Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Namanya dikenal kalangan para sahabat Nabi saw., Sa’id bin Amir al-Jumahi. Ia seorang yang menjual dunia untuk kepentingan akhiratnya. Mencukupkan diri mengambil sebatas apa yang ia butuhkan dalam hidupnya, tidak berlebihan, dan sangat sederhana.
Tatkala Khalifah Umar bin Khaththab ra. mengangkatnya sebagai Gubernur Homs di Syam, ia pun berkata, “Wahai Umar, saya memohon kepada Allah semoga Anda tidak mendorong saya condong kepada dunia,”
“Celakalah engkau,” kata Umar. “Engkau telah pikulkan beban pemerintahan ini di pundakku. Tetapi kemudian engkau menghindar dan membiarkanku repot sendiri,” keluh Umar. “Demi Allah, saya tidak akan membiarkan Anda,” jawab Sa’id.
Kesederhanaan Sa’id bin Amir
Suatu hari Khalifah melakukan kunjungan ke wilayah Syam. Sesampainya di daerah Homs, beliau mendengar banyak keluhan dari penduduk tersebut. Beliau lalu menanyakan kabar pemimpin Homs.
Sang Khalifah bertanya, “Bagaimana kabar pemimpin kalian?” “Itulah yang ingin kami keluhkan wahai Khalifah,” jawab mereka.
Tidak mau berburuk sangka, khalifah pun mengumpulkan mereka dengan pemimpinnya. “Apa yang kalian keluhkan?” tanya khalifah.
Mereka menjawab, “Pemimpin kami tidak menemui kami kecuali saat matahari sudah tinggi. Yang kedua, ia tidak pernah mau ditemui saat malam hari, Ketiga, dalam satu bulan ada satu hari ia sama sekali tidak menemui kami. Dan yang keempat, kami selalu menemui beliau dalam keadaan murung dan sedih, sehingga orang-orang keluar dari majelisnya.”
Khalifah berpaling dan bertanya, “Benarkah itu wahai Sa’id?” Sa’id berkata, “Demi Allah ini amat berat untuk aku katakan. Kami adalah keluarga miskin sehingga aku sendiri yang harus memenuhi kebutuhan keluargaku di pagi hari. Lalu aku berwudu dan menemui wargaku.
Yang kedua, sebenarnya aku juga enggan menyebutkannya. Akan tetapi aku telah menjadikan siangku untuk manusia. Maka kujadikan malamku untuk Allah (beribadah).
Yang ketiga, wahai Amirulmukminin, aku tidak mempunyai pakaian kecuali yang aku kenakan ini. Sehingga aku harus mencucinya sekali setiap bulan dan menjemurnya untuk dipakai di kemudian hari.”
Untuk yang keempat, Sa’id melanjutkan, “Saat aku berkubang dalam kemusyrikan, aku melihat kematian sahabat Nabi saw., Khubaib bin ‘Adi. Saat ia (Khubaib) disiksa, orang-orang Quraisy menanyakan kepadanya, apakah ia mau jika Rasulullah menggantikannya. Maka Khubaib mengatakan bahwa ia tidak rela jika ia, keluarga, dan anak-anaknya selamat, sedangkan Rasulullah terluka walaupun hanya karena sebuah duri. Hingga saat ini aku khawatir Allah tidak mengampuniku karena tidak tergerak menolongnya (Khubaib).”
Umar pun berseru, “Maha Suci Allah yang telah menyelamatkan aku dari berburuk sangka kepada Sa’id.”
Gubernur yang Miskin
Suatu hari datanglah rombongan Homs ke Madinah menyampaikan hajat mereka kepada Khalifah Umar. “Tuliskan untukku nama-nama orang fakir dan miskin di negeri kalian untuk dipenuhi kebutuhannya.” ujar Khalifah Umar.
Mereka pun menyerahkannya. Lalu sang Khalifah tersentak melihat satu nama yang tertulis. Dengan penuh rasa ingin tahu beliau bertanya, “Siapa Sa’id bin ‘Amir?” Mereka menjawab, “Ia gubernur kami, wahai Amirulmukminin,”
“Gubernur kalian seorang yang miskin?” tanya khalifah. “Benar, ya Amirulmukminin. Sudah beberapa hari tidak tampak asap mengepul dari dalam rumahnya.” jawab mereka.
Mendengar hal itu, Khalifah Umar menangis hingga air matanya membasahi jenggotnya. Lalu beliau mengambil uang sebesar seribu dinar untuk diberikan kepada Sa’id. “Kembalilah ke Homs. Sampaikan salamku kepadanya (Sa’id) dan berikan harta ini untuk memenuhi kebutuhannya,” ujar Khalifah Umar.
Tatkala Sa’id mengetahui Khalifah Umar memberinya uang yang banyak, ia berkata, ““Inna lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Seakan dia tertimpa oleh sebuah bencana besar.
Istrinya yang khawatir bertanya, “Apa yang terjadi? Apakah Amiirulmukminin wafat?” “Bencana telah masuk ke dalam rumah kita, ” jawab Sa’id.
Tanpa tahu pemberian khalifah, sang istri menimpali, “Menjauhlah darinya!” Sa’id meminta kepada istrinya, “Maukah kau membantuku?” “Ya,” jawab istrinya dengan penuh taat. Maka suami istri tersebut membagikan seribu dinar itu dalam pundi-pundi kecil kepada para fakir miskin.
Teladan seperti Sa’id tidak akan pernah lahir di sistem kapitalis sekuler. Penyakit wahn telah bersarang di dada para pemimpin hari ini. Jangankan menjadi miskin, untuk sekadar membagi separuh kekayaan yang didapat saja rasanya mustahil terjadi.
Sungguh sangat jauh kita temukan sosok pemimpin yang begitu sederhana dalam sistem sekuler. Menjauhi kenikmatan dan kekayaan dunia karena menganggapnya sebagai musibah bagi akhiratnya. Betapa Islam tidak pernah kehabisan sosok-sosok fenomenal yang patut menjadi teladan sepanjang masa. Sosok yang lahir di bawah asuhan sistem Islam. Bukankah kita begitu merindu dengan sosok pemimpin seperti Sa’id dan sistem yang menaunginya? [MNews/Chs]
*Diolah dari berbagai sumber

MasyaaAllah..