Mengenal Sosok Ulama Ibnu Hazm al-Andalusi

Mengenal Sosok Ulama Ibnu Hazm al-Andalusi

Penulis: Nabila Asy Syafi’i

Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Seorang ulama bernama Ibnu Hazm al-Andalusi mengatakan dalam kitabnya Al-Akhlaq wa as-Siyar fi Mudawati an-Nufus, “Setiap harapan yang berhasil Anda raih selalu berujung pada kesedihan, baik karena ia telah meninggalkan Anda atau Anda yang meninggalkannya, kecuali amal perbuatan yang didedikasikan untuk Allah. Ini karena segala hal akan berujung pada kebahagiaan, baik cepat ataupun lambat. Dalam waktu cepat, pelakunya tidak banyak punya obsesi yang menjadi obsesi banyak orang. Dalam waktu yang akan datang, ia akan mendapat surga-Nya. Jangan korbankan dirimu, kecuali untuk meraih yang lebih tinggi. Hal itu hanya ada pada Allah dengan dakwah ila al-Haq. Oleh karena itu, orang yang cerdas hanya melihat dirinya dihargai dengan surga.” Ini adalah sepenggal kalimat hikmah dari seorang ulama yang ikhlas. Kata-katanya mengandung nasihat mulia yang tidak lekang oleh zaman. Karyanya selalu diingat dari generasi ke generasi.

Ketika peradaban Islam menguasai dunia dengan institusi Khilafah, perkembangan ilmu pengetahuan termasuk perkembangan tsaqafah Islam sangat pesat, bahkan menjadi mercusuar dunia. Tatkala Eropa masih dalam masa kegelapan, nun jauh di ujung Eropa, Andalusia (kini Spanyol), dalam masa keemasan di bawah pemerintahan Islam. Banyak ulama dan pemikir tumbuh dari negara tersebut di antaranya adalah Ibnu Hazm.

Mengenal Sosok Ibnu Hazm

Ibnu Hazm bernama lengkap Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Said bin Hazm. Bernama kunyah Abu Muhammad, tetapi ia lebih dikenal dengan nama Ibnu Hazm. Ia dilahirkan pada hari terakhir Ramadan 384 H di Cordoba. Ia wafat pada dua hari terakhir Syakban 456 H dalam usia 71 tahun di Lablah, dekat Sevilla. Ayahnya adalah salah seorang tokoh besar di Qurtubah yang pernah menjabat sebagai menteri pada masa pemerintahan Ad-Daulah al-‘Amiriyyah. Oleh karenanya, Ibnu Hazm tumbuh dan besar di lingkungan keluarga yang mapan dan berkecukupan.

Di samping itu, Allah Swt. menganugerahkan kepadanya kecerdasan luar biasa dan daya ingat yang tajam. Kedua nikmat ini tidak membuatnya lalai atau bermalasan. Ibnu Hazm sangat gigih menuntut ilmu. Pada awalnya, ia mendalami sastra, sejarah, puisi, logika (mantik), dan bagian dari filsafat. Hal ini sempat memengaruhinya hingga ia menulis karya yang mengajak untuk mempelajari logika dan mendahulukannya atas ilmu-ilmu lain. Namun, kemudian ia meninggalkan jalan tersebut dan memusatkan perhatiannya pada ilmu-ilmu syar‘i.

Imam Adz-Dzahabi dalam kitab Siyaru A’lami an-Nubala menceritakan sebuah kisah tentang kapan dan mengapa Ibnu Hazm al-Andalusi mulai belajar ilmu fikih. Dengan sanad kisah yang sampai kepada Ibnu Hazm, Imam Syamsuddin adz-Dzahabi memulai ceritanya, “Orang tua Imam Abu Bakar ibnu al-‘Arabi yang bernama Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad mendengar cerita Ibnu Hazm sendiri tentang sebab dirinya belajar ilmu fikih, yakni karena suatu hari ia menghadiri salat jenazah. Ia masuk ke masjid dan duduk tanpa salat, lalu seseorang berkata kepadanya, ‘Berdirilah dan salatlah tahiyyatul masjid.’

Saat itu usianya telah mencapai 26 tahun. Ia berkata, ‘Maka aku pun bangkit dan salat. Setelah kami kembali dari salat jenazah, aku masuk masjid, lalu segera salat tahiyyatul masjid. Kemudian ada yang berkata kepadaku, ‘Duduklah, duduklah! Ini bukan waktu salat.’ Saat itu setelah Asar. Aku pun pulang dengan perasaan sedih. Aku berkata kepada guru yang membesarkanku, ‘Tunjukkan kepadaku rumahnya fakih Abu Abdullah bin Dahhun.’ Aku pun mendatanginya dan memberitahukan apa yang terjadi. Ia lalu menunjukkan kepadaku kitab Al-Muwaththa’karya Imam Malik. Aku mulai mempelajarinya, lalu terus membacanya dan kepada selainnya selama kurang lebih tiga tahun.’” 

Ibnu Hazm berguru kepada banyak ulama pada masanya. Ia mulai serius menekuni belajar hadis pada 400 H. Di antara guru-guru Ibnu Hazm adalah Yahya bin Mas‘ud bin Wajh al-Jannah (guru tertingginya), murid Qasim bin Ashbagh, Abu ‘Umar Ahmad bin Muhammad bin al-Jasur, Yunus bin Abdullah bin Mughits al-Qadhi, Hammam bin Ahmad al-Qadhi.

Ibnu Hazm juga menulis banyak kitab. Menurut pengakuan putranya, Abu Rafi’ al-Fadli bin Ali, sebagaimana yang tertera dalam kitab Al-Muhalla bi al-Atsar, sepanjang hidupnya, Ibnu Hazm al-Andalusi sempat menulis lebih kurang 400 judul kitab yang meliputi lebih kurang 80.000 halaman.

Sejumlah ulama berpendapat tentang luasnya ilmu Ibnu Hazm. Di antaranya Al Hafidz adz-Dzahabi mengatakan, “Imam yang tunggal, lautan ilmu, pemilik berbagai bidang keahlian.” Adapun Imam Abu al-Qasim Sha‘id bin Ahmad berkata, “Ibnu Hazm adalah orang yang paling menguasai seluruh ilmu Islam di seluruh Andalusia dan yang paling luas pengetahuannya. Ia juga memiliki keluasan dalam ilmu bahasa, bagian besar dari balaghah dan syair, serta pengetahuan mendalam tentang sejarah dan berita. Putranya, Al-Fadhl, mengabarkan kepadaku bahwa ia memiliki tulisan tangan ayahnya, Abu Muhammad, dari karya-karyanya yang berjumlah 400 jilid, mencakup hampir 80.000 lembar.”

Abu ‘Abdillah al-Humaidi berkata, “Ibnu Hazm adalah seorang penghafal hadis yang memahami fikihnya. Ia mampu menyimpulkan hukum dari Al-Qur’an dan Sunah, menguasai banyak cabang ilmu, dan mengamalkan ilmunya. Kami tidak pernah melihat orang yang sepertinya dalam hal kecerdasan, kecepatan hafalan, keluhuran jiwa, dan ketakwaan. Dalam sastra dan syair, ia berbakat luas dan berkemampuan tinggi. Aku tidak pernah melihat seseorang yang dapat membuat syair secara spontan lebih cepat darinya. Syairnya sangat banyak. Aku telah mengumpulkannya berdasarkan urutan huruf Hijaiah.”

Adapun kitab dari karya Ibnu Hazm yang populer antara lain Kitab Al-Akhlaq wa as-Siyar fi Mudawati an-Nufus. Kitab ini adalah karya dalam bidang akhlak dan tashfiyah an-nafs (penyucian jiwa). Kitab ini berisi nasihat moral, adab, dan panduan memperbaiki diri, ditulis dengan gaya renungan dan pengalaman pribadi beliau. Ada pula kitab Al-Mujalla dalam fikih. Kitab fikih ini memuat pendapat-pendapatnya berdasarkan mazhab Ẓahiriyyah, berpegang pada zahir nash tanpa qiyas. Kitab ini ringkas, menjadi dasar bagi karyanya yang lebih besar, Al-Muḥalla.

Adapun kitab Al-Muḥalla (syarah atau penjelasan) atas Al-Mujalla dilengkapi dalil Al-Qur’an, hadis, dan atsar sahabat, beserta bantahan terhadap pendapat yang berbeda. Kitab Al-Ihkam li-Uṣul al-Aḥkam adalah kitab ushul fikih yang menjelaskan kaidah-kaidah istinbat (penetapan hukum Islam) menurut metode Ẓahiriyyah.

Ada pula kitab Al-Faṣl fi al-Milal wan-Niḥal. Ini kitab akidah dan perbandingan agama, membahas berbagai aliran dan sekte dalam Islam maupun agama-agama lain. Selanjutnya ada kitab Tawq al-Hamamah. Kitab ini berisi sastra secara umum, membahas tentang hakikat cinta dan berbagai bentuk pengalaman manusia yang berkaitan dengan perasaan tersebut. Ibnu Hazm menulis kitab ini berdasarkan pengamatan terhadap kehidupan masyarakat di Andalusia, serta pengalaman yang ia temui dalam kehidupan sehari-hari.

Ibnu Hazm al-Andalusi bukan hanya seorang ulama. Ia juga seorang politikus ulung dan menteri yang cakap. Asam garam dunia perpolitikan pernah ia alami. Ia mengalami semua tragedi di Cordova, pernah dipenjara, meskipun kemudian dilepaskan kembali. Saat Andalusia dikuasai dan diperintah oleh para Muluk Thawai’if, perselisihan tajam terjadi antara Ibnu Hazm dengan penguasa hingga akhirnya ia diintimidasi dan diusir. Akhirnya ia bermukim di Lablah hingga wafat.

Ibnu Hazm al-Andalusi adalah seorang ulama besar yang karyanya akan dikenang sepanjang zaman. Meskipun Spanyol sekarang lepas dari dekapan Islam, insyaallah suatu saat nanti akan kembali ke pangkuan Islam dalam persatuan umat Islam di bawah kepemimpinan tunggal, yakni Khilafah Rasyidah berdasarkan metode kenabian. [MNews/YG]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *