaja? Nah, di sinilah negara berperan dalam menciptakan ruang yang kondusif.
Di dalam Islam, karakter remaja yang kuat berawal dari sistem yang kondusif. Negara berperan dalam merumuskan kurikulum yang membentuk kepribadian Islam pada remaja. Makanya, seluruh kurikulum pada usia sekolah senantiasa merujuk pada akidah.
Ini perkara mendasar, Sobat. Ibarat bangunan, akidah adalah fondasi setiap individu. Kalau fondasinya kuat, insyaallah mental remaja tidak akan mudah rapuh.
Di tengah-tengah masyarakat, negara akan menerapkan sistem sosial yang sangat kondusif. Walhasil, istilah patah hati, apalagi menjadi remaja yang mengumbar kisah cinta picisan ala sad boy nyaris tidak akan ada.
Namanya pacaran saja tidak boleh. Interaksi antara laki-laki dan perempuan akan negara atur agar tidak ada interaksi yang haram dalam timbangan syariat.
Sementara itu, keluarga berfungsi sebagai institusi awal yang akan mengenalkan anak-anak mengenai akidah. Sejak usia dini akan muncul berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan fondasi kehidupan. Hal ini tentu akan berkembang seiring usia anak. Dengan demikian, keluarga memiliki peran besar dalam mendampingi anak hingga menginjak usia balignya.
Khatimah
Nah, Sobat muslimah, ternyata krisis jati diri pada remaja saat ini sifatnya sistemis. Oleh karenanya, butuh sistem kondusif untuk menciptakan remaja-remaja bermental kuat yang surga rindukan. Jika sistem saat ini hanya mampu mencetak remaja berkarakter labil dan doyan menebar kegalauan, Islam beda, Sobat. So, pilih dirindu mantan apa surga? Kembali ke tujuan hidup kita. Siap merevisi tujuan hidup? Aku, sih, yes! [MNews/Rgl]
