Penulis: Asy-Syifa Ummu Sidiq
Muslimah News, OPINI — Siapa yang tidak kenal monkeypox? Sebuah penyakit langka yang kini menyebar ke 90 negara. Penyakit ini juga disebut sebagai cacar monyet karena awal ditemukan pada binatang monyet pada 1958. Kemudian, pada 1970 menular ke manusia, ditemukan di Kongo. Pada 2022 ini, kasus monkeypox sangat pesat penyebarannya.
Pada 23/07/2022, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah ini sebagai darurat kesehatan internasional. Sebulan setelah penetapan darurat tersebut, wabah ini mulai terindikasi masuk Indonesia.
Berawal dari 23 suspek monkeypox, hasilnya ditemukan 1 orang yang positif. Dari riwayatnya, diketahui ia telah melaksanakan perjalanan ke luar negeri (Eropa). (Republika, 27/08/2022).
Kurangnya Antisipasi
Setelah munculnya kasus pertama monkeypox, Bandara Soekarno-Hatta melakukan penjagaan ketat. Beragam peralatan disiapkan, hingga ruang isolasi pun disediakan. Semua dilakukan untuk mengendalikan penyebaran virus ini. Pertanyaannya, mengapa hal ini tidak disiapkan jauh-jauh hari sebelum wabah ini datang?
Seharusnya, kita belajar dari peristiwa masuknya Covid-19 beberapa waktu lalu. Pihak yang bertugas, kebobolan dengan masuknya seorang penderita Covid-19. Dari sini kemudian virus itu menyebar ke seluruh Indonesia dan memakan korban yang cukup banyak.
Meskipun monkeypox tidak seganas Covid-19, tetap saja merupakan penyakit menular yang bisa menyerang siapa saja yang kontak dengan penderita. Jadi, perlu ada antisipasi lebih awal, sedia payung sebelum hujan. Cepatnya virus ini masuk Indonesia memperlihatkan bahwa tidak adanya upaya serius pihak berwenang untuk mencegah virus itu masuk.
Berani Memutuskan
Negara bertanggung jawab terhadap ratusan juta penduduknya. Sudah menjadi kewajiban bagi mereka untuk mengadakan persiapan pencegahan awal. Diketahui, virus ini menular dari kontak langsung dan benda-benda yang terkontaminasi monkeypox. Oleh karenanya, negara harus bisa menghilangkan penyebabnya, salah satunya dengan melarang perjalanan ke luar negeri, terutama ke negara-negara yang mengalami darurat monkeypox.
Keputusan ini memang akan berdampak negatif di bidang lain, terutama transportasi. Perjalanan ke dalam maupun luar negeri akan berkurang. Akan tetapi, kesehatan rakyat jauh lebih penting daripada masalah ekonomi. Kalau uang bisa dicari, tetapi kesehatan itu mahal harganya. Negara diharapkan bisa bersikap tegas. Jangan sampai kesalahan penanganan Covid-19 kembali terulang.
Belajar dari Pemimpin Muslim
Contoh penanganan wabah yang benar sebenarnya sudah berkali-kali disampaikan. Sebagaimana saat Khalifah Umar bin Khaththab menghadapi wabah kolera di Syam. Kala itu, sang Khalifah mengadakan perjalanan menuju Syam. Namun, di tengah jalan, beliau mendapat kabar bahwa wabah kolera sedang melanda negeri tersebut. Menanggapi hal itu, Khalifah Umar akhirnya memutuskan untuk kembali ke Madinah dan membatalkan perjalanan menuju Syam.
Rasulullah saw. juga telah memberikan contoh cara menghadapi wabah, yakni pada saat terjadi wabah kusta/lepra. Saat itu, Rasulullah saw. menerapkan karantina total pada daerah yang terkena wabah. Rasulullah saw. bersabda,
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُدِيمُوا النَّظَرَ إِلَى الْمَجْذُومِينَ
“Janganlah berlama-lama memandangi orang yang terkena penyakit lepra.” (HR Ibnu Majah)
Di riwayat lainnya juga bersabda,
إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلَا تَدْخُلُوهَا وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا مِنْهَا
“Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, janganlah kalian memasukinya. Akan tetapi, jika terjadi wabah di tempat kamu berada, jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Kembali pada Islam
Sebagai orang beriman yang memiliki tanggung jawab besar, sudah selayaknya para pemimpin muslim belajar dari sejarah. Jangan sampai kasus Covid-19 kembali terulang.
Kaum muslim harusnya sadar dan kembali pada Islam. Jangan sampai karena pertimbangan ekonomi, kita mengorbankan keselamatan rakyat.
Allah Taala berfirman,
(وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ)
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-An’am: 153)
Semoga semua ini membuat seluruh kaum muslim sadar bahwa sudah saatnya kita berbenah menuju sistem Islam. Wallahualam. [MNews/Gz]
