[Keuangan Global] Cacat Sistemis dalam Kapitalisme (Bagian 2/5)

[Keuangan Global] Cacat Sistemis dalam Kapitalisme (Bagian 2/5)

Penulis: Jamal Harwood

Sambungan dari “Cacat Sistemis” Bagian 1/5.

Muslimah News, TELAAH KITAB — Nilai PDB AS mencapai US$14 triliun. AS sendiri adalah negara debitur terbesar dengan defisit negara mencapai lebih dari US$10 triliun. Defisit anggarannya pada tahun mendatang bisa menggelembung hingga lebih dari US$1 triliun, khususnya dengan adanya paket stimulus yang dijanjikan oleh presiden baru, Barack Obama.

Tumbuh kegelisahan seputar kurangnya transparansi dalam kebijakan-kebijakan pemerintah. Bloomberg (10-11-2008) melaporkan, “Bank Sentral AS menolak untuk mengidentifikasi penerima bantuan darurat hampir US$2 triliun dari uang pajak rakyat AS atau pemilik aset-aset bermasalah yang oleh Bank Sentral diterima sebagai jaminan. Kegelisahan itu tidak reda meskipun ada jaminan yang diberikan ke kongres tentang transparansi program penyelamatan perbankan senilai US$700 miliar tersebut. Dua bulan kemudian, Bank Sentral meminjamkan lebih banyak lagi dana dalam program-program penyelamatan terpisah yang tidak membutuhkan persetujuan kongres. Rakyat Amerika tidak tahu dibawa ke mana uang mereka atau jaminan apa yang diberikan oleh bank-bank itu.”

Dr Ronald Solberg dari Armored Wolf Asset Managers menggarisbawahi bahwa pemerintah AS telah berubah menjadi sebuah bank. Hal terparah adalah tindakannya yang meminjamkan dana tanpa ada jaminan sama sekali.

Anggaran neraca Bank Sentral meningkat secara drastis. Delapan pekan sebelum Oktober 2008, basis moneter tumbuh 38% ke angka US$1.142 triliun dan tidak ada tanda-tanda akan turun. Akan tetapi, dana cadangan yang disuntikkan ke dalam anggaran neraca bank-bank tidak pernah diumumkan kepada para pemangku kepentingan di bidang ekonomi.

Bank-bank menggunakan dana tunai untuk memperbaiki dan menyusutkan anggaran neraca mereka, yaitu dengan menghapus kredit-kredit macet mereka. Dengan demikian ada banyak pertanyaan seputar efektivitas skema penyelamatan perbankan itu dan kecepatan krisis kredit tersebut akan berakhir setelah bank-bank mengurangi utang-utang dan menghapus angka-angka kerugian mereka.

Komitmen untuk melakukan segala yang diperlukan guna menyelamatkan perekonomian dari kehancuran total dan tamatnya riwayat lembaga-lembaga keuangan AS tidak lagi dipertanyakan. Sumber dana sebanyak itu menjadi tidak jelas. Pemerintah AS dihadapkan pada pilihan, pembatasan besar-besaran terhadap pengeluaran untuk program-program sosial, kesehatan dan kesejahteraan, peningkatan pajak secara dramatis, peningkatan nilai pinjaman dari negara lain, atau pencetakan uang baru sebanyak mungkin.

Dua opsi pertama yang melibatkan pembatasan anggaran belanja dan peningkatan pajak tidak dapat dipertahankan dan tidak dapat menghasilkan triliunan dana yang dibutuhkan. Dengan demikian, uang itu akan datang dengan cara pinjaman luar negeri termasuk menerbitkan surat obligasi oleh Departemen Keuangan AS, maupun dengan jalan mencetak uang yang secara efektif akan menyebabkan devaluasi mata uang dan menaikkan inflasi.

Patut dipertanyakan apakah pemerintahan negara-negara asing akan terus memberikan pinjaman dana kepada AS, khususnya setelah daya beli pasar AS terhadap barang-barang dari China dan Jepang menurun drastis. Pemerintah China yang telah memegang obligasi AS senilai US$1,8 triliun juga mungkin tidak berniat meningkatkan jumlah dolar yang dikuasainya karena mata uang itu akan segera jatuh nilainya.

Jika pemerintah AS gagal mendapat dana dari sumber-sumber luar negeri, tidak ada alternatif lain selain meningkatkan pasokan uang AS secara masif yang pada gilirannya akan menyebabkan inflasi atau hiperinflasi. Tindakan pemerintah membeli kredit-kredit macet membuat posisi pemerintah sendiri menjadi lebih berisiko untuk hadirnya investasi.

Ini karena pemerintah sendiri menjadi rapuh dan berpotensi pailit. Risiko ini menjadi lebih besar lagi dibandingkan masa awal krisis karena perekonomian Barat mengalami penurunan pajak dan peningkatan belanja publik. Dengan demikian, krisis finansial mempercepat laju krisis ekonomi yang berujung pada krisis politik.

Absurditas Siklus Bisnis: Menggelembung, lalu Meledak

Jika satuan meter, gram, dan detik tetap konstan, mengapa satuan dolar senantiasa berubah? Satuan meter, gram, dan detik adalah satuan-satuan dari kuantitas fisik yang bersifat stabil. Adapun satuan dolar adalah satuan yang bersifat semu dan digunakan sebagai ukuran, padahal tidak ada kuantitas fisik stabil yang menopangnya dengan baik. Akan tetapi, karena saat ini mata uang tidak ditopang oleh sesuatu yang stabil dan nyata, sejumlah ‘orang yang cerdas’ (yang tidak ingin kehilangan jatah kue kekayaan) mendedikasikan hidup mereka untuk mengikuti pasar mata uang.

Dalam pandangan mereka, yang utama bukanlah masalah, melainkan peluang untuk menghasilkan laba yang lebih banyak lagi dan lagi. Sebagian orang mendapat keuntungan dengan cara memprediksi pergerakan-pergerakan pihak lain. Adapun sebagian yang lain benar-benar menjadi koreografer dari tarian itu sendiri.

Uang atau mata uang adalah satuan yang memiliki nilai. Dengan kata lain, rasio pertukaran suatu produk jasa dengan uang disebut sebagai “harga”. Patut diperhatikan bahwa “nilai tukar” atau nilai sebagaimana sering disebut adalah rasio/selisih pertukaran sesuatu dengan sesuatu yang lain. Adapun harga adalah mekanisme untuk menentukan nilai pertukaran tersebut. Akan tetapi, berbeda dengan pertukaran suatu barang dengan barang yang lain, bisa saja harga barang-barang naik atau turun pada suatu waktu tertentu. Dengan begitu harga suatu barang setara dengan nilai instrinsik barang tersebut.

Jika uang memiliki nilai tetap dalam bentuk yang stabil dan nyata (misalnya 1 unit uang senilai 1 gram emas), uang itu akan benar-benar menjadi satuan yang bersifat tetap, sama seperti ukuran meter atau detik. Selama lebih dari satu milenium, nilai uang didasarkan pada standar tertentu, yaitu emas. Selama itu pula uang menjadi alat pertukaran. Oleh karena itu, masyarakat luas memahami uang sebagai satuan untuk menentukan nilai sesuatu.

Sayangnya, penetapan nilai uang berdasarkan sesuatu yang stabil dan nyata itu kemudian dihapus pada akhir abad ke-20. Sejak saat itu, uang dianggap sebagai objek semata. Uang hanya memiliki nilai nominal yang bersifat khayalan atau tidak tetap. Nilai nominal uang tidak lagi didasarkan pada suatu rasio nilai tukar yang riil dengan barang atau jasa. Kemudian uang hanya didasarkan pada persepsi orang-orang atau para pedagang uang semata.

Dengan demikian, harga atau nilai sesuatu berfluktuasi mengikuti nilai khayal uang, sebanyak atau bahkan melebihi nilai atau manfaat barang atau jasa, atau “nilai manfaatnya”. Itulah yang terjadi di dunia kita saat ini. Oleh karenanya, tidak mengejutkan jika nilai nominal rumah Anda mengalami kenaikan ataupun penurunan. Selama lebih dari satu abad sudah terjadi pola nilai-nilai itu menggelembung dan meledak sekali setiap satu dekade selama lebih dari 150 tahun ini! [MNews/RY-YG]

Sumber: Jamal Harwood, Membedah Krisis Keuangan Global.

Share

2 thoughts on “[Keuangan Global] Cacat Sistemis dalam Kapitalisme (Bagian 2/5)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *