Muslimah News, LENSA DAERAH — Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Pandeglang mengungkapkan bahwa kasus persetubuhan anak di Kabupaten Pandeglang pada 2022 mengalami kenaikan.
Berdasarkan data, pada 2021 dari Januari hingga Desember kasus pencabulan yang ditangani PPA Satreskrim Polres Pandeglang sebanyak 5 kasus, persetubuhan anak 13 kasus, sodomi 1 kasus, kekerasan anak 9 kasus, dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) sebanyak 8 kasus.
Sedangkan pada 2022, kasus pencabulan yang ditangani sebanyak 4 kasus, persetubuhan anak 16 kasus, sodomi 1 kasus, kekerasan anak 6 kasus, dan kekerasan dalam rumah tangga sebanyak 5 kasus. Dengan demikian, hanya kasus persetubuhan anak yang mengalami kenaikan, sedangkan kasus lain mengalami penurunan.
Kanit PPA Satreskrim Polres Pandeglang, IPDA Akbar mengatakan dilihat dari pelaku yang ditangkap oleh Satreskrim Polres Pandeglang, kebanyakan pelaku persetubuhan anak dilakukan oleh orang terdekat atau orang yang kenal dengan korban. Sedangkan, faktor yang berpengaruh dalam kasus persetubuhan anak adalah kurangnya pengawasan dari orang tua korban.
Wabah Seksualisasi
Munculnya banyak kasus yang menempatkan anak sebagai korban seksual disorot ahli geostrategi dari Institut Muslimah Negarawan (ImuNe) Dr. Fika Komara.
“Wabah seksualisasi melanda kaum muda yang didukung oleh industri hiburan dan media telah secara masif merusak anak-anak kita, laki-laki dan perempuan,” tuturnya kepada MNews.
Wabah ini, lanjut Fika, telah menjadikan anak-anak perempuan sebagai obyek seksual dan secara mengerikan perlahan tapi pasti telah mengubah mental anak-anak laki-laki layaknya predator seksual.
“Nilai-nilai seksualisasi ini terus merasuki generasi muda mendorong mereka memiliki cara pandang terhadap hubungan laki-laki dan perempuan hanya dalam konteks pemuasaan nafsu sesaat,” ucapnya miris.
Penerapan Sekularisme
Fika menilai wabah seksualisasi ini adalah buah busuk dari penerapan sekularisme dan kapitalisme. “Ideologi kapitalisme sekular telah menyebarkan wabah seksualisasi ini yang secara sistematis melumpuhkan vitalitas generasi muda dan bangunan masyarakat,” bebernya.
Kapitalisme dengan promosi nilai-nilai sekulernya, jelas Fika, telah mengantarkan anak-anak pada gerbang kebinasaan. “Mereka yang seharusnya menjadi generasi pembangun masa depan telah binasa masa depannya karena menjadi pelaku sekaligus korban kriminalitas rendahan” tuturnya.
Islam
Fika menegaskan bahwa obat dari wabah penyakit ini hanyalah Islam. Sejarah gemilang peradaban Islam terbukti menjamin kehormatan anak-anak generasi penerus Islam.
“Sistem hukum, sosial dan politik ekonominya berpadu menjaga dan menjamin tumbuh kembangnya generasi emas yang kuat, produktif dan bertakwa,” jelasnya.
Islam, kata Fika, menolak nilai-nilai liberal yang melakukan seksualisasi pada masyarakat. Sebaliknya Islam terus mempromosikan cara pandang yang mulia dalam melihat hubungan antara laki-laki dan perempuan.
“Islam akan fokus membina anak laki-laki sebagai calon pemimpin, pelindung kaum perempuan dengan penuh rasa tanggung jawab untuk masa depan. Di saat yang sama Islam akan menempatkan perempuan dalam kehormatan dan perlindungan,” tandasnya.
Itu semua, ucap Fika, hanya bisa diraih dengan penerapan syariat Islam komprehensif tentang pakaian, pergaulan sosial, dan jaminan perwalian mereka.
“Kembalinya Islam sebagai satu kesatuan sistem inilah yang akan menjadi perisai sekaligus obat dari wabah seksualisasi puluhan jutaan anak di dunia,” yakinnya.
Fika menyandarkan argumennya pada sabda Rasulullah saw. riwayat Imam Daruqthni yang artinya, “Islam itu tinggi dan tidak ada yang mengalahkan ketinggiannya.” [MNews/IA]
Foto sampul: iStock
