Seperti Apa Pemimpin Dambaan Milenial?

Seperti Apa Pemimpin Dambaan Milenial?

Penulis: Shezan A. Gerung

Muslimah News, DUNIA REMAJA — Pemilu masih lama, tetapi suhu politik sudah sepanas ini, Sobat. Jauh hari, parpol sudah melakukan penjajakan. Ibarat berharap jodoh, parpol-parpol itu berharap bisa berkolaborasi membentuk koalisi.

Kamu yang milenial adalah incaran empuk partai politik, lo. Kok bisa? Ya bisalah, kan persentase pemilih dari kalangan milenial itu terbesar dibandingkan kelompok usia lainnya. Makanya, kudu melek politik juga biar tidak salah memilih pemimpin.

Melek Politik

Sobat, dari sekian juta daftar pemilih tetap negeri ini, ternyata kaum milenial disebut-sebut sebagai penentu kemenangan pada Pemilu nanti. Saat ini, jumlah penduduk milenial di Indonesia tercatat mencapai 40% dari total jumlah pemilih tetap. Wow!

Wajar dong kalau masing-masing kubu berupaya menarik perhatian kaum milenial. Bahkan, ada parpol yang mengusung partainya sebagai partainya anak milenial. Sosok yang mereka usung dipoles sedemikian rupa agar terlihat gaul dan merepresentasi para milenial.

Sayangnya, kalau diperhatikan, pendidikan politik yang milenial pahami tidak lebih dari sekadar mencoblos doang. Padahal, sebagai pemuda, milenial seharusnya care pada masyarakat karena milenial adalah agent of change juga backbone-nya masa depan bangsa. Betul, tidak?

Seharusnya lagi, milenial mendapatkan pemahaman mengenai sistem hukum yang ideal yang mampu menyelesaikan problematik negeri ini. Bukan apa-apa sih, berdasarkan pengalaman sebelumnya, pemilu hanya menghasilkan pemimpin korup dan tega ke rakyatnya.

Kemarin saja, BBM naik tanpa permisi. Sembako naik, TDL naik, biaya sekolah pun ikut-ikutan naik. Kalau sudah kayak begini, sudah seharusnya milenial melek bahwa politik bukan sekadar mencoblos. Islam punya lo, konsep khas dalam memilih pemimpin amanah.

Pemimpin Dambaan

Sobat, mungkin selama ini kita belum tahu kalau Islam punya konsep unik dan melegenda dalam sejarah peradaban Islam. Terdapat keterangan yang bagus yang Syaikhul Islam jelaskan dalam karyanya, As-Siyasah asy-Syar’iyah, tentang kriteria pemimpin yang baik.

Beliau menjelaskan, “Selayaknya untuk diketahui siapakah orang yang paling layak untuk posisi setiap jabatan. Karena kepemimpinan yang ideal itu memiliki dua sifat dasar, yakni kuat (mampu) dan amanah.”

Sifat “kuat” (profesional) untuk setiap pemimpin tergantung dari medannya. Kuat dalam memimpin perang kembali pada keberanian jiwa dan kelihaian dalam berperang dan mengatur strategi. Ini karena inti perang adalah strategi. Juga kembali kepada kemampuan dalam menggunakan senjata perang. Sementara itu, kuat dalam menetapkan hukum di tengah masyarakat kembali kepada tingkat keilmuannya memahami keadaan yang diajarkan Al-Qur’an dan Sunah, sekaligus kemampuan untuk menerapkan hukum itu.

Selanjutnya, beliau menjelaskan kriteria “amanah”. Sifat amanah kembali kepada kesungguhan orang untuk takut pada Allah, tidak memperjualbelikan ayat-Nya untuk kepentingan dunia, serta tidak takut dengan ancaman manusia. Tiga kriteria inilah yang Allah jadikan standar bagi para penentu hukum bagi masyarakat.

Teladan Pemimpin dalam Islam

Banyak sekali sosok pemimpin pada masa peradaban Islam yang layak untuk milenial jadikan figur sebagai pemimpin teladan. Umar bin Khaththab salah satunya. Beliau adalah seorang pemimpin yang bertanggung jawab.

Bukti nyata ini tergambar pada kebiasaan beliau yang selalu berpatroli mengontrol rakyatnya. Suatu waktu, beliau pernah mendapati seorang ibu yang sedang membohongi anaknya yang kelaparan dengan pura-pura menanak beras, padahal yang ada dalam wadah tersebut adalah batu. Melihat hal tersebut, beliau mengambil gandum dan beliau pikul sendiri.

Ketika pengawalnya menawarkan untuk memikulnya, Khalifah Umar berkata, “Apakah kamu akan menjerumuskan aku ke dalam neraka karena telah menelantarkan rakyatku dan membiarkannya kelaparan?” Sungguh benar-benar pemimpin dambaan, kan?

Lain halnya dengan Umar bin Abdul Aziz yang menjadi Khalifah pada masa Bani Umayyah. Beliau menggantikan khalifah sebelumnya, Sulaiman bin Abdul Malik. Umar bin Abdul Aziz menangis terisak-isak. Ia memasukkan kepalanya ke dalam dua lututnya dan menangis sesenggukan. Dalam tangisnya, Umar bin abdul Aziz mengucapkan kalimat, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji’uun,” sambil berujar, “Demi Allah, sungguh aku tidak meminta urusan ini sedikit pun, baik dengan sembunyi-sembunyi maupun dengan terang-terangan.”

Mendengar perkataan beliau, istrinya bergumam, “Wahai Suamiku, mengapa engkau menangis seperti itu?” Umar pun menjawab, “Sesungguhnya aku telah diangkat menjadi Khalifah untuk memimpin urusan umat Nabi Muhammad saw..”

Sang Khalifah berkata kepada istri dan anaknya, “Aku termenung dan terpaku memikirkan nasib para fakir miskin yang sedang kelaparan dan tidak mendapat perhatian dari pemimpinnya. Aku juga memikirkan orang-orang sakit yang tidak mendapati obat yang memadai. Hal yang sama terpikir olehku tentang orang-orang yang tidak mampu membeli pakaian, orang-orang yang selama ini dizalimi dan tidak ada yang membela, mereka yang mempunyai keluarga yang ramai dan hanya memiliki sedikit harta, orang-orang tua yang tidak berdaya, orang-orang yang menderita di pelosok negeri ini, dan lain sebagainya.”

Sang Khalifah melanjutkan kesedihannya, “Aku sadar dan memahami sepenuh hati bahwa Allah Taala pasti akan meminta pertanggungjawaban dariku sebab hal ini adalah amanah yang terpikul di pundakku. Namun, aku bimbang dan ragu, apakah aku mampu dan sanggup memberikan bukti kepada Allah bahwa aku telah melaksanakan amanah itu dengan baik dan benar sesuai dengan tuntunan Tuhanku? Atas dasar itulah, wahai istri dan anakku, sehingga aku menangis.”

Khalifah Umar kemudian membaca QS Yunus: 15, “Sesungguhnya aku benar-benar takut akan azab hari yang besar (kiamat) jika mendurhakai Tuhanku.”

Khatimah

Masyaallah, pemimpin seperti ini tentu dambaan siapa pun. Namun, perlu menjadi catatan bahwa sosok dan karakter pemimpin seperti ini tidak akan lahir dari sistem sekuler kapitalisme. Sistem ini justru menumbuhsuburkan praktik pemimpin korup yang doyan bagi-bagi jatah.

Hanya sistem Islam yang mampu melahirkan sosok pemimpin amanah dan pengayom rakyatnya. Butuh perjuangan untuk mewujudkan hal ini dan butuh andil dari Sobat semua agar sistem Islam dan kepemimpinan Islam ini terwujud. Are you ready?! [MNews/Gz]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *