Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Asy-Sya’bi dikenal sebagai seorang ahli hadis yang sangat kompeten. Ia mengajar di Masjid Kufah dan majelisnya selalu ramai karena para pendengar tidak pernah merasa jenuh. Pernah suatu ketika ia ditunjuk untuk memimpin lembaga peradilan di Kufah. Gubernur Ibnu Hubairah al-Fazari berkata kepadanya, “Aku menyerahkan urusan pengadilan ini kepadamu dan aku ingin engkau hadir setiap malam untuk berdiskusi bersama kami.”
Asy-Sya’bi menjawab, “Aku tidak sanggup menjalankan keduanya sekaligus. Tugaskanlah kepadaku salah satunya saja.” Maksudnya adalah ia memilih antara memimpin pengadilan atau menjadi teman diskusi malam hari. Ibnu Hubairah pun menerima permintaan tersebut.
Dalam hal keilmuan, kedudukan Asy-Sya’bi berada pada tingkat yang hanya dicapai oleh segelintir ulama pada masanya. Imam Az-Zuhri menyatakan, “Ulama besar pada masa itu hanya empat, yakni Sa’id bin Musayyab di Madinah, Amir Asy-Sya’bi di Kufah, Hasan al-Bashri di Bashrah, dan Makhul di Syam.”
Suatu ketika seseorang bertanya kepada Asy-Sya’bi, “Bagaimana engkau bisa mencapai tingkat keilmuan seperti ini?” Ia pun memberikan jawaban yang menjadi pedoman berharga bagi generasi setelahnya, yakni generasi yang kuat dan dicintai Allah Taala.
Asy-Sya’bi berkata, “Dengan tidak bergantung kepada diri sendiri, bepergian ke berbagai negeri, bersabar seperti sabarnya benda mati, dan bersegera seperti burung gagak.” (Hepi Andi Bastoni, Kisah 101 Tabiin hlm.160)
Hikmah
Keteladanan para ulama tabiin dalam memburu ilmu, memahami makna, serta mengamalkannya dalam kehidupan sangat patut dicontoh. Mereka bersungguh-sungguh menghadiri halakah dan majelis ilmu gurunya. Kesungguhan itu berbuah manis. Mereka menjadi ulama sekaligus pendakwah yang tsiqah dan amanah.
Berikut ini beberapa hikmah yang dapat kita ambil dari kisah Asy-Sya’bi. Pertama, tidak mengandalkan kemampuan diri semata. Kekuatan hafalan dan kecerdasan tidak cukup untuk meraih ilmu. Pertolongan dan izin Allah Swt. adalah fondasi utama. Oleh karena itu, seorang penuntut ilmu harus senantiasa memohon bantuan kepada Allah Taala, melakukan ketaatan kepada-Nya, dan tidak berbuat maksiat.
Kedua, menuntut ilmu dengan serius dan sungguh-sungguh.Para ulama terdahulu rela menempuh perjalanan jauh demi bisa belajar. Imam Syafi’i, misalnya, menempuh perjalanan 500 km untuk menimba ilmu. Namun, perjalanan harus membawa manfaat. Jadikanlah setiap langkah menghadiri majelis ilmu, tempat halakah, atau kajian sebagai saksi atas keseriusan kita dalam menuntut ilmu. Niatkan mencari ilmu untuk memahami ilmu Allah serta meraih rida-Nya, bukan untuk berbangga atau meraih ketenaran.
Nabi ﷺ mengingatkan dalam sabda beliau, “Barang siapa menuntut ilmu hanya ingin digelari ulama, untuk berdebat dengan orang bodoh, supaya dipandang manusia, maka silakan ia mengambil tempat duduknya di neraka.” (HR Hakim)
Ketiga, bersabar seperti sabarnya benda mati.Asy-Sya’bi memberi perumpamaan, kursi lebih sabar daripada orang yang mendudukinya. Generasi hari ini sering kali kurang sabar, tidak tahan belajar lama, tidak kuat menempuh perjalanan jauh, dan tidak siap dibimbing dengan ketegasan. Ingatlah nasihat Imam Syafi’i, “Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru. Sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya.”
Keempat, cekatan seperti elang yang memburu mangsa.Penuntut ilmu harus sigap, tidak lambat atau malas. Rasulullah ﷺ bersabda, “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih Allah cintai daripada seorang mukmin yang lemah dan masing-masing berada dalam kebaikan. Bersungguh-sungguhlah pada perkara-perkara yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu bersikap lemah.” (HR Muslim).
Keempat hal itulah menurut Asy-Sya’bi yang menjadi landasan penting dalam memahami ilmu. Semoga kita dapat memetik pelajaran dari para ulama dan mengamalkannya dalam kehidupan, baik sebagai pembelajar, pengajar, pendidik, dan pembina umat agar memahami Islam secara tepat. [MNews/CJ-YG]
