Profil Pemuda Muslim Pencetak Peradaban Mulia

Profil Pemuda Muslim Pencetak Peradaban Mulia

Penulis: Diansyah Novi Susanti, S.Pt.

Muslimah News, RISALAH KEPEMUDAAN — Apa yang terlintas dalam benak ketika berbicara tentang pemuda? Pemuda itu kuat, tangguh, penuh inspirasi, lincah, pantang menyerah, suka tantangan, tidak ada lelahnya, dan masih banyak kata yang bisa menggambarkan tentang pemuda.

Berbicara tentang pemuda itu sejatinya menyenangkan sebab mereka adalah gambaran generasi yang penuh ambisi dalam mewujudkan cita-cita, mempunyai mimpi besar yang hendak mereka capai.

Pemuda memiliki rasa keberanian yang tinggi sehingga gejolak untuk bangkit dalam membela kebenaran akan berkobar penuh semangat dan mampu menyingkirkan segala halangan rintangan yang mengadang. Masa yang mereka lalui adalah masa untuk banyak belajar, mencoba yang belum pernah dilakukan, serta penuh kreativitas sehingga akan banyak prestasi yang dapat diraih jika bersungguh-sungguh mengupayakannya.

Namun, sangat miris melihat kondisi pemuda saat ini. Keberaniannya malah terlampiaskan dalam maraknya aksi tawuran. Di Semarang (9-12-2022), viral SMKN 3 Semarang diserang para pelajar bersajam. Menurut Andriansyah, penyerang merupakan kelompok pelajar SMKN 1 Semarang. Akibat penyerangan itu, seorang siswa SMKN 3 Semarang mengalami luka sayatan sajam. (Detik Jateng).

Di Cirebon (10-12-2022), aksi tawuran pelajar melukai warga. Begitu pula di Palembang, belasan siswa SMK Gajah Mada Gama diamankan Unit 1 Subdit III Jatanras Polda Sumsel usai melakukan aksi begal dengan modus tawuran. Di Jambi (13-12-2022), sebanyak 12 pelajar SMK di Kabupaten Sarolangun berencana melakukan aksi tawuran antarsekolah sambil membawa sajam. Artinya, hampir setiap hari ada aksi tawuran pelajar di negeri ini.

—

Rasa penasaran yang tinggi untuk mencoba sesuatu pada diri pemuda, tidak jarang menjerumuskan mereka pada kemaksiatan. Lihat saja pada banyaknya kasus narkoba yang menjerat generasi muda. Menurut data Badan Narkotika Nasional (BNN), terdapat 2,2 juta remaja di 13 provinsi di Indonesia menjadi pengguna narkoba. (Sripoku, 2-11-2022).

Ini indikasi bahwa generasi muda menjadi sasaran empuk peredaran narkoba yang jelas sangat membahayakan generasi. Jangan sampai potensi pemuda yang seharusnya dapat membawa perubahan ke arah yang lebih baik, menjadi angan-angan semata.

Pemuda Pencetak Peradaban Mulia, Dambaan Umat

“Ada tujuh (golongan orang beriman yang akan mendapat naungan (perlindungan) dari Allah di bawah naungan-Nya (pada hari kiamat) yang ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu … seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan ibadah kepada Rabb-Nya. ….” (HR Bukhari).

Hadis ini menunjukkan bahwa pemuda berpeluang untuk mendapatkan perlindungan dari Allah Taala asalkan syaratnya terpenuhi, yaitu menjadi orang yang beriman dan menyibukkan diri beribadah kepada-Nya. Bentuk beribadah kepada Allah sekadar menjalankan ibadah mahdhah, seperti salat, puasa, zakat, ataupun berhaji, melainkan juga totalitas menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.

Profil pemuda seperti apa yang mampu menjadi pencetak peradaban mulia? Di antaranya adalah sebagai berikut.

Pertama, pemuda yang bersyahsiah Islam. Syahsiah (kepribadian) pada setiap manusia terbentuk oleh akliah (pola pikir) dan nafsiah (pola sikap). Akliah adalah cara yang digunakan untuk memikirkan sesuatu, yakni mengeluarkan keputusan hukum tentang sesuatu berdasarkan kaidah tertentu yang diimani dan diyakini seseorang. Sedangkan nafsiah adalah cara yang digunakan seseorang untuk memenuhi garizah (naluri) dan hajat al-‘adhawiyah (kebutuhan jasmani), yakni memenuhi tuntutan tersebut berdasarkan kaidah yang diimani dan diyakininya.

Seseorang dikatakan bersyahsiah Islam ketika akliah dan nafsiahnya terikat dengan Islam. Ia mengetahui halal/haram sehingga ketika menetapkan hukum tentang benda dan perbuatan akan senantiasa sesuai dengan hukum syarak. Ia juga mempunyai kematangan berpikir dan mampu menganalisis peristiwa dengan benar sehingga akan senantiasa sesuai dengan hukum syarak dalam memenuhi tuntutan garizah dan hajat al-‘adhawiyah. Ia pun selalu dekat pada Allah, menjalankan segala yang Allah cintai, dan meninggalkan segala yang Allah benci.

Untuk meningkatkan akliah Islamnya, maka seorang muslim dapat melakukan upgrade tsaqafah Islam dengan cara menuntut ilmu Islam dan tasqif (pembinaan). Hal ini sebagaimana Rasulullah saw. kala membina para sahabat pada awal dakwahnya di Darul Arqam. Beliau saw. membacakan ayat-ayat Allah, mengajarkan kandungan Al-Qur’an, juga menguatkan iman dan memperkuat mental para sahabat dalam menghadapi tekanan dari kaum musyrikin Quraisy. Selain itu, kita juga bisa mengikuti berbagai kajian intensif yang dibimbing oleh musyrifah (guru/pembimbing) secara rutin setiap pekan.

Sedangkan untuk meningkatkan nafsiah Islam, maka seorang muslim harus meningkatkan ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Setiap perbuatannya wajib terikat hukum syarak. Allah Taala berfirman dalam QS Asy-Syura [42]: 10, “Tentang apa pun kalian berselisih, maka putusannya harus dikembalikan kepada Allah.” Begitu pula dalam QS An-Nisa [4]: 59, “Jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunah).”

—

Profil kedua, berani membela kebenaran. Pemuda muslim mempunyai sifat pemberani sebagaimana dicontohkan oleh para pemuda terdahulu pada masa kejayaan Islam. Mereka gagah berani berjihad di medan perang demi membela agamanya. Ada Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Mush’ab bin Umair, dan Usamah bin Zaid. Juga Muhammad al-Fatih si penakluk Konstantinopel, pemuda 21 tahun yang dengan pasukan terbaiknya mampu meruntuhkan benteng Konstantinopel, serta masih banyak pemuda yang lainnya.

Keberanian dan energi positif para pemuda muslim harus disalurkan dengan benar untuk mendakwahkan Islam. Mereka harus berani menyampaikan kebenaran di tengah rusaknya sistem sekuler kapitalisme saat ini. Dengan pemikiran cemerlang dan keberaniannya, niscaya pemuda muslim mampu bangkit dan mengobarkan panasnya girah perjuangan Islam.

—

Ketiga, pemuda adalah mereka yang berjiwa pemimpin. Syubbanul yaum rijalul ghaad ‘pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan’. Rasulullah saw. bersabda, “Sayyid al-qawm khaadimuhum (pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka).” Ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus paham betul siapa yang ia pimpin dan dengan aturan apa ia memimpin. Pemimpin adalah pelayan umat, maka ia harus mampu memenuhi segala kebutuhan umat yang dipimpinnya dengan adil.

Sejak Rasulullah saw. diutus, tidak ada masyarakat yang mampu melahirkan para pemimpin yang amanah dan adil, kecuali dalam masyarakat yang menerapkan sistem Islam. Lihatlah pada Khulafaurasyidin yang terkenal akan keberanian dan ketegasan dalam membela Islam. Mereka menjadi contoh pemimpin yang dicintai rakyatnya, sekaligus ditakuti oleh para musuhnya.

Hanya saja, untuk menghasilkan pemuda dengan profil pencetak peradaban mulia itu, mustahil akan lahir dari sistem sekuler kapitalisme. Oleh karenanya, perlu adanya sebuah sistem yang sempurna (Islam) dalam bingkai Daulah Islamiah yang akan mampu mewujudkannya. Allahu Akbar! [MNews/Gz]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *