Sistem Pendidikan Islam Mencetak Generasi Berkepribadian Islam

Sistem Pendidikan Islam Mencetak Generasi Berkepribadian Islam

Penulis: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si.

Muslimah News, RISALAH KEPEMUDAAN — UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa pendidikan adalah tempat atau wadah untuk mengembangkan seluruh potensi diri yang ada pada diri manusia.

Berkelindan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring juga mengartikan pendidikan sebagai ‘proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, serta proses, cara, dan perbuatan mendidik’.

Namun, sadar atau tidak, kita harus mengakui bahwa dalam kehidupan yang kian modern ini, spirit pendidikan lambat laun tergerus. Hasil pendidikan yang semestinya menjadi cahaya bagi para peserta didik, nyatanya jauh panggang dari api. Banyak orang yang sebenarnya terdidik, tetapi perilakunya tidak jauh berbeda dengan yang tidak terdidik.

Sebagai contoh kecil, beberapa waktu lalu viral video sekumpulan pelajar SMA di Tapanuli Selatan yang menendang seorang perempuan lansia hingga terjungkal. Sebelumnya, beredar juga video beberapa pelajar SMP mem-bully kawannya di dalam kelas dengan memukulinya hingga pingsan.

Kedua kasus ini hanya fenomena gunung es. Kasus lain yang tidak terungkap bisa jadi masih lebih banyak. Pada saat yang sama, pengajaran Islam justru makin dijauhkan dari dunia pendidikan—yang malah dinarasikan sebagai “pendidikan maju”.

Akibatnya, anak Rohis (kerohanian Islam) di sekolah/kampus diopinikan sebagai bibit teroris. Orang tua, sekolah/kampus, dan masyarakat juga terus ditakut-takuti dengan isu “Islam radikal”. Padahal sebaliknya, pelajar/mahasiswa yang sering dituding radikal adalah mereka yang taat beribadah, menutup aurat dengan sempurna, berakhlak mulia, bahkan berprestasi. Jelas, tudingan radikalis, ekstremis, hingga teroris pada insan terdidik, tidak memiliki dasar argumentatif.

Memang, aktivis Islam yang tengah menempuh pendidikan di berbagai jenjang tidak ubahnya ikan yang dipaksa hidup di perairan beracun. Idealismenya terhadap dakwah Islam pasti terkendala, meski tentunya hal tersebut adalah bagian dari onak-duri perjuangan.

Ini tersebab sistem pendidikan tempatnya belajar adalah sistem pendidikan sekuler (memisahkan agama dari kehidupan). Sistem pendidikan sekuler hanya meniscayakan target prestasi akademik dan orientasi bekerja yang minim dari penanaman adab dan pembentukan kepribadian luhur. Bobot pelajaran agama Islam di sekolah/kampus pun ala kadarnya.

Kita ketahui, penunjang kehidupan saat ini adalah sekularisme. Di balik megahnya modernisasi dan kemajuan peradaban fisiknya, tersimpan krisis akut generasi tadi. Dengan demikian, kita butuh gambaran dan paradigma sistem pendidikan lain yang berbeda dari sistem pendidikan saat ini.

Itulah sistem pendidikan Islam di bawah naungan Khilafah. Sejarah dan kiprahnya dalam membangun generasi dan peradaban sahih bukanlah isapan jempol belaka. Jejak dan sumbangan peradaban Islam pada masa lalu bahkan menjadi pijakan bagi teknologi modern sekarang ini.

Sistem pendidikan Islam juga mempunyai tujuan yang jelas, yaitu mencetak generasi berkepribadian Islam (syahsiah islamiah). Sistem pendidikan Islam membentuk pola pikir dan pola sikap para peserta didik agar senantiasa selaras dengan Islam.

Mereka juga diarahkan menjadi pribadi yang memiliki beragam kecerdasan dalam rangka berkontribusi untuk umat, bukan dicetak menjadi para pekerja/pengusaha untuk mengisi dunia industri maupun mesin pemutar roda ekonomi.

Pengajaran Islam diberikan kepada peserta didik bukan berupa teori semata, melainkan untuk menjadi petunjuk kehidupan yang praktis. Keberhasilan sistem pendidikan Islam juga terwujud pada pembentukan pribadi yang mulia. Ini karena Islam meletakkan pendidikan adab bagi para pelajar sebelum mereka mempelajari ilmu-ilmu lainnya. [MNews/Gz]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *