[Dunia Remaja] Bullying Tidak Main-Main

[Dunia Remaja] Bullying Tidak Main-Main

Penulis: Iwan Januar

Muslimah News, DUNIA REMAJA — Saya sudah sering membaca artikel tentang bullying (perundungan) dan sepakat bahwa hal itu tidak baik bagi anak-anak. Sampai kemudian saya membaca buku tulisan Barbara Coloroso berjudul Stop Bullying; Memutus Rantai Kekerasan Anak dari Prasekolah hingga SMU, saya tersadarkan kalau pengetahuan saya tentang bullying belum seberapa; soal bagaimana bullying itu terjadi, dampak terhadap korban, dan betapa banyak guru, sekolah, juga orang tua yang meremehkan bullying; juga fakta kalau bahaya dan efek negatif psikologis pada korban bullying itu amat besar.

Umumnya, orang dewasa—orang tua maupun guru—beranggapan bullying itu tindak kenakalan seperti sekumpulan anak yang sedang main lompat tali atau futsal, lalu saling mengejek atau bahkan adu jotos. Sepintas saja. Padahal, bullying tidak sesederhana itu. Bullying adalah tindakan yang berlangsung terus-menerus, bahkan dalam banyak kasus berjalan sistematis.

Akibat tidak memahami soal bullying ini, respons yang diberikan orang dewasa—guru dan orang tua—terhadap hal ini sering kali tidak menyelesaikan persoalan. Bahkan, tidak jarang korban makin tertekan dalam lingkaran bullying.

Sebagai contoh, ketika ada anak yang menjadi korban mengadu pada orang tua atau guru, ada kalimat yang justru makin meruntuhkan mental anak yaitu, “Jangan baperan, teman kamu kan cuma bercanda.” Atau memberikan komentar yang malah menyalahkan korban, “Kamunya kali yang julid, enggak ramah sama teman-teman kamu.”

Memahami Perkara Bullying

Ada beberapa hal yang perlu diketahui dengan serius oleh orang tua tentang bullying ini. Pertama, bullying bisa terjadi di mana saja; lingkungan rumah, termasuk lingkungan bermain, sekolah, pondok pesantren, dan dunia maya.

Orang tua secara polos sering berpikir bahwa pondok pesantren steril dari bullying. Dengan lingkungan agamis atau islami, rasanya mustahil terjadi bullying. Faktanya, tidak ada lingkungan yang aman dari bullying, sekalipun itu di pondok pesantren.

Hal lain yang orang tua dan guru juga kurang paham, bullying juga terjadi di dunia maya, di media sosial, yang disebut cyberbullying. Pelakunya malah lebih luas dan bisa lebih kasar. Meski hanya kata-kata, tetapi bisa membuat mental anak down, bahkan putus asa.

Beberapa kasus bullying di media sosial berujung pada korban ambil tindakan bunuh diri (https://www.liputan6.com/citizen6/read/597254/6-korban-cyberbullying-yang-berakhir-bunuh-diri). Facebook, Instagram, dan TikTok adalah sebagian platform media sosial yang rawan bullying.

—

Kedua, banyak orang dewasa, termasuk guru, menganggap kata-kata itu tidak terlalu menyakitkan. Padahal, para psikolog sepakat apabila “words can be hurtful”. Sebutan “Kamu jelek.”, “Gitu aja bangga”, atau kata-kata yang meremehkan prestasi dan karya seorang anak, bisa berdampak pada psikologis korban. Apalagi bullying ini berjalan secara sistematis dan kontinu.

Anak yang menjadi korban bullying lewat kata-kata secara terus-menerus bagaikan tebing yang dikikis air ombak, lama-lama ambruk. Ada cerita seorang selebritas dalam negeri yang pernah mengalami depresi berat karena orang-orang di sekitarnya, termasuk kerabatnya, sering menjelek-jelekkan adiknya dengan kata-kata. Ia bercerita sampai pernah terpikir untuk bunuh diri karena merasa keluarganya dihina. Padahal, yang dihina adalah adiknya. Tergambar perasaan korban langsung.

Mental manusia, apalagi anak-anak, punya daya tahan tertentu, terutama apabila orang di sekitarnya (seperti orang tua atau guru) tidak cukup membantu. Dalam kondisi puncak, sedikit saja kata-kata atau sikap yang menyayat perasaannya akan membuat ia ambruk.

Ini persis balon udara yang pecah karena terus-menerus dipompakan udara. Balon tidak meletus ketika satu, dua, atau tiga kali tiupan. Akan tetapi, tiupan berkali-kali yang akhirnya membuat kulit balon itu makin tipis dan tidak sanggup menahan lagi tekanan udara di dalamnya sampai akhirnya pecah.

—

Ketiga, bullying itu terbilang sulit dideteksi oleh orang dewasa atau sekolah karena biasanya mereka melakukannya secara tersembunyi dan halus. Mereka tahu kapan bisa leluasa merundung korban dan kapan menutup rapat-rapat perbuatan mereka.

Selain itu, para pelaku bullying biasanya akan denial (menyangkal) perbuatan mereka disebut bullying. Mereka biasanya akan berdalih kalau ucapan mereka bukan hinaan, hanya main-main atau teguran; sebetulnya tepatnya adalah sindiran, lalu bisa balik menyalahkan korban yang dianggap baperan.

Sering kali pelaku bullying itu anak-anak yang kelihatan baik dan berprestasi, bukan anak bermasalah. Itu karena mereka lihai menutupi bullying di depan orang tua atau guru-guru.

—

Keempat, ada dua model pelaku bullying, yakni mereka yang pernah jadi korban bullying sebelumnya lalu mencari pelampiasan. Ini perlu penanganan serius.

Berikutnya adalah siswa-siswa yang merasa terganggu dengan sikap korban, misalnya karena kalah persaingan atau korban dianggap lancang karena mengganggu komunitas mereka—organisasi olahraga, OSIS, dan lain-lain—sehingga mereka takut kalah pengaruh, lalu secara bersama melakukan bullying agar korban jera.

—

Kelima, jenis bullying. Ada tiga bentuk bullying, yakni

(1) verbal dengan kata-kata, seperti mencemooh atau meremehkan kemampuan atau fisik korban, termasuk dalam hal ini melaporkan korban berkali-kali ke sekolah agar korban mendapatkan sanksi;

(2) secara fisik, seperti memukul, melempari kotoran, merobek buku, mempermalukan korban di depan kawan-kawan;

(3) relasional, memutuskan pertemanan dan mengucilkan korban. Biasanya pelaku bullying akan menghasut kawan-kawannya untuk menjauhi korban atau memusuhi orang yang berkawan dengan korban, tujuannya agar mereka akhirnya menjauhi korban.

Dalam kasus lain yang termasuk bullying relasional adalah memberikan perlakuan beda pada korban. Misalnya, tidak mengundang korban ke acara salah seorang anggota circle pelaku atau ketika korban melanggar peraturan kelas atau komunitas, ia mendapat hukuman lebih berat daripada kawan-kawan yang masuk dalam circle pelaku bullying.

—

Keenam, kenapa guru dan orang tua sulit mendeteksi bullying? Di antaranya karena orang dewasa menganggap hal itu sebagai kenakalan biasa anak-anak. Sekarang bermusuhan, besok juga baikan.

Penting bagi orang tua membedakan antara konflik insidental dan bullying yang berjalan sistematis. Oleh karenanya, orang tua dan guru perlu menelusuri perilaku anak-anak di sekolah, wajar atau tidak.

Paling mudah adalah mengenali korban ketimbang pelaku yang sering lihai menutupi bullying. Kondisi korban justru paling kelihatan jelas. Apabila ada anak yang prestasinya merosot, tidak betah di kelas, duduk di bangku belakang terus-menerus, ekspresi wajahnya tidak semangat, menyendiri, sering tidak bersama kawan-kawannya, itu sebagian tanda-tanda ia adalah korban bullying.

—

Ketujuh, solusi yang diberikan orang dewasa, termasuk sekolah, sering kali kurang tepat, yakni dengan cara menangani korban dan menghukum pelaku. Bahkan, dalam beberapa kasus, yang dihukum adalah korban karena ketika ia sedang marah akibat bullying, ia tertangkap basah oleh sekolah. Ya wajarlah, karena anak yang sedang emosi lebih ekspresif ketimbang pelaku yang cukup bersikap sinis atau kata-kata sindiran sudah bisa melukai hati korban. Itu tidak tampak oleh orang dewasa atau sekolah.

—

Memberikan perlindungan pada korban bullying jelas harus, tetapi lebih penting lagi adalah menciptakan suasana kelas dan pergaulan di sekolah atau di pondok yang aman.

Pertama, dengan cara terus-menerus mengedukasi dan mengampanyekan kalau sesama muslim itu bersaudara, harus menjaga perasaan dan tutur kata serta perbuatan. Mengajarkan anak-anak untuk saling mendukung, ikut berbahagia apabila kawannya berprestasi, serta menghilangkan circle pergaulan yang eksklusif di kelas.

Langkah berikutnya adalah membangun kebersamaan melalui berbagai simulasi yang dipraktikkan langsung di kelas. Misalnya, kerja kelompok dengan anggotanya random, bisa dua-dua, atau tiga-tiga, yakni mereka dikondisikan untuk selalu kompak. Para siswa juga bisa secara bergilir bergantian memimpin kelas, bergilir duduk dengan kawannya secara random untuk menghilangkan prasangka satu dengan yang lain.

Berikutnya, menyampaikan pada semua anak akan pengertian bullying, bentuk-bentuknya, dan bahayanya pada korban bullying. Rata-rata, para pelaku tidak paham apabila tindakan mereka itu terkategori bullying dan tidak paham kondisi psikis kawan mereka yang jadi korban bahwa kawannya bisa terluka begitu parah meski hanya dengan kata-kata atau mengucilkannya.

Apabila Anda orang dewasa, orang tua, pendidik, membaca artikel ini, segeralah evaluasi dan pantau lingkungan pergaulan anak-anak atau para siswa dengan saksama. Mencegah itu lebih baik ketimbang mengobati. Dalam banyak kasus, bullying tidak bisa lagi diobati dan biasanya kondisi korban makin mengenaskan. [MNews/Rgl]

Sumber artikel: Web Iwan Januar

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *