Buku yang sekilas tampak sederhana ini ternyata menyimpan narasi luar biasa tentang Madinah sehingga membuat takjub dan haru. Madinah bukan semata tujuan hijrah, tetapi kota pilihan Allah Swt. demi menolong hamba-hamba-Nya yang sedang berada dalam keadaan tersulit di Makkah.
Peresensi: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si.
Judul Buku: Berkah Madinah, Penggerak Sejarah
Penulis: Edgar Hamas
Penerbit: Pro-U Media
Cover: Soft cover
Isi: 200 halaman
Berat: 187 gram
Ukuran: 14 x 20 cm
MuslimahNews.com, RESENSI BUKU — “Aku diperlihatkan dalam mimpiku bahwa aku berhijrah dari Makkah ke sebuah negeri yang banyak kurmanya. Aku menyangka negeri itu adalah Yamamah atau Hajr, ternyata ia adalah Kota Yatsrib…” (HR Bukhari-Muslim)
Buku yang sekilas tampak sederhana ini ternyata menyimpan narasi luar biasa tentang Madinah sehingga membuat takjub dan haru. Madinah bukan semata tujuan hijrah, tetapi kota pilihan Allah Swt. demi menolong hamba-hamba-Nya yang sedang berada dalam keadaan tersulit di Makkah. Yakni ketika dakwah Rasulullah saw. dan para sahabatnya mengalami puncak tekanan dari kaum kafir Quraisy.
Madinah adalah jawaban Allah dari arah yang tidak disangka-sangka. Rencana Allah benar-benar istimewa. Petunjuk tentang Madinah berawal dari pertemuan Rasulullah saw. dengan rombongan jamaah haji dari Yatsrib (nama terdahulu Madinah). Dengan izin Allah, mereka masuk Islam.
Tahun berikutnya, mereka datang dengan jumlah anggota rombongan yang lebih banyak dan melaksanakan Baiat Aqabah I. Dalam kepulangan mereka ke Yatsrib, Rasulullah saw. mengutus Mush’ab bin Umair ra. menyertai mereka. Beliau memerintahkan Mush’ab untuk membacakan Al-Qur’an, mengajarkan Islam, dan memberi pemahaman agama kepada mereka.
Setahun kemudian, mereka datang lagi berhaji ke Makkah dengan jumlah anggota rombongan yang lebih besar, yakni 73 orang laki-laki dan 2 orang perempuan, untuk melaksanakan Baiat Aqabah II. Baiat ini tidak sekadar masalah dakwah dan kesabaran dalam menghadapi semua kesengsaraan, tetapi juga mencakup kekuatan dalam rangka mempertahankan kaum muslimin menuju cikal bakal pilar penegakan Negara Islam.
Penulis, yang pernah mengenyam pendidikan di Kota Nabi ini, mengisahkan pengalamannya selama menuntut ilmu di sana. Penulis juga menceritakan kawasan-kawasan lain di sekitar Madinah dan Jazirah Arab yang terdapat jejak-jejak perjuangan dakwah para nabi. Yakni Mesir, Sinai, Quba, hingga Al-Quds. Juga tempat-tempat bersejarah seperti Masjid Nabawi, Lembah Badar, Bukit Uhud, kawasan bekas peristiwa Perang Khandaq, Masjid Quba, Masjid Al-Qiblatain, dan lain-lain.
Madinah, di sanalah pernah terdapat generasi terbaik pada masa awal Islam, yaitu kaum Muhajirin dan Anshar. Mereka hidup bersama Rasulullah saw. dan dididik langsung oleh beliau. Madinah di kemudian hari menjadi mercusuar dunia, hingga mampu menundukkan adidaya Romawi dan Persia ke dalam pangkuan Islam. Dengan demikian terbukti, dari Madinah-lah energi Islam itu berasal, lalu tersebar melalui dakwah dan jihad sehingga sampai ke wilayah Nusantara.
Penulis juga menyampaikan, Madinah adalah kota paling tenang di seluruh jazirah Arab. Orang-orang yang mengunjunginya senantiasa merasa bahwa dirinya bertamu ke hadapan Baginda Rasulullah saw.. Mereka merindukan beliau. Meski tentu kita yang berada jauh dari Madinah pun juga rindu pada beliau. Tidak heran, para ulama Madinah menasihati kepada mereka yang berkesempatan berkunjung ke Madinah, “Jika engkau tidak bisa berbuat paling baik di Madinah, maka di mana lagi engkau bisa melakukannya?” Rasulullah saw. pun bersabda, “Sesungguhnya Madinah itu seperti alat peniup api yang mengeluarkan hal yang kotor. Tidak akan terjadi kiamat itu sampai Madinah menghilangkan keburukan-keburukan yang ada di dalamnya sebagaimana alat peniup api menghilangkan kotoran besi.”(HR Muslim). [MNews/Rgl]
