Muslimah News, DUNIA REMAJA — Hidup itu asyik kalau kita punya tantangan. Ibarat main game online, ada dorongan untuk membereskan setiap levelnya agar terus naik dan sampai jadi jawara. Biar kata kalah berkali-kali, pantang menyerah untuk terus mencoba dan mencoba sampai ketemu pola suksesnya untuk lewati setiap level. Seru!
Gengsi dan Nilai Hidup
Tantangan dalam hidup enggak akan muncul kalau kita tidak punya tujuan yang ingin dicapai. Bagi remaja, tujuan hidupnya enggak jauh dari eksistensi. Untuk itu, mereka rajin berselancar di dunia maya. Setiap hari berkelana ngubek-ngubek media sosial, kepoin akun artis idola, atau sekadar cari hiburan semata.
Akan tetapi, kebanyakan, remaja sering menjadikan posting media sosial jadi rujukan untuk mengukur nilai hidupnya. Diri remaja dibuat mupeng tingkat dewa dengan gaya hidup mewah yang tersaji bebas dan vulgar di lini masa akun media sosial mereka. Pengen ngerasain jalan-jalan keluar negeri, seperti posting teman sekolahnya. Pengen punya gadget keren dan canggih biar foto selfi-nya enggak burem. Pengen tampil all out dengan tren fashion kekinian agar konten fotonya banjir like, pujian, dan viral.
Tanpa disadari, nilai hidup remaja banyak didominasi untuk meraih prestise alias gengsi dibanding mengukir prestasi. Mereka berlomba-lomba beraksi agar dapat decak kagum manusia, meski harus menghalalkan segala cara.
Enggak heran kalau banyak remaja yang terjerumus dalam dunia kriminal hanya karena gengsi. Di Malang, seorang remaja tidak lulus SD berinisial An (16), terpaksa berurusan dengan polisi. Ia tertangkap usai mencuri laptop di SMPN 2 Bululawang, Kabupaten Malang pada Jumat (31/08/2018) dan ia pun dijebloskan ke penjara. Kepada polisi, ia mengaku barang-barang curian itu tidak dijual, melainkan ia gunakan sendiri. “Gengsi, teman-teman punya, hanya saya yang enggak,” katanya dengan wajah tertunduk. (Liputan6, 09/09/2018).
Sementara itu, di Tasikmalaya, remaja berinisial R (17) asal Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya, membawa kabur mobil mewah anggota polisi supaya terlihat keren oleh rekan komunitasnya sesama g4y atau penyuka sesama lelaki. Remaja ini mengaku ingin diakui sebagai orang kaya di komunitas g4y Tasikmalaya. Namun, pelaku sebenarnya berasal dari keluarga kurang mampu. (Tribunnnews, 12/08/2020).
Rasa gengsi yang overdosis juga bisa menjerumuskan remaja pada gaya hidup konsumtif. Mereka membiasakan diri beli barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan demi meningkatkan derajat dan gengsi saja. Duit kagak punya, mati-matian pengen bergaya. Beli barang kw sudah biasa. Bukan karena kebutuhan, tetapi keinginan semata.
Dalam kesehariannya, banyak remaja yang menghabiskan uang jajan mereka untuk membeli makanan, pakaian, perangkat elektronik, ataupun hiburan, seperti menonton film dan sebagainya. Semuanya dilakukan hanya untuk ajang pamer dan gengsi saja, agar kedongkrak status media sosialnya.
Menurut para psikolog, gengsi pada seseorang umumnya timbul akibat rasa tidak percaya diri dan rasa malu untuk mengakui kelemahan diri sendiri. Oleh karenanya, setiap remaja pengen kelihatan eksis, enggak mau ketinggalan zaman, dan berusaha mengikuti tren yang lagi hit.
Repotnya, gengsi bikin remaja menggerus nilai hidupnya hanya untuk dapat penilaian manusia. Bukan bahagia yang didapat, malah sengsara karena hidup enggak apa adanya. Ngenes, Bro!
Prestasi Pemuda Zaman Nabi
Wajar kalau remaja pengen eksis lantaran sudah jadi bagian dari proses pencarian jati diri. Ini juga terjadi pada para pemuda zaman Nabi. Bedanya, para pemuda mulia ini pengen eksisnya bukan demi gengsi, apalagi agar populer dan menuai decak kagum dari manusia. Enggak banget!
Yang ada, eksistensi jiwa mudanya mereka curahkan dalam dakwah Islam. Semata-mata pengen hidupnya penuh keberkahan dan diridai Allah Taala.
—
Berikut beberapa pemuda zaman Nabi yang berprestasi yang steril dari rasa gengsi.
Pertama, Usamah bin Zaid, panglima perang termuda. Usamah merupakan salah satu sahabat yang dekat dengan Nabi Muhammad saw. secara personal. Ayah Usamah, Zaid bin Harits, adalah pelayan yang kemudian menjadi anak angkat Nabi Muhammad.
Ketika usia Usamah beranjak dewasa, Nabi Muhammad menunjuknya menjadi panglima perang yang memimpin pasukan umat Islam melawan Romawi Timur (Byzantium). Dalam buku Perang Muhammad, Kisah Perjuangan dan Pertempuran Rasulullah yang ditulis Nizar Abazhah, peristiwa ini terjadi pada awal Safar tahun ke-11 H atau saat Usamah berusia 17 tahun. Penyerangan tersebut dimaksudkan sebagai pertahanan agar Romawi Timur (Byzantium) tidak lagi berpikir untuk menyerang Madinah.
—
Kedua, Zaid bin Tsabit, pemuda cerdas penerjemah Rasulullah. Zaid bin Tsabit mengatakan, “Aku dipertemukan dengan Nabi saat beliau tiba di Madinah. Ada yang mengatakan, ‘Ini adalah seorang anak dari Bani Najjar. Ia telah menghafal 17 surat (di riwayat sebelumnya 16).’ Aku pun membacakannya di hadapan beliau. Beliau sangat terkesan. Lalu beliau berkata, ‘Pelajarilah bahasa Yahudi (bahasa Ibrani). Sesungguhnya aku tidak bisa membuat mereka beriman dengan kitabku.’ Aku pun melakukan apa yang beliau minta. Berlalulah waktu tidak lebih dari setengah bulan, aku pun menguasainya. Kemudian aku menulis surat Nabi kepada mereka. Apabila mereka yang mengirimkan surat kepada beliau, akulah yang menerjemahkan.”
Dari Tsabit bin Ubaid, dari Zaid bin Tsabit, ia berkata bahwa Rasulullah berkata kepadanya (Zaid), “Apakah engkau bisa bahasa Suryaniyah?” “Tidak,” jawabku. “Pelajarilah! Sungguh nanti akan datang surat-surat kepada kita,” pinta Rasulullah. Aku pun mempelajarinya dalam rentang waktu 17 hari.
—
Ketiga, Abdullah bin Abbas. Beliau merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad saw. yang “gila” ilmu pengetahuan. Ia tidak pernah bosan menggali ilmu sejak usia muda. Umar bin Khaththab bahkan menyebutnya sebagai pemuda yang matang, mempunyai lisan yang gemar bertanya, dan hati yang cerdas.
Ibnu Abbas—begitu ia biasa dipanggil—sejak kecil akrab dengan kehidupan Rasulullah saw. sehingga hari-harinya selalu dipenuhi dengan ilmu yang ia dapat dari Nabi. Saat Rasul wafat, usianya menginjak 13 tahun. Lalu ia mendatangi para sahabat senior untuk terus belajar ilmu agama.
Tidak heran jika Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih cepat mengerti, lebih kuat akalnya, lebih banyak ilmunya, dan lebih luas kesantunannya, melebihi Ibnu Abbas.”
Kejar Prestasi, Tinggalkan Gengsi
Becermin dari para pemuda zaman Nabi, kita bisa belajar tentang proses seharusnya hidup dijalani. Bukan untuk berlomba mengejar gengsi, melainkan ngotot untuk mengukir prestasi. Tidak harus berhasil di bidang akademi, tetapi keberadaan kita bermanfaat bagi orang lain. Itulah hakikat prestasi bagi seorang muslim.
Lantas, apa yang mesti kita lakukan untuk mengukir prestasi pada usia remaja? Berikut langkah-langkah yang bisa kita lakukan.
—
Pertama, meluruskan niat. Rasul saw. mendorong kita untuk menjadi sebaik-baiknya manusia, yaitu yang memberikan manfaat bagi umat sehingga kehadiran kita bisa menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah.
Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam mengukir prestasi, satu hal yang mesti kita ingat kalau tujuan mulia tidaklah menghalalkan cara. Meski kita punya niat untuk berbakti kepada orang tua atau membahagiakan orang-orang yang kita cinta, bukan berarti boleh pakai jalan apa saja agar bisa juara. Apalagi sampai bela-belain mengumbar aurat dalam berbagai kontes kecantikan, menyelami kehidupan hedonis dunia selebritas, atau mendulang popularitas di ajang pemilihan idola yang steril dari aturan Islam. Kita pastinya enggak mau dong kalo prestasi yang kita raih enggak “dilirik” oleh Allah Swt.. Betul?
Fudhail bin Iyadh, salah seorang guru Imam Syafii menjelaskan tentang definisi amal yang baik, seperti tercantum dalam firman Allah Swt., “Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS Al-Mulk [67]: 2)
Beliau mengatakan, “Yaitu yang paling ikhlas dan paling benar.” Ketika ditanyakan, “Wahai, Abu Ali, apa maksud paling ikhlas dan paling benar?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya suatu amal sekalipun benar, tetapi tidak dikerjakan dengan ikhlas, maka amal tersebut tidak akan diterima. Sebaliknya, jika dikerjakan dengan ikhlas, tetapi tidak dengan cara yang benar, amal tersebut juga tidak akan diterima. Ikhlas hanya terwujud manakala amal itu diniatkan secara murni kepada Allah Swt., sedangkan amal yang benar hanya dapat terwujud dengan mengikuti sunah Nabi saw..”
—
Kedua, tetapkan prestasi yang ingin diraih. Agar terbayang jalan yang akan ditempuh, kita mesti tetapkan prestasi apa yang mau diukir. Jangan sampai kegiatan kita untuk meraih prestasi nyasar ke mana-mana lantaran godaan di tengah jalan bakal banyak banget. Dengan menetapkan tujuan yang ingin diraih, akan membantu kita menjaga keteguhan kita dalam mengukir prestasi.
Kalau kita mau jadi penulis, vlogger, desainer, public speaker, yang profesional untuk menunjang dakwah, berapa lama proses yang akan dijalani? Satu tahun? Dua tahun? Tiga tahun? Tetapkan waktunya agar kita bisa menyusun langkah-langkahnya lebih terarah dan terukur.
—
Ketiga, fokus sampai menghasilkan karya. Kalau tujuan prestasi yang mau kita ukir sudah ditetapkan, tekuni bidang yang digeluti. Ada yang suka menulis, jurnalis, nge-vlog, atau desain gambar. Apa pun bidang yang kamu geluti saat ini, tekuni sampai menghasilkan karya. Tentu saja bukan hanya karya yang menunjang kepuasan pribadi semata, tetapi karya yang bernilai pahala.
Fokus berarti serius. Bentuknya, kita bisa belajar otodidak skill yang mau kita asah dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi. Bisa menonton video YouTube atau baca buku yang berhubungan dengan skill kita. Bisa juga kita temui orang yang kita anggap berhasil dan berprestasi dalam bidang yang sama agar bisa belajar proses yang mereka jalani, seperti yang dilakukan oleh sahabat Abdullah bin Abbas.
—
So, ukirlah prestasi dalam bidang yang kita tekuni. Murnikan niat kita dalam berprestasi semata-mata mengharapkan rida-Nya, bukan untuk sebuah prestise bin gengsi yang menuai sanjung puji dari manusia.
Enggak lupa, raihlah prestasi dengan jalan yang diridai-Nya tanpa harus menggadaikan keimanan, keislaman, dan kemuliaan harga diri kita sebagai muslim agar kita enggak mudah tergoda oleh iming-iming materi dan popularitas dalam berprestasi.
Ayo kita perkokoh benteng akidah dengan mengaji, mengenali Islam lebih dalam, dan berani menjadi muslim sejati. Raih prestasi, tinggalkan gengsi. Go! [MNews]
Sumber artikel: Buletin Teman Surga Edisi 141
Foto sampul: Unsplash
